Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Terjemahan Kitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terjemahan Kitab. Tampilkan semua postingan
Terjemah Akhlak Lil Banin Juz 3 - Logat Sunda

Terjemah Akhlak Lil Banin Juz 3 - Logat Sunda


Terjemahan Kitab Akhlak Lil Banin Juz 3 - Logat Sunda


Sesuai dengan judul di atas, kami akan membagikan link untuk mengunduh kitab Akhlak Lil Banin versi PDF Jilid/Juz 3, lengkap dengan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab.

Namun sebelum itu, kami akan memaparkan secara singkat profil mengenai kitab Akhlak Lil Banin ini, serta memberikan gambaran tentang beberapa substansi penting yang terkandung di dalamnya. Simak selengkapnya:

Mengenal Kitab Akhlak Lil Banin Juz 3


Akhlak Lil Banin adalah salah satu kitab yang sangat populer di kalangan pelajar Islam, khususnya dalam bidang akhlak, adab, atau etika. Kitab ini disusun dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh para murid.

Pada Akhlak Lil Banin Jilid 1, penulis lebih memfokuskan pembahasannya pada pengenalan dasar-dasar etika atau akhlak. Sedangkan pada Jilid 2, penulis menekankan kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan oleh pelajar. Sementara itu, Akhlak Lil Banin Jilid 3 ini lebih menekankan pada permasalahan adab yang harus dimiliki oleh seorang pelajar, siswa, atau murid.

Di bagian awal Akhlak Lil Banin Jilid 3, penulis memaparkan secara rinci mengenai adab atau etika saat belajar, adab ketika duduk, serta berbagai jenis etika dalam berbicara atau bercakap.

Selain itu, kitab ini juga membahas etika ketika makan, baik saat makan sendirian maupun saat makan bersama-sama, yang dikenal dengan istilah moyoran dalam tradisi pesantren.

Pada bagian pertengahan, Akhlak Lil Banin Jilid 3 menjelaskan dengan detail mengenai adab ketika berkunjung dan meminta izin, adab menjenguk orang sakit, serta adab saat mengalami sakit.

Kitab ini juga mencakup pembahasan tentang adab ketika berziarah ke makam, adab saat menghadapi musibah, adab saat berkunjung untuk mengucapkan selamat, serta adab ketika bepergian.

Di bagian akhir, penulis memaparkan secara terperinci mengenai adab ketika tidur, adab saat bangun tidur, adab saat jam istirahat, dan adab ketika bermusyawarah.


DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Akhlak Lil Banin 3 - Logat Sunda" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Meluruskan Faham Bulan Safar bulan Sial (Kanzun Najah was Surur)

Meluruskan Faham Bulan Safar bulan Sial (Kanzun Najah was Surur)

Bulan Safar Bulan Sial.?

Peringatan penting yang dapat meluruskan banyak kesalahpahaman Bulan Safar


Di muat dan di terjemahkan dari kitab Kitab Kanzun Najah was Surur, Himpunan Doa Karya Syekh Abdul Hamid Kudus

Ketahuilah bahwa telah meriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam kitab Shohih keduanya dari Abi Hurairah ra. dari Nabi SAW beliau bersabda:

لاَعَدْوَى وَلاَ طيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya:"Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah (menganggap sial karena pertanda dari sebuah kejadian ), tidak ada pertanda sial dengan burung hantu dan tidak ada kesialan pada bulan Shafar."

Lalu seorang a'robi (pelosok desa) berkata: "Ya Rasulullah. kenapa ada seekor unta di padang pasir seperti seekor kijang lalu datang unta lainnya yang berkudis hingga unta pertama terkena kudisnya? Maka Rasullulah SAW bersabda:

Siapakah yang membuat unta" فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ ؟ pertama tertular?"

Aku katakan (dan hanya kepada Allah-lah kita mendapat taufiq): "Hadits ini banyak sekali yang meriwayatkannya. Dalam kitab Al - Masyariq karangan Syaikh Shoghoni merumuskan kepada Imam Bukhori

Sebaik - baik ramalan" و خير هَا الْفَأْلُ dari Abi Hurairah: adalah menganggap baik karena adanya ucapan yang baik". Dan dari Imam Bukhori dan Muslim dari Jabir ra.:

لاَعَدْوَى وَلَا طَيَرَةَ وَلَا غَوْلَ

Artinya: "Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah dan tidak ada ghaul yang menyesatkan jalan”. Dan di dalam kitab al-Jami'us shoghir karangan Imam Suyuthi merumuskan kepada musnad Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah ra.

لاَعَدْوَى وَلاَ طَيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَلَا غَوْلَ

Artinya: "Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah, tidak ada pertanda sial dengan burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan shafar dan tidak ada ghaul (syai'tan menyerupai manusia yang menyesatkan jalan)." Dan di dalam kitab Al-Atsar karangan Imam Thahawi dari Rasulullah SAW beliau bersabda:

العيَافَةُ وَالطَّيرَةُ وَالطَّرْقُ مِنَ الْحُبْت

Artinya:"Menerbangkan burung untuk menentukan baiknya dari sebelah kanan atau kiri, thiyarah, dan melempar kan dadu untuk keberuntungan adalah perbuatan syirik ."

Imam Suyuthi merumuskan ini kepada Imam abi Daud

Para ulama (semoga Allah merahmati mereka semua) berkata tentang penafsiran kalimat-kalimat tersebut dengan rinkas:

Arti: Yadalah tidak ada penularan penyakit kepada yang lainnya. Hadits ini menafsirkan keyakinan orang-orang jahiliyah tentang sebagian penyakit yang menurut mereka dapat menulari tanpa menyandarkan kepada Allah S.W.T.

Maka Nabi SAW membatalkan keyakinan mereka dengan sabdanya: "Tidak ada penyakit menular". Oleh karnanya ketika orang a'robi bertanya tentang unta yang sehat dapat terkena penyakit kudis hanya karna berkumpul dengan unta yang berkudis. maka Nabi SAW menjawab:" Siapakah yang dapat menulari unta yang pertama?" maksudnya unta yang pertama terkena kudis bukan dengan tertular melainkan dengan ketentuan dan takdir Allah S.W.T

Banyak sekali hadits-hadits yang pemahamannya agak sedikit rumit oleh kebanyakan orang bahkan sebagian mereka menganggapnya terhapus dengan hadits Nabi SAW: لا عدوى "tidak ada penyakit menular"

Di dalam dua kitab shohih dari Abi Hurairah ra dari Nabi SAW beliau bersabda:

لا يَرِدَنٌ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٌ

Artinya: "janganlah menggiring unta yang berpenyakit kepada unta yang sehat."
Hadits semisal itu juga adalah:

فرّ مِنَ الْمَحْذُوْم فَرَارَكَ مِنَ الْأَسَد

Artinya: "Menghindarlah kamu dari orang yang berpenyakit lepra seperti kamu menghindar dari singa"

Dan Hadits:

إِذَا سَمِعْتُمُ بالطَّاعُونِ في أَرْضِ فَلاَ تَدْخُلُو

Artinya: "Jika kamu mendengar penyakit thaun di suatu daerah maka janganlah kalian masuk." Mengatakan hadits-hadits ini mansyukh/ terhapus maka tidak ada artinya. Karena hadits Nabi SAW yang berbunyi su adalah berupa khobar maka tidak mungkin menghapus tiga hadits Nabi SAW di atas yang berupa nahyi (larangan).

Pendapat yang benar adalah yang disepakati mayoritas ulama yaitu, bahwa tidak ada naskh (penghapusan) dalam hadits di atas.

Makna yang sebenarnya dari hadits 5gy "tidak ada penyakit menular" adalah menafikan apa yang diyakini oleh orang-orang jahiliyah bahwa penyakitpenyakit tadi bisa menulari dengan sendirinya tanpa ada keyakinan takdir Allah SWT tentang hal itu seperti telah kamu ketahui. Dan dibuktikan dengan hadits Nabi siapakah yang menulari unta" فَمَنْ أَعْدَى الأَوَّلَ SAW: pertama?"

Adapun larangan Nabi SAW tