Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Hari dan Bulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari dan Bulan. Tampilkan semua postingan
Panduan Praktis Amalan di Bulan Dzulhijjah

Panduan Praktis Amalan di Bulan Dzulhijjah


Amalan di Bulan Dzulhijjah


"Panduan Praktis Amalan di Bulan Dzulhijjah" merupakan buku yang menyajikan panduan komprehensif mengenai berbagai amalan yang dapat dilakukan selama bulan Dzulhijjah. Buku ini ditulis dengan tujuan untuk membantu pembaca memaksimalkan ibadah dan amal kebaikan di bulan yang penuh berkah ini. Penulis berhasil menyusun materi dengan sistematis, memudahkan pembaca untuk memahami dan mengaplikasikan setiap amalan yang dijelaskan.
Sebagaimana diketahui bersama bahwa di antara salah satu ibadah mulia yang harus kita ilmui secara mendalam adalah amalan ibadah seputar bulan Dzulhijjah. Bagaimana tidak, pada bulan ini terkumpul berbagai amalan ibadah inti seperti shalat, puasa, haji dan lainnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: “Yang jelas, sebab keistimewaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah, karena pada bulan ini terkumpul ibadah-ibadah inti, seperti shalat, puasa, shadaqoh, haji, yang mana hal itu tidak didapati pada bulan yang lainnya”

Kekuatan Buku


Komprehensif dan Praktis: Buku ini menyajikan berbagai amalan mulai dari puasa, sedekah, hingga ibadah haji dan kurban dengan penjelasan yang rinci namun mudah dipahami. Panduan ini sangat membantu bagi mereka yang ingin meningkatkan kualitas ibadahnya di bulan Dzulhijjah.

Referensi yang Kuat: Penulis menyertakan banyak referensi dari Al-Qur'an dan Hadis, yang memberikan landasan yang kuat dan otoritatif untuk setiap amalan yang dianjurkan. Hal ini menambah kepercayaan pembaca terhadap keabsahan informasi yang disampaikan.

Bahasa yang Jelas dan Mudah Dipahami: Gaya penulisan yang digunakan sangat jelas dan lugas, sehingga bisa diikuti oleh berbagai kalangan, baik yang baru belajar agama maupun yang sudah memiliki pengetahuan mendalam.

Kelemahan Buku


Desain dan Tata Letak: Meski isi buku sangat bermanfaat, desain dan tata letaknya masih bisa ditingkatkan agar lebih menarik dan memudahkan pembaca dalam mencari informasi. Penambahan ilustrasi atau infografis mungkin akan membantu dalam menyampaikan pesan dengan lebih efektif.

Kedalaman Beberapa Topik: Beberapa amalan mungkin hanya dibahas secara garis besar tanpa mendetailkan praktik sehari-hari atau variasi yang bisa dilakukan. Tambahan contoh konkret dalam situasi nyata bisa memberikan gambaran yang lebih jelas bagi pembaca.

Daftar Isi


  • Muqaddimah
  • Definisi Bulan Dzulhijjah
  • Keutamaan Bulan Dzulhijjah
  • Takbir pada sepuluh hari pertama Bulan Dzulhijjah
  • Puasa Sunnah di Sepuluh pertama Bulan Dzulhijjah
  • Hari Arafah
  • Hari Raya Qurban
  • Hari Tasyriq
  • Haji
  • Memperbanyak Amalan Shaleh
  • Taubat
  • Penutup


Kesimpulan


"Panduan Praktis Amalan di Bulan Dzulhijjah" adalah buku yang sangat bermanfaat bagi mereka yang ingin memaksimalkan ibadah di bulan Dzulhijjah. Dengan penjelasan yang komprehensif, referensi yang kuat, dan bahasa yang mudah dipahami, buku ini layak dijadikan panduan bagi umat Islam. Meski ada beberapa aspek yang bisa ditingkatkan, secara keseluruhan buku ini memberikan kontribusi positif bagi pembaca dalam memahami dan menjalankan amalan-amalan di bulan Dzulhijjah.

Rekomendasi


Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh semua kalangan Muslim yang ingin memperdalam pengetahuan dan praktik ibadah mereka di bulan Dzulhijjah. Terutama bagi mereka yang ingin mengoptimalkan pahala dan keberkahan di bulan yang mulia ini, buku ini adalah sumber informasi yang tidak boleh dilewatkan.

Lantas, bagaimana panduan dalam mengerjakan amalan­amalan yang mulia tersebut di bulan Dzulhijjah ini? Buku mungil ini adalah jawabannya, diulas dengan lugas, praktis dengan tetap menjaga keilmiyahan dalam metode penulisannya. Wallahul Muwaffiq



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Panduan Praktis Amalan di Bulan Dzulhijjah" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

KEUTAMAAN PUASA 6 HARI DIBULAN SYAWWAL

( و ) الرابع صوم ( ستة من شوال ) لحديث من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر ولقوله أيضا صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة أي كصيامها فرضا وتحصل السنة بصومها متفرقة منفصلة عن يوم العيد لكن تتابعها واتصالها بيوم العيد أفضل وتفوت بفوات شوال ويسن قضاؤها

نهاية الزين ص ١٩٧

Keempat adl (puasa sunah enam hari di bulan Syawwal) berdasarkan hadits, ‘brng Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan enam hari puasa di bulan Syawwal, ia seakan puasa setahun penuh.’ Hadits lain mengatakan, puasa sebulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawwal setara dengan puasa dua bulan. Semua itu seakan setara dengan puasa (wajib) setahun penuh’. Keutamaan sunah puasa Syawwal sudah diraih dengan memuasakannya secara terpisah dari hari Idul Fithri. Hanya saja memuasakannya secara berturut-turut lebih utama. Keutamaan sunah puasa Syawwal luput seiring berakhirnya bulan Syawwal. Tetapi dianjurkan mengqadhanya,”

kitab: Nihayatuz Zain hal 197

Tetapi orang yang berpuasa di luar tanggal itu sekalipun tidak berurutan tetap mendapat keutamaan puasa Syawwal seakan puasa wajib setahun penuh.

Bahkan orang yang mengqadha puasa atau menunaikan nadzar puasanya di bulan Syawwal tetap mendapat keutamaan seperti mereka yang melakukan puasa sunah Syawwal.

وإن لم يصم رمضان كما نبه عليه بعض المتأخرين والظاهر كما قاله بعضهم حصول السنة بصومها عن قضاء أو نذر

حاشية الباجوري ج ١ ص ٢١٤

Artinya, “Puasa Syawal tetap dianjurkan meskipun seseorang tidak berpuasa Ramadhan-seperti diingatkan sebagian ulama muta’akhirin-. Tetapi yang jelas-seperti dikatakan sebagian ulama-seseorang mendapat keutamaan sunah puasa Syawwal dengan cara melakukan puasa qadha atau puasa nadzar (di bulan Syawwal)

Hasyiyatul Baijuri ‘alâ Syarhil ‘Allâmah Ibni Qasim Juz I, Hal 214

semoga bermanfaat


Penjelasan Puasa Syawal 6 Hari (Referensi Kitab)

Penjelasan Puasa Syawal 6 Hari (Referensi Kitab)

Fiqih Puasa Syawal

Penjelasan Puasa Syawal 6 Hari


Diantara puasa-puasa Sunnah adalah adanya puasa di bulan Syawal selama 6 hari, karena Puasa ini sangat dianjurkan dan pahalanya bisa menyamai puasa satu tahun. Puasa 6 hari di bulan Syawal ini dikerjakan selepas mengerjakan Puasa di Bulan Ramadhan.

NIAT PUASA SYAWAL


Niat merupakan salah satu rukun puasa dan ibadah lain pada umumnya. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu bergantung pada niat. Saat niat, seseorang di dalam hati mesti menyatakan maksudnya (qashad), dalam hal ini berpuasa. 

Di samping  qashad, seseorang juga menyebutkan status hukum wajib atau sunnah perihal ibadah yang akan dilakukan. Hal ini disebut ta’arrudh. Sedangkan hal lain yang mesti diingat saat niat adalah penyebutan nama ibadahnya (ta’yin). 

Dalam konteks puasa sunnah Syawal, ulama berbeda pendapat perihal ta‘yin. Sebagian ulama menyatakan bahwa seseorang harus mengingat ‘puasa sunnah Syawwal’ saat niat di dalam batinnya. Sedangkan sebagian ulama lain menyatakan bahwa tidak wajib ta’yin. 

Hal ini dijelaskan oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami sebagai berikut.

وْلُهُ نَعَمْ بَحَثَ إلَخْ (عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالنِّهَايَةِ وَالْأَسْنَى) فَإِنْ قِيلَ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ هَكَذَا أَطْلَقَهُ الْأَصْحَابُ وَيَنْبَغِي اشْتِرَاطُ التَّعْيِينِ فِي الصَّوْمِ الرَّاتِبِ كَعَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ وَأَيَّامِ الْبِيضِ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ كَرَوَاتِبِ الصَّلَاةِ أُجِيبُ بِأَنَّ الصَّوْمَ فِي الْأَيَّامِ الْمَذْكُورَةِ مُنْصَرِفٌ إلَيْهَا بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَ أَيْضًا كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ وُجُودُ صَوْمٍ فِيهَا ا هـ زَادَ شَيْخُنَا وَبِهَذَا فَارَقَتْ رَوَاتِبَ الصَّلَوَاتِ ا ه


Artinya, “Perkataan ‘Tetapi mencari…’ merupakan ungkapan yang digunakan di Mughni, Nihayah, dan Asna. Bila ditanya, Imam An-Nawawi berkata di Al-Majmu‘, ‘Ini yang disebutkan secara mutlak oleh ulama Syafi’iyyah. Semestinya disyaratkan ta’yin (penyebutan nama puasa di niat) dalam puasa rawatib seperti puasa ‘Arafah, puasa Asyura, puasa bidh (13,14, 15 setiap bulan Hijriyah), dan puasa enam hari Syawal seperti ta’yin dalam shalat rawatib’. Jawabnya, puasa pada hari-hari tersebut sudah diatur berdasarkan waktunya.   

Tetapi kalau seseorang berniat puasa lain di waktu-waktu tersebut, maka ia telah mendapat keutamaan sunah puasa rawatib tersebut. Hal ini serupa dengan shalat tahiyyatul masjid. Karena tujuan dari perintah puasa rawatib itu adalah pelaksanaan puasanya itu sendiri terlepas apa pun niat puasanya. Guru kami menambahkan, di sinilah bedanya puasa rawatib dan sembahyang rawatib,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj).

Berikut adalah lafal niatnya yang dibaca pada malam hari, 
 
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى   

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ 
 
Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta’ala.” 
 
Karena ini puasa sunnah, maka jika lupa niat pada malam hari boleh niat pada siang harinya. Berikut adalah niat puasa Syawwal jika dibaca di siang hari, 
 
  نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى 

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatisy Syawwâli lillâhi ta‘âlâ 

Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah ta’ala.” 

PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG PUASA SYAWAL


Imam Al Bujairimi menjelaskan dalam Hasyiah Al Bujairimi alal Minhaj.

(وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ) لِخَبَرِ مُسْلِمٍ «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ» وَخَبَرِ النَّسَائِيّ «صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ أَيْ مِنْ شَوَّالٍ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ» أَيْ كَصِيَامِهَا فَرْضًا وَإِلَّا فَلَا يَخْتَصُّ ذَلِكَ بِمَا ذُكِرَ؛ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا (وَاتِّصَالُهَا) بِيَوْمِ الْعِيدِ (أَفْضَلُ) مُبَادَرَةً لِلْعِبَادَةِ

Artinya: "(Dan disunnahken puasa 6 hari di bulan Syawal) karena ada hadits riwayat Imam Muslim: 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian di ikutsertakan (teruskan) 6 hari di bulan Syawal maka seperti puasa setahun penuh).

Dan Hadits riwayat Imam Nasai:

صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ أَيْ مِنْ شَوَّالٍ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ

Puasa di bulan Ramadhan di samakan / diberi pahala dengan 10 bulan, dan puasa 6 hari di bulan Syawal menyamai / diberi pahala dua bulan, maka puasa itu (Ramadhan dan 6 hari di bulan Syawal) adalah (menyamai) puasa satu tahun.

Atau maksudnya bagaikan puasa pardhu setahun, dan kalo tidak begitu maka tidak ada kehususan (puasa itu) dengan pahala / kesamaan yang sudah disebutkan, karena kebaikan dikalikan 10 kali semisal (sama) dengan kebaikan itu.

Dan menyambungkannya dengan hari Ied (puasa setelah hari Ied) itu adalah lebih utama, karena (termasuk kategori) menyegerakan dalam beribadah.

[البجيرمي، حاشية البجيرمي على شرح المنهج = التجريد لنفع العبيد، ٨٩/٢]

Sumber: Hasyiah Al Bujairimi ala Syarhi Minhaj Hal 89 Juz 2

(و) صوم (ست من شوّال)؛ لأنها مع صوم جميع رمضان "كصيام الدهر" رواه مسلم؛ إذ الحسنة بعشر أمثالها، كما جاء: (أنّ َصيام رمضان بعشرة أشهر، وصيام ستة أيام -أي: من شوال- بشهرين، فذلك صيام السنة) أي: مثل صيامها بلا مضاعفة.

Artinya: (Dan disunnahkan) puasa (6 hari di bulan Syawal) karena puasa 6 hari di bulan Syawal beserta puasa seluruh Ramadhan adalah seperti puasa satu tahun" telah meriwayatkan (akan hadits keutamaan puasa itu) Imam Muslim. Karena satu kebaikan itu dikali 10 kali semisal kebaikan itu, sebagimana hadits yang telah datang:

Sesungguhnya puasa 1 bulan Ramadhan dikali 10 bulan, dan puasa 6 hari di bulan Syawal dikali dua bulan, maka itu semuanya berjumlah puasa satu tahun (12 bulan), maksudnya sebagaimana puasa 12 bulan tanpa di lipat gandakan (lagi)

نظير ما قالوه في (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) [الإخلاص:1]: تعدل ثلث القرآن، والمراد ثواب الفرض، وإلا .. لم يكن لخصوصية ست شوّال معنى.

Serupa masalah yang di katakan oleh para Ulama dalam keutamaan Qul Huwallahu Ahad (Surah Al-Ihklas) mengimbangi / menyamai 1/3 al-Quran. 

Yang dimaksud adalah pahala Puasa Pardhu, dan jika tidak, maka tidak ada kehususan puasa 6 hari di bulan Syawal secara ma'na.

وحاصله: أنَّ من صامها مع رمضان كل سنة .. كان كمن صام الدهر فرضاً بلا مضاعفة.

Dan hasil dari permasalahan, bahwasanya barang siapa yang berpuasa 6 hari di bulan Syawal beserta puasa bulan Ramadhan setiap tahunya, maka bagikan orang yang berpuasa Fardu seumur hidup tanpa di lipat gandakan (lagi)

وقضية إطلاق المتن: ندب صومها حتى لمن أفطر رمضان.

Dan petunjuk keumuman matan kitab (Muqaddimah Hadromiah) disunnahkan puasa (6 hari dibulan Syawal) sampai (bahkan) bagi orang yang batal puasa di bulan Ramadhan.

وقيده (حج) بغير من تعدّى بفطره؛ لأنه يلزمه القضاء فوراً.

Imam Ibnu Hajar memberikan Kayyid (batasan) tidak bagi orang yang batal puasa ramadhan dengan sengaja, karena orang yang batal puasa ramadhan dengan sengaja, wajib baginya qadha dengan segera (tanpa ditunda)

قال (م ر): أي: يحصل له أصل السنة وإن لم يحصل له الثواب المذكور؛ لترتبه في الخبر على صيام رمضان).

Imam Ramli berpendapat: ataupun (maksudnya) Hasil baginya asal (pangkal) kesunnahan, walaupun belum hasil baginya pahala yang disebutkan, karena alasan berurutanya puasa dalam hadits kepada puasa Ramadhan

ثم قال: (وقضيةُ قول المحاملي: يكره لمن عليه قضاء تطوّع بالصوم كراهةُ صومها لمن أفطره بعذر، فينافي ما مرَّ، إلا أن يجمع بأنه ذو وجهين، أو يحمل ذاك على: من لا قضاء عليه كصبي بلغ، وهذا: على من عليه قضاء) اهـ

Kemudian berkata Imam Ramli: dan (petunjuk) kasus pendapat Al mahamili: dimakruhkan bagi orang yang memiliki kewajiban qadha, untuk berpuasa Sunnah, (memasukan) kemakruhan puasanya bagi orang yang batal dengan ada udzur, maka (kasus itu) akan menampikan (menghilangkan) penjelasan yang sudah berlalu, kecuali (tidak menafikan) untuk mengumpulkan  bahwasanya penjelasan itu memiliki dua pandangan, atau ihtimal. Atau tidak menafikan untuk diihtimalkan bagi orang yang tidak memiliki kewajiban qadha seperti anak kecil yang menjadi baligh, dan ini bagi siapa yang memiliki kewajiban Qadha baginya.

وإذا لم يصمها في شوّال .. سنَّ له قضاؤها بعده؛ لتوقيتها.

Dan apabila tidak berpuasa 6 hari di bulan Syawal, maka disunnahkan baginya mengqadha puasa 6 hari, disetelah bulan Syawal, karena terwaktunya puasa 6 hari itu (yaitu di bulan Syawal).

(وسنّ تواليها واتصالها بالعيد)؛ مبادرة بالعبادة، ولما في التأخير من التعريض للفوات، ويحصل أصل السنة بصومها منفصلة عن العيد.

Dan disunnahkan meruntunya dan menyambungnya dengan hari Ied, halnya karena menyegerakan akan ibadah, dan karena sesuatu dalam pengakhiran itu adalah sebagian dari kebahayaan untuk keluputan (hilangnya kesempatan). Dan hasil pangkal kesunahan dengan berpuasa secara terpisah dari hari Ied.

ويظهر أنَّ اتصالها بالعيد أفضل من صومها أيام البيض والسود وإن تأدى بذلك ثلاث سنن؛ لما في ذلك من الخلاف القوي، خصوصاً إذا نوى ست شوّال مع البيض والسود؛ لما مر في الكلام على التعين في النية عن الإسنوي من عدم حصول شيء منها.

Dan jelas bahwa sesungguhnya menyambungkan puasa Syawal dengan Hari Ied (setelahnya) itu lebih Utama (unggul) daripada puasanya Syawal di hari hari putih dan hitam (Hari Senin dan Kamis), walaupun terlaksana dengan cara itu 3 kesunnahan. Karena ada penjelasan akan perbedaan pendapat yang kuat dalam cara itu (menggabungkan dengan hari putih dan hitam), terutama jika diniatkan puasa 6 hari Syawal berserta niat puasa hari Senin dan hari Kamis, karena alasan yang telah berlalu dalam membincangkan akan ta'yin (menentukan) dalam niat dari Imam Al Asnawi, dari tidak adanya hasil satu niatpun dari (penggabungan niat puasa) itu.

[سعيد باعشن ,شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم ,page 583-584]

Sumber: Kitab Busyrol Karim Syarah Muqaddimah Al Hadromiyah.

Syekh Khatib al-Syarbini menjelaskan:

وَرَوَى النَّسَائِيُّ خَبَرَ «صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بِشَهْرَيْنِ، فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ» أَيْ كَصِيَامِهَا فَرْضًا، وَإِلَّا فَلَا يَخْتَصُّ ذَلِكَ بِرَمَضَانَ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ؛ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.

“Imam al-Nasa’i meriwayatkan hadits; pahala puasa bulan Ramadhan sebanding dengan berpuasa sepuluh bulan, pahala berpuasa enam hari Syawal sebanding dengan berpuasa dua bulan, maka yang demikian itu adalah puasa satu tahun. 

Maksudnya seperti berpuasa wajib selama setahun, sebab jika tidak demikian maka tidak terkhusus dengan Ramadhan dan enam hari Syawal, sebab satu kebaikan dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat” (Syekh Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 2, hal. 184).   

Dalam referensi yang lain disebutkan:

قال أصحابنا وهذا صحيح في الحساب؛ لأن الحسنة بعشر أمثالها، وصوم شهر رمضان يقوم مقام ثلاثمائة يوم، وهو عشرة أشهر، فإذا صام ستة أيام بعده قامت مقام ستين يوماً، وذلك شهران، وذلك كله عدد أيام السنة.

Artinya“Para pengikut kami berkata; yang demikian ini benar dalam hitungan matematika. Sebab satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Puasa Ramadhan sebanding dengan berpuasa selama 300 hari (sepuluh bulan). Maka bila seseorang berpuasa enam hari setelahnya, sebanding dengan berpuasa 60 hari (dua bulan). Demikian ini adalah hitungan hari selama setahun” (Syekh al-‘Umrani, al-Bayan fi Madzhab al-Imam al-Syafi’i, juz 3, hal. 548).   

Pahala puasa Syawal yang sebanding dengan pahala berpuasa dua bulan maksudnya adalah dua bulan puasa wajib. Sebab, jika tidak dipahami demikian maka tidak ada arti khusus dalam penyebutan puasa Syawal dalam hadits Nabi. Misalnya bila dipahami bahwa enam hari puasa Syawal sebanding dengan dua bulan puasa Sunnah, ini tidak ada yang spesial karena semua pahala kebaikan memang demikian, pahalanya dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Dengan demikian, konteks perbandingan pahala tersebut harus dipahami dengan puasa wajib agar berbeda antara puasa Syawal dengan lainnya.   

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

والمراد ثواب الفرض وإلا لم يكن لخصوصية ستة شوال معنى؛ إذ من صام مع رمضان ستة غيرها يحصل له ثواب الدهر لما تقرر فلا تتميز تلك إلا بذلك

Artinya: “Yang dikehendaki adalah pahala puasa fardlu, jika tidak demikian, maka tidak ada makna pengkhususan Syawal dalam hadits Nabi, karena orang yang berpuasa beserta Ramadalan, selama enam hari maka mendapat pahala puasa setahun seperti keterangan yang sudah ditetapkan, maka pahala puasa enam hari Syawal tidak dapat dianggap spesial kecuali dengan penafsiran tersebut (sebanding dengan pahala puasa fardlu dua bulan)”. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 456)

Imam Nawawi dalam Kitab Raudhatut Thalibin mengungkapkan tentang Utama menyegerakan puasa setelah hari raya Ied.

وَمِنْهُ سِتَّةُ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ، وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَصُومَهَا مُتَتَابِعَةً مُتَّصِلَةً بِالْعِيدِ.

Dan sebagian puasa Sunnah adalah puasa 6 hari di bulan Syawal, dan yang paling utama adalah berpuasa secara beruntun bersambung dengan hari Ied (tanggal 2 Syawal)

[النووي، روضة الطالبين وعمدة المفتين، ٣٨٧/٢]

Sumber: Kitab Raudhatut Thalibiin Karya Imam Nawawi Rahimahullah

Imam Nawawi Rahimahullah dalam Kitab Syarah Sahih Muslim menjelaskan

قال صلى اللَّهُ عليه وسلم من صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا من شَوَّالٍ كان كَصِيَامِ الدَّهْرِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ ) فيه دلالة صريحة لمذهب الشافعى وأحمد وداود وموافقيهم في استحباب صوم هذه الستة وقال مالك وأبو حنيفة يكره ذلك قال مالك في الموطأ ما رأيت أحدا من اهل العلم يصومها قالوا فيكره لئلا يظن وجوبه ودليل الشافعى وموافقيه هذا الحديث الصحيح الصريح واذا ثبتت السنة لا تترك لترك بعض الناس أو أكثرهم أو كلهم لها وقولهم قد يظن وجوبها ينتقض بصوم عرفة وعاشوراء وغيرهما من الصوم المندوب قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فان فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى اواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال قال العلماء وانما كان ذلك كصيام الدهر لان الحسنة بعشر امثالها فرمضان بعشرة أشهر والستة بشهرين وقد جاء هذا في حديث مرفوع في كتاب النسائي وقوله صلى الله عليه و سلم ( ستا من شوال ) صحيح ولو قال ستة بالهاء جاز أيضا قال أهل اللغة يقال صمنا خمسا وستا)


Artinya: "Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun." (HR. Muslim).

Dalil ini yang dibuat pijakan kuat madzhab syafi’i, Ahmad Bin Hanbal dan Abu Daud tentang kesunahan menjalankan puasa 6 hari dibulan syawal, sedang Abu Hanifah memakruhkan menjalaninya dengan argument agar tidak memberi prasangka akan wajibnya puasa tersebut….

Para pengikut kalangan Syafi’i menilai yang lebih utama menjalaninya berurutan secara terus-menerus (mulai hari kedua syawal) namun andaikan dilakukan dengan dipisah-pisah atau dilakukan diakhir bulan syawal pun juga masih mendapatkan keutamaan sebagaimana hadits diatas.

Ulama berkata “alasan menyamainya puasa setahun penuh berdasarkan bahwa satu kebaikan menyamai sepuluh kebaikan, dengan demikian bulan ramadhan menyamai sepuluh bulan lain (1 bulan x 10 = 10 bulan) dan 6 hari di bulan syawal menyamai dua bulan lainnya (6 x 10 = 60 = 2 bulan). [ Syarh nawaawi ‘ala Muslim VIII/56 ].

PUASA SYAWAL Bersamaan QADHA PUASA


Diperbolehkan menggabung niat puasa 6 hari bulan syawal dengan qadha ramadhan menurut Imam Romli dan keduanya mendapatkan pahala. Sedangkan menurut Abu Makhromah tidak mendapatkan pahala keduanya bahkan tidak sah.

قال شيخنا كشيخه والذي يتجه أن القصد وجود صوم فيها فهي كالتحية فإن نوى التطوع أيضا حصلا وإلا سقط عنه الطلب

(وقوله كالتحية) أي فإنها تحصل بفرض أو نفل غيرها لأن القصد شغل البقعة بالطاعة وقد وجدت (قوله فإن نوى التطوع أيضا) أي كما أنه نوى الفرض (وقوله حصلا) أي التطوع والفرض أي ثوابهما (قوله وإلا) أي وإن لم ينو التطوع بل نوى الفرض فقط (وقوله سقط عنه الطلب) أي بالتطوع لاندراجه في الفرض


Artinya: “Berkata Guru kami seperti guru beliau : Pendapat yang memiliki wajah penyengajaan dalam niat (dalam masalah ini) adalah adanya puasa didalamnya maka sama seperti shalat tahiyyat masjid bila diniati kesunahan kedua-duanya juga mendapatkan pahala bila tidak diniati maka gugur tuntutannya”.

(Keterangan seperti shalat tahiyyat masjid) artinya shalat tahiyyah bisa berhasil ia dapatkan saat ia menjalani kewajiaban shalat fardhu atau sunah lainnya karena tujuan niat (dalam shalat tahiyyah masjid) adalah terdapatnya aktifitas ibadah di masjid dan ini sudah terjadi.

(Keterangan diniati kesunahan) sama halnya saat ia niati ibadah fardhu

(Keterangan kedua-duanya juga mendapatkan) artinya mendapatkan pahala puasa sunah dan puasa fardhu

(Keterangan bila tidak ia niati) artinya ia tidak niat puasa sunah tapi hanya niat puasa fardhu saja

(Keterangan maka gugur tuntutannya) artinya tuntutan puasa sunnahnya karena telah tercakup dalam puasa fardhu. [ I’aanah at-Thoolibiin II/271 ].

(مسألة: ك): ظاهر حديث: «وأتبعه ستاً من شوّال» وغيره من الأحاديث عدم حصول الست إذا نواها مع قضاء رمضان، لكن صرح ابن حجر بحصول أصل الثواب لإكماله إذا نواها كغيرها من عرفة وعاشوراء، بل رجح (م ر) حصول أصل ثواب سائر التطوعات مع الفرض وإن لم ينوها، ما لم يصرفه عنها صارف، كأن قضى رمضان في شوّال، وقصد قضاء الست من ذي القعدة، ويسنّ صوم الست وإن أفطر رمضان اهـ. قلت: واعتمد أبو مخرمة تبعاً للسمهودي عدم حصول واحد منهما إذا نواهما معاً، كما لو نوى الظهر وسنتها، بل رجح أبو مخرمة عدم صحة صوم الست لمن عليه قضاء رمضان مطلقاً.

Artinya : Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun." (HR. Muslim).

(Masalah Kaf) Bila melihat zhahirnya hadits seolah memberi pengertian tidak terjadinya kesunahan 6 hari bulan syawal saat ia niati bersamaan dengan qadha ramadhan namun Ibn Hajar menjelaskan mendapatkan kesunahan dan pahalanya bila ia niati sama seperti puasa-puasa sunah lainnya seperti puasa hari arafah dan asyura bahkan Imam Romli mengunggulkan pendapat terjadinya pahala ibadah-ibadah sunah lainnya yang dilakukan bersamaan ibadah fardhu meskipun tidak ia niati selama tidak terbelokkan arah ibadahnya seperti ia niat puasa qadha ramadhan dibulan syawal dan ia niati sekalian puasa qadha 6 hari dibulan dzil hijjah (maka tidak ia dapati kesunahan puasa syawalnya).

Disunahkan menjalankan puasa 6 hari dibulan syawal meskipun ia memiliki tanggungan qadha karena ia menjalani berbuka puasa dibulan ramadhannya. Abu Makhromah dengan mengikuti pendapat al-Mashudi berkeyakinan tidak dapatnya pahala keduanya bila ia niati keduanya bersamaan seperti saat ia niat shalat dhuhur dan shalat sunah dhuhur bahkan Abu Makhromah menyatakan tidak sahnya puasa 6 hari bulan syawal bagi yang memiliki tanggungan Qadha puasa ramadhan secara muthlak. [ Bughyah al-Mustarsyidiin Hal. 113-114 ].


QADHA PUASA Karena RAGU-RAGU


Diharamkan menjalankan puasa dengan niat QADHA dengan alasan karena ihtiyaath (hati-hati) selama ia yakin atau memiliki sangkaan kuat tidak memiliki tanggungan mengqadha puasa ramadhan dan boleh menjalaninya bila ia ragu-ragu .

فمن تيقن او ظن عدم وجوب قضاء رمضان عليه فيحرم عليه نية القضاء للتلاعب ومن شك فله نية القضاء ان كان عليه والا فالتطوع

Artinya: "Barangsiapa yakin atau memiliki sangkaan kuat tidak memiliki kewajiban mengqadha puasa ramadhan maka haram baginya puasa dengan diniati qadha karena sama halnya dngan mempermainkan ibadah namun barangsiapa ragu-ragu diperbolehkan dengan niat puasa qadha bila memiliki tanggungan qadha dan puasa sunnah bila tidak memiliki tanggungan. [ Ahkaam al-Fuqahaa II/29 ].

وَيُؤْخَذُ من مَسْأَلَةِ الْوُضُوءِ هذه أَنَّهُ لو شَكَّ أَنَّ عليه قَضَاءً مَثَلًا فَنَوَاهُ إنْ كان وَإِلَّا فَتَطَوُّعٌ صَحَّتْ نِيَّتُهُ أَيْضًا وَحَصَلَ له الْقَضَاءُ بِتَقْدِيرِ وُجُودِهِ بَلْ وَإِنْ بَانَ أَنَّهُ عليه وَإِلَّا حَصَلَ له التَّطَوُّعُ

Artinya: "Dapat diambil kesimpulan dari masalah wudhu ini, sesungghnya bila seseorang ragu-ragu atas kewajiban mengqadha baginya kemudian puasa dengan niat mengqadhainya bila ada tanggungan dan niat puasa sunnah bila tidak memiliki tanggungan maka juga sah niatnya dan qadha puasanya juga terjadi bila memang tanggungan tersebut diperkirakan terdapat padanya bahkan andai telah nyata sekalipun baginya namun bila ia tidak memiliki tanggungan, puasanya menjadi puasa sunnah. [ Fataawy al-Fqhiyyah al-Kubraa II/90 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.

Filosofi Ketupat dan Lepet Saat Lebaran

Filosofi Ketupat dan Lepet Saat Lebaran


Filosofi Ketupat Lebaran

Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa.

Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Arti Kata Ketupat.

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku Lepat.

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Laku Papat.
  1. Lebaran.
  2. Luberan.
  3. Leburan.
  4. Laburan.
Lebaran.
Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa.

Luberan.
Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah.

Leburan.
Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan.
Berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

FILOSOFI KUPAT - LEPET

KUPAT
Kenapa mesti dibungkus janur?
Janur, diambil dari bahasa Arab " Ja'a nur " (telah datang cahaya ).
Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia.
Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.
Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur).

LEPET
Lepet = silep kang rapet.
Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat.
Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Moga bermanfaat..

Mohon maaf lahir dan bathin moga Alloh swt selalu melimpahkan magfirohNya pada kita semuaa Aamiiiin Ya Allah Ya Rabbal Aalamiin


Kumpulan Kalam Ulama Tentang Hari Raya Idul Firi Hari Lebaran

Kumpulan Kalam Ulama Tentang Hari Raya Idul Firi Hari Lebaran

Kumpulan Kalam Ulama

Inilah kumpulan kalam atau prakata para Ulama Solihin ketika tiba hari lebaran Iedul Fitri, beserta sumber rujukan kitabnya semoga kita bisa mengikuti mereka minimal mencintai mereka dengan sepenuh hati

Mu’alla bin al-Fadhl rahimahullâhu berkata :

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان،ويدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dahulu para salaf berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar Allah mengantarkan mereka bisa mendapati bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kembali selama 6 bulan agar Allah menerima amal-amal mereka (selama Ramadhan). - [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 148]

Yahyâ bin Abî Katsîr rahimahullâhu pernah berdoa :

اللهم سلمني إلى رمضان وسلم لي رمضان وتسلمه مني متقبلا

“Ya Allah, antarkanlah diriku agar bisa menemui Ramadhan dan izinkan Ramadhan agar bisa mendapatiku serta terimalah dariku amal-amalku (di dalam bulan Ramadhan). - [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 148]

Abû Dzar Radhiyallâhu anhu pernah menasehatkan :

يَأَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي لَكُمْ نَاصِحٌ، إِنِّي عَلَيْكُمْ شَفِيقٌ، صَلُّوا فِي ظَلامِ اللَّيْلِ لِوَحْشَةِ الْقُبُورِ، وَصُومُوا فِي حَرِّ الدُّنْيَا لِحَرِّ يَوْمِ النُّشُورِ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya hanyalah ingin menasehati kalian, karena saya sangat sayang dengan kalian semua. Sholatlah kalian di tengah kegelapan malam sebagai persiapan menghadapi kuburan yang mencekam dan berpuasalah kalian di tengah teriknya dunia sebagai persiapan menghadapi panasnya hari kebangkitan. - [Târikh Dimasyqi 66/214]

Dari Mâlik bin Dînâr bahwa ada sekelompok kaum penduduk Basrah membeli seorang budak wanita ketika mendekati bulan Ramadhan.

فرأتهم يشترون المأكول والمشروب، فقالت لهم: ما تصنعون بهذا؟! فقالوا لها: لشهر رمضان، فقالت لهم

Lalu budak wanita tersebut melihat mereka berbelanja makanan dan minuman. Diapun bertanya : “Apa yang anda semua lakukan ini?” Mereka menjawab : “Untuk persiapan Ramadhan.” Lalu budak wanita itu menimpali :

أنا كنت لقوم كان دهرهم كله شهر رمضان، فوالله, لا أقيم عندكم

“Saya dulu pernah bersama suatu kaum yang seluruh waktunya adalah bulan Ramadhan [maksudnya senantiasa diisi dengan puasa, sholat, tilawah dan amal shalih lainnya, bukan dengan acara makan-makan saat berbuka, pent.], Demi Allah, saya tidak mau tinggal dengan kalian!” - [Shifatush Shofwah I/421]

PARA SALAF SAAT DI PENGHUJUNG AKHIR RAMADHAN

Diriwayatkan dari ‘Alî Radhiyallâhu anhu bahwa di malam akhir bulan Ramadhan, beliau berseru:

يا ليت شعري من هذا المقبول فنهنيه ومن هذا المحروم فنعزيه

“Aduhai sekiranya kutahu siapa gerangan yang diterima amalnya sehingga kudapat mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa gerangan yang tertolak amalnya sehingga kudapat berbela sungkawa kepadanya.” -[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 210]

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ûd Radhiyallâhu anhu, bahwa beliau pernah keluar di penghujung malam terakhir bulan Ramadhan, lalu berseru :

مَنْ هَذَا الْمَقْبُولُ اللَّيْلَةَ فَنُهَنِّيهِ، وَمَنْ هَذَا الْمَحْرُومُ الْمَرْدُودُ اللَّيْلَةَ فَنُعَزِّيهِ، أَيُّهَا الْمَقْبُولُ هَنِيئًا، وَأَيُّهَا الْمَرْحُومُ الْمَرْدُودُ جَبَرَ اللَّهُ مُصِيبَتَكَ

“Barangsiapa yang diterima amalnya di malam ini, maka kuucapkan selamat padanya. Dan barangsiapa yang tertolak amalnya di malam ini, maka aku berbelasungkawa kepadanya. Wahai orang-orang yang diterima amalnya, selamat! Wahai orang-orang yang tertolak amalnya, semoga Allah mengasihimu di dalam musibahmu.” - [Mukhtashor Qiyâmul Layl karya al-Marrûzi hal. 213]

Al-Hasan al-Bashri rahimahullâhu berkata :

إن الله جعل شهر رمضان مضمارا لخلقه، يستبقون فيه بطاعته إلى مرضاته، فسبق قوم ففازوا، وتخلف آخرون فخابوا، فالعجب من اللاعب الضاحك، في اليوم الذي يفوز فيه المحسنون ويخسر فيه المبطلون

“Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan itu seperti arena pacu bagi hamba-hamba-Nya. Mereka berlomba di dalamnya dengan melaksanakan amal ketaatan untuk meraih ridha Allah. Ada suatu kaum yang berlomba dan menang, ada pula yang tertinggal sehingga mereka kalah. Alangkah anehnya masih saja ada yang bermain-main dan tertawa-tawa, padahal mereka berada di hari yang mana orang-orang yang berbuat ihsan mendapatkan kemenangan dan orang-orang yang berbuat kebatilan mengalami kekalahan.” -[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 210]

Diriwayatkan dari Mifdhal bin Lâhiq Abî Bisyr beliau mengatakan : saya mendengar ‘Adî bin Arthah berkhutbah setelah Ramadhan berlalu mengucapkan :

سمعت عدي بن أرطاة, يخطب بعد انقضاء شهر رمضان فيقول: كأن كبدًا لم تظمأ، وكأن عينًا لم تسهر، فقد ذهب الظمأ وأبقى الأجر، فيا ليت شعري! من المقبول منا فنهنئه؟! ومن المردود منا فنعزيه؟! فأما أنت أيها المقبول, فهنيئًا هنيئًا، وأما أنت أيها المردود, فجبر الله مصيبتك

“Layaknya hati yang tak merasa dahaga dan mata yang tak terjaga, maka sesungguhnya dahaga pun telah lenyap yang tersisa hanyalah balasan pahala. Duhai, siapa gerangan diantara kita termasuk yang diterima amalnya, maka kuucapkan selamat padanya!? Dan siapa yang tertolak amalnya maka kuucapkan bela sungkawa padanya!? Adapun anda wahai orang yang diterima amalnya, maka selamat dan selamat bagi anda! Adapun anda wahai orang yang tertolak amalnya, semoga Allah mengasihi atas musibahmu!” Beliaupun lalu menangis dan menangis setelahnya. -[Ash-Shiyâm karya al-Firyâbî hal. 95]

Pernah ada yang berkata kepada Bisyr al-Hâfî rahimahullâhu [salah satu sahabat dan murid Fudhail bin Iyadh] :

أن قومًا يتعبدون في رمضان ويجتهدون في الأعمال، فإذا انسلخ تركوا

Ada sebuah kaum yang beribadah dan bersungguh-sungguh beramal shalih di bulan Ramadhan, namun saat Ramadhan berlalu, mereka tinggalkan ini semua! [yaitu tidak lagi bersungguh-sungguh dalam beribadah].

Maka, Bisyr al-Hâfî pun menimpali :

بئس القوم قوم لا يعرفون الله إلا في رمضان

Mereka adalah seburuk-buruk kaum! Mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan saja! - [Miftâhul Afkâr lit Ta-ahhubi li Dâril Qorôr II/283]

Diriwayatkan dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallâhu anhu, bahwa beliau berkata :

مَن صامَ رمضانَ وهو يُحدِّثُ نفسَهُ أنَّه إن أفطر رمضانَ أن لا يعصِي اللَّهَ، دخلَ الجنةَ بغيرِ مسألةٍ ولا حساب، ومَن صامَ رمضانَ وهو يحدِّثُ نفسَه أنَّه إذا أفطر عصَى ربَّه، فصيامُه عليه مردودٌ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu terbetik di dalam hatinya apabila Ramadhan telah berlalu maka ia tidak akan memaksiati Allah, maka ia akan masuk surga tanpa perlu meminta dan hisab. Namun barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu ia berniat di dalam hatinya apabila Ramadhan berlalu, maka ia akan memaksiati Rabb-nya, maka puasanya tertolak. [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 136-137]

Ada sebagian salaf yang mengatakan :

أدركت أقواماً لا يزيد دخول رمضان من أعمالهم شيئاً، ولا ينقص خروجه من أعمالهم شيئاً

“Saya pernah menjumpai ada sebuah kaum yang saat masuk bulan Ramadhan, tidak bertambah amalan mereka sedikitpun. Di sisi lain ada pula kaum yang saat Ramadhan berlalu, tidak berkurang amalan mereka sedikitpun.” -[Muwâsholah al-‘Amal ash-Shôlih Ba’da Ramadhân karya Syaikh Shâlih al-Fauzân]

Wahb bin al-Ward pernah melihat suatu kaum yang tertawa-tawa di hari Iedul Fithri, lalu beliau berkata :

إن كان هؤلاء تقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الشاكرين وإن كان لم يتقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الخائفين

“Apabila mereka termasuk orang yang diterima amalan puasa mereka, maka ini bukanlah termasuk perbuatan orang-orang yang bersyukur. Namun apabila mereka termasuk orang yang tidak diterima amalan puasanya, maka ini bukanlah termasuk perbuatan orang-orang yang takut kepada Allah.” -[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 209]

Qotâdah pernah berkata :

من لم يُغفر له في رمضان فلن يغفر له فيما سواه

“Barangsiapa yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka (besar kemungkinan) ia takkan diampuni di selain bulan Ramadhan.” [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 211]

PARA SALAF SAAT DI HARI IED

Sejumlah sahabat Sufyan ats-Tsauri berkata : Kami keluar di hari Ied bersama beliau, lalu beliau berkata :

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا غَضُّ الْبَصَرِ

“Sesungguhnya hal yang pertama kali kami lakukan di hari Ied ini adalah, menundukkan pandangan.” -[At-Tabshiroh karya Ibnul Jauzî hal 106]

Hassân bin Abî Sinân ketika pulang dari sholat Ied ditanya isterinya :

كم من امرأة حسناء قد رأيت؟

“Berapa banyak wanita cantik yang telah kau pandangi?”

Beliau menjawab :

ما نظرت إلا في إبهامي منذ خرجت إلى أن رجعت

“Saya tidak melihat apapun semenjak saya keluar sampai saya balik pulang kecuali melihat jempol kakiku saja.” -[At-Tabshiroh karya Ibnul Jauzî hal 106]

Dari Abî Marwân Maula Banî Tamîm, beliau bercerita :

: انصرفت مع صفوان بن سليم من العيد إلى منزله فجاء بخبز يابس فجاء سائل فوقف على الباب وسأل فقام صفوان إلى كوّة في البيت فأخذ منها شيئا فأعطاه فاتّبعت ذلك السائل لأنظر ما أعطاه. فإذا هو يقول: أعطاه الله افضل ما أعطى أحداً من خلْقه فقلت ما أعطاك؟ قال: أعطاني ديناراً

“Saya pernah bersama Shofwan bin Sulaim kembali dari Ied menuju ke rumahnya. Beliau datang dengan menyajikan sepotong kue keras. Tak lama kemudian datang seorang peminta-minta berdiri di atas pintu mengemis. Shofwan pun lalu beranjak ke salah satu lubang di rumahnya mengambil sesuatu, kemudian dia memberikannya kepada peminta-minta tersebut. (Karena penasaran) saya pun mengikuti peminta-minta tersebut untuk melihat apa gerangan yang diberikan oleh Shofwan. Setelah bertemu dengannya, peminta-minta itu berkata : “Allah menganugerahkan dia keutamaan yang tidak diberikan kepada seorang pun.” Saya pun bertanya, “apa yang diberikannya kepadamu?” Dia menjawab : “Shofwan memberikan saya Dinar.” - [Shifatush Shofwah I/385].

كَانَ حماد بن أبي سليمان ذَا دُنْيَا مُتَّسِعَةٍ، وَأَنَّهُ كَانَ يُفَطِّر فِي شَهْرِ رَمَضَانَ خَمْسَ مائَةِ إِنْسَانٍ، وَأَنَّهُ كَانَ يُعْطِيْهِم بَعْدَ العِيْدِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مائَةَ دِرْهَمٍ

Hammâd bin Abî Sulaymân adalah orang yang memiliki kelapangan rezeki. Beliau biasa memberikan makanan berbuka di bulan Ramadhan kepada 500 orang. Saat Ied tiba, beliau memberi kepada setiap orang 100 Dirham. -[Siyar A’lâmin Nubalâ V/530]

Umar bin ‘Abdul ‘Azîr rahimahullâhu pernah keluar di hari Iedul Fithri lalu berkata di dalam khutbahnya :

أيها الناس إنكم صمتم لله ثلاثين يوما وقمتم ثلاثين ليلة وخرجتم اليوم تطلبون من الله أن يتقبل منكم

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa selama 30 hari! Kalian telah sholat malam (tarawih) selama 30 hari! Namun kalian semua keluar di hari ini (Iedul Fithri), meminta kepada Allah agar menerima seluruh amalan tersebut dari kalian. -[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 209]

PARA SALAF DI DALAM MEMAKNAI HARI IED

Ibnu Rojab berkata :

ليس العيد لمن لبس الجديد، إنما العيد لمن طاعاته تزيد، ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب، إنما العيد لمن غفرت له الذنوب، في ليلة العيد تفرق خلق العتق والمغفرة على العبيد؛ فمن ناله منها شيء فله عيد، وإلا فهو مطرود بعيد

“Ied itu bukanlah bagi orang yang berpakaian baru, namun Ied itu adalah bagi orang yang bertambah ketaatannya. Ied itu bukanlah bagi orang yang menghias pakaian dan kendaraannya, namun Ied itu adalah bagi orang yang diampuni dosa-dosanya. Di malam Ied, dibagikan pembebasan dan ampunan bagi para hamba, maka barangsiapa yang meraihnya maka ia mendapatkan Ied, dan siapa yang tidak memperolehnya maka ia terusir jauh. [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 277]

Al-Hasan al-Bashri rahimahullâhu berkata :

كل يوم لا يعصى الله فيه فهو عيد، كل يوم يقطعه المؤمن في طاعة مولاه وذكره وشكره فهو له عيد

“Setiap hari yang Allah tidak dimaksiati di dalamnya maka itulah sejatinya hari Ied. Setiap hari yang mana setiap mukmin melakukan amal ketaatan kepada Allah, selalu berdzikir dan bersyukur pada-Nya, maka itulah sejatinya hari Ied.” -[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 278]

Seseorang datang menemui Amirul Mu’minin ‘Alî Radhiyallâhu ‘anhu pada hari Iedul Fithri. Lalu ia dapati ‘Ali memakan roti yang sudah keras. Orang itu lalu berkata :

يا أمير المؤمنين، يوم عيد وخبز خشن

“Wahai Amirul Mu’minin, sekarang ini hari Ied namun roti yang Anda makan sudah keras (tidak layak)!”

Ali pun menimpali :

اليوم عيد مَن قُبِلَ صيامه وقيامه، عيد من غفر ذنبه وشكر سعيه وقبل عمله، اليوم لنا عيد وغدًا لنا عيد، وكل يوم لا يعصى الله فيه فهو لنا عيد

“Hari ini adalah Ied bagi orang yang diterima puasa dan sholatnya. Ied itu bagi orang yang diampuni dosanya, diapresiasi jerih payahnya dan diterima amalnya. Hari ini dan esok adalah Ied bagi kita. Bahkan setiap hari itu adalah Ied bagi orang yang tidak memaksiati Allah di dalamnya. Inilah Ied kita (yang sesungguhnya).”

Abûl Manshûr asy-Syîrâzî rahimahullâhu di dalam majelis beliau di tanah suci pada hari Ied, pernah berwasiat :

لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ غُرِفَ لَهُ إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ غُفِرَ لَهُ

“Ied itu bukanlah bagi orang yang disuguhkan dengan berbagai makanan namun Ied itu adalah bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.” -[Mu’jamus Safar hal 312]

Sebuah kaum pernah melewati seorang pendeta suatu negeri, lalu bertanya kepadanya :

متى عيد أهل هذا الدير؟

“Kapan Ied penduduk negeri ini?”

Pendeta itu menjawab :

يوم يغفر لأهله

“Di hari ketika penduduknya diampuni (maka itulah Ied mereka).” -[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 277]

Al-Ma’mûn pernah berkhutbah di hari Ied mengatakan :

فَوَاللهِ! إِنَّهُ لَلْجِدُّ لا اللَّعِبُ، وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ لا الْكَذِبُ، وَمَا هُوَ إِلا الْمَوْتُ وَالْبَعْثُ وَالْحِسَابُ وَالْفَصْلُ وَالصِّرَاطُ ثُمَّ الْعِقَابُ وَالثَّوَابُ، فَمَنْ نَجَا يَوْمَئِذٍ؛ فَقَدْ فَازَ، وَمَنْ هَوَى يَوْمَئِذٍ؛ فَقَدْ خَابَ، الْخَيْرُ كُلُّهُ فِي الْجَنَّةِ، وَالشَّرُّ كُلُّهُ فِي النَّار

“Demi Allah! Sesungguhnya waktu ini adalah untuk bersungguh-sungguh bukan untuk bermain-main. Waktu ini untuk kebenaran bukan untuk kedustaan. Dan ia takkan terlepas dari kematian, kebangkitan, perhitungan (hisab), pemisahan (antara orang yang beruntung dan celaka), titian (shirath), kemudian hukuman dan balasan pahala. Barangsiapa yang selamat di hari itu maka ia telah menang. Dan barangsiapa yang terjerembab pada hari itu maka ia telah celaka. Semua kebaikan itu pasti di surga dan semua keburukan pasti di neraka.” -[Al-Mujâlasah wa Jawâhir al-‘Ilm V/146]

Ada sejumlah salaf saat hari Ied, tampak rona kesedihan pada mereka. Lalu orang-orang bertanya :

إنه يوم فرح وسرور

“Sesungguhnya Ied ini hari kegembiraan dan bersenang-senang.”

Ulama salaf tersebut menjawab :

صدقتم ولكني عبد أمرني مولاي أن أعمل له عملا فلا أدري أيقبله مني أم لا؟

“Kalian benar. Namun sesungguhnya saya ini hanyalah seorang hamba yang diperintah oleh Tuan saya untuk melakukan suatu amalan yang saya sendiri tidak tahu apakah akan diterimanya atau tidak?.” -[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 209]

Di hari Ied, datanglah puteri-puteri ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz. Mereka berkata kepada ayahnya :

يا أمير المؤمنين، العيد غدًا، وليس عندنا ثياب جديدة نَلْبَسُها

“Wahai Amirul Mu’minin, besok sudah hari Ied sedangkan kami tidak memiliki pakaian baru untuk bisa kami kenakan.”

Umar bin ‘Abdil ‘Azîz pun menjawab :

يا بناتي، ليس العيد من لبس الجديد، إنما العيد لمن خاف يوم الوعيد

“Wahai puteri-puteriku, sesungguhnya Ied itu bukanlah dengan berpakaian baru, namun Ied itu adalah bagi orang yang takut dengan hari pembalasan.” -[‘Umar bin Abdil ‘Azîz Kânat Hayâtuhu Mu’jizah karya Muhammad Jum’ah]

Dikisahkan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz melihat puteranya yang bernama ‘Abdul Mâlik mengenakan pakaian usang di hari Ied. Hal ini menyebabkan beliu bercucuran air mata. Putera beliau pun memperhatikan ayahnya yang menangis lalu bertanya :

ما يبكيك يا أبتاه ؟

“Apa yang menyebabkan Anda menangis wahai ayahanda?”

Umar bin ‘Abdul ‘Azîz pun menjawab :

: أخاف أن تخرج يا بني في هذه الثياب الرثة إلى الصبيان لتلعب معهم فينكسر قلبك

“Saya khawatir wahai anakku, saat kamu keluar rumah dan bermain dengan anak-anak yang lain, mereka akan memperolokmu sehingga hatimu pun menjadi remuk karenanya.”

Abdul Mâlik, putera yang berbakti itupun mengatakan :

إنما ينكسر قلب من عصى مولاه وعق أمه وأباه… وأرجو أن يكون الله راضيا عني برضاك عني يا أبي…

“Sesungguhnya hakikat hati yang remuk itu adalah apabila seseorang bermaksiat kepada tuhannya dan berbuat durhaka kepada ibu bapaknya. Saya berharap agar Allah meridhaiku melalui keridhaan anda kepadaku wahai ayahanda…”

Umar pun memeluk erat anaknya tersebut ke dadanya, mencium dahinya dan mendoakannya., ‘Abdul Mâlik adalah putera ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz yang paling zuhud. -[‘Al-Îd Qulûb Muwahhadah wa ‘Âdât Mukhtalafah]

Diriwayatkan bahwa Imam Mâlik bin Anas rahimahullâhu pernah berkata :

للمؤمن خمسة أعياد: كل يوم يمر على المؤمن ولا يكتب عليه ذنب فهو يوم عيد, اليوم الذي يخرج فيه من الدنيا بالإيمان فهو يوم عيد, واليوم الذي يجاوز فيه الصراط ويأمن أهوال يوم القيامة فهو يوم عيد, واليوم الذي يدخل فيه الجنة فهو يوم عيد, واليوم الذي ينظر فيه إلى ربه فهو يوم عيد

Orang yang beriman memiliki 5 hari Ied :

Setiap hari yang berlalu melewati seorang mu’min dan tidak dicatat baginya perbuatan dosa, maka ini adalah hari Ied.

Hari yang seorang mu’min meninggalkan dunia dengan keimanan, maka ini adalah hari Ied.

Hari yang seorang mu’min bisa melewati titian Shirath dan selamat dari ujian hari kiamat yang mengerikan, maka ini adalah hari Ied.

Hari yang mana seorang mu’min masuk ke dalam surga, maka ini adalah hari Ied.

Dan hari yang mana seorang mu’min bisa memandang wajah Rabb-nya, maka inilah hari Ied. -[Farhatul Ied karya Badr ‘Abdul Hamîd Humaisoh].

Disebutkan, bahwa Imam Ibnul Jauzi rahimahullah pernah memberikan sebuah nasehat berharga yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. Beliau rahimahullah mengatakan:

إِنَّ الخَيْلَ إِذَا شَارَفَتْ نِهَايَةَ المِضْمَارِ, بَذَلَتْ قُصَارَى جُهْدِهَا لِتَفُوزَ بِالسِّبَاقِ, فَلَا تَكنِ الخَيْلُ أفطَنَ مِنْكَ, فَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيمِ, فَإِنَّكَ إِذَا لَمْ تُحْسِنْ الاِسْتِقْبَالَ, لَعَلَّكِ تُحْسِنُ الوَدَاعَ

“Seekor kuda pacu jika sudah mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan. Karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu. Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya, maka ketika kamu termasuk orang yang tidak baik dalam penyambutan, semoga  kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan."


Lailatul Qodar Menurut Habib Luthfi bin Yahya

Lailatul Qodar Menurut Habib Luthfi bin Yahya

Lailatu Qodar Bagi Orang Awam

LAILATUL QODAR BUAT ORANG AWAM PAKET HEMAT/RINGAN 

Maulana Habib Luthfi bin yahya dalam buku cahaya nusantara hal 278-279 berpesan kepada kepada para santri dan muridnya untuk tidak mengharapkan yg muluk muluk dalam Lailatulqodar. Beliau hanya memerintahkan untuk selalu berdoa agar bisa masuk dalam doa orang-orang yang mendapatkan Laialatulqodar dan memperoleh barokah mereka.

Bahkan menurut Syeh al'arif Asshowy, (Tafsir Showi Surah Al Qodar) orang yg masih merasa keberatan untuk qiyamullail/traweh dianjurkan untuk memilih melakukan amal amaln yang ringan saja tapi yang berpahala jumbo.

Diantaranya:

1- Berjamaah magrib dan isya

من صلى المغرب والعشاء في جماعة فقد أخذ بحظ وافر من ليلة القدر

"Barangsiapa sholat magrib & isya berjamaah maka telah menganbil bagian yang sempurna dari lailatulqodar"

2- membaca sebanyak tiga kali di malam hari doa berikut:

لا إلٰهَ إلَّا اللّٰهُ الحَلِيمُ الكَرِيمُ سُبْحانَ اللّٰـهِ رَبِّ السَّمٰـواتِ السَبْعِ وَرَبِّ الْعَرْشِ الْعَـظِيْمِ

"Tiada Tuhan selain Alloh yang maha Pemaaf serta Pemurah. Maha suci Alloh penguasa langit tujuh dan Penguasa 'arash yang agung"

Telah diriwayatkan barangsiapa membaca doa diatas tiga kali di malam hari maka sama dg orang yg meraih lailatulqodar. Doa ini sebaiknya dibaca tiap malam.

Capt: Catatan pribadi el.karimy

Denanyar Sabtu 19 Romadlon 1442 H.
Asyrulawakhir

Saking KH. Ali Khidlir pp_annajah

Semoga kita senantiasa mendapat Ridlo dari Allah, Syafaat dari Rasullullah, Karomah para Waliyullah, Barokah para Kiai dan Habaib serta wasilah doa orang tua kita. Alfatihah..

Bagi Anda yang ingin mengamalkan ijazah-ijazah di atas, silakan share postingan ini dan ketik "Qobiltu (saya terima)" pada kolom komentar dibawah ini.

Silakan bagikan jika postingan ini bermanfaat 

اللهم صل وسلم علی سيدنا محمد وعلی آل سيدنا محمد

Follow tedisobandi.blogspot.com


Hitungan Lailatul Qodar  Menurut Para Ulama

Hitungan Lailatul Qodar Menurut Para Ulama

Kapan Lailatul Qodar

Di antara ulama yang menyatakan bahwa ada kaidah atau hitunagn untuk mengetahui itu adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450 H- 505 H) dan Imam Abul Hasan as Syadzili. Bahkan dinyatakan bahwa Syekh Abu Hasan semenjak baligh selalu mendapatkan Lailatul Qadar dan menyesuaikan dengan kaidah ini.

Kaidah Menandai  Lailatul Qadar di Beberapa Kitab Salafiyah Kuno;
Pertama : Dalam kitab I’anatuththaalibiin juz II halaman 257, cetakan al ‘Alawiyyah Semarang:

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر،
فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء: فهي ليلة تسع وعشرين.
أو يوم الاثنين: فهي ليلة إحدى وعشرين.
أو يوم الثلاثاء أو الجمعة: فهي ليلة سبع وعشرين.
أو الخميس: فهي ليلة خمس وعشرين.
أو يوم السبت: فهي ليلة ثلاث وعشرين
 قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة

Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadan:

  1. Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu maka lailatul qodar malam ke-29
  2. Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-21
  3. Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka lailatul qodar malam ke-27
  4. Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam ke-25
  5. Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam ke-23

 Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata:
“Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah melesat dengan jadwal atau qaedah tersebut."

Kedua : Dalam kitab Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337, cetakan Daar Ihya al Kutub a ‘Arabiyyah :

فعن أبي الحسن الشاذلي إن كان أوله الأحد فليلة تسع وعشرين ، أو الإثنين فإحدي وعشري أو الثلاثاء فسبع وعشرين أو الأربعاء فتسعة عشر أو الخميس فخمس وعشرين أو الجمعة فسبعة عشر أوالسبت فثلاث وعشرين

Dari Syaih Abi Hasan Asyadzili

  1. Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam ke-29
  2. Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-21
  3. Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam ke-27
  4. Jika awal Ramadhan hari Rabu maka lailatul qodar malam ke-19
  5. Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam ke-25
  6. Jika awal Raamadhan hari Jumat maka lailatul qadar malam ke-17
  7. Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka lailatul qadar malam ke-23

Ketiga : Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 , cetakan Syirkah al Ma’arif Bandung:

وذكرو لذلك ضابطا وقد نظمه بعضهم بقوله
: وإنا جميعا إن نصم يوم جمعة ¤ ففي تاسع العشرين خذ ليلة القدر
وإن كان يوم السبت أول صومنا ¤ فحادي وعشرين اعتمده بلا عذر
. وإن هل يوم الصوم في أحد ففي ¤ سابع العشرين ما رمت فاستقر
. وإن هل بالأثنين فاعلم بأنه ¤ يوافيك نيل الوصل في تاسع العشري
 ويوم الثلاثا إن بدا الشهر فاعتمد ¤ علي خامس العشرين تحظي بها فادر
وفي الإربعا إن هل يا من يرومها ¤ فدونك فاطلب وصلها سابع العشري
ويوم الخميس إن بدا الشهر فاجتهد ¤ توافيك بعد العشرفي ليلة الوتر

Ulama telah membuat Nadzhoman mengenai rumusan Lailatul Qodar

  1. Jika awal Ramadhan hari Jumat maka lailatul qodar malam ke-29
  2. Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam ke-21
  3. Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam ke-27
  4. Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-29
  5. Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam ke-25
  6. Jika awal Raamadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam ke-27
  7. Jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam ke-20

Wallaahu A’lamu Bishshawaab. Semoga bermanfaat.

Risalah Nishfu Sya'ban | Ponpes Miftahul Huda

Risalah Nishfu Sya'ban | Ponpes Miftahul Huda

Risalah Nisfu Sya'ban

Buku Risalah Malam Nisfu Sya'ban dalam bahasa Sunda karya KH. Asep Muhammad Tohir Sh Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya

Buku ini memuat catatan tentang Risalah Malam Nisfu Sya'ban dari Keutamaan, Hikmah, Kejadian dan juga dalil-dalil amalan ditambah dengan amalan-amalan di Malam Nisfu Sya'ban seperti membaca surat Yasin 3 kali dengan 3 niat di setiap satu kali pembacaanya yaitu: Dengan niat panjang umur. Niat dijauhkan dari balai dan musibah, Niat di berikan kecukupan dan kekayaan dan juga husnul Khotimah.

Buku ini layak dimiliki oleh para santri ataupun masyarakat yang sudah menjadikan Malam Nisfu Sya'ban sebagai tradiri baik dalam menghidupkan Malam Nisfu Sya'ban.

Muqaddimah Bahasa Sunda

Kalayan Inayah Alloh SWT. Alhamdulillah ieu risalah tiasa diterbitkeun deui, anu kawitna sim kuring dipiwarang ku Syaikhuna KH. Choer Affandi kanggo ngempelken dalil-dalil sareng katerangan anu netelakeun wengian Nishfu Sya'ban, supados kawirid ku sadayana.

Sajabi ngumplitan katerangan boh tina Al-Qur'an atanapi tina Al-Hadits, ieu risalah ngamuatkeun amal-amalan anu kawirid di pesantren Miftahul Huda Manonjaya.

Teu aya sanes, supados para wargi uninga kalayan yaqin, rehna wengian Nisfu Sya'ban teh aya babaraha kakhususan, terutami kaunggulan tsawab atanapi ganjaran ibadah.

Mugi ieu risalah ageung manfaat na, oge janten wasilah kanggo urang sadaya nengingken Rohmat sareng Ridho Alloh SWT. Amiin



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Risalah Nishfu Sya'ban | Ponpes Miftahul Huda" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik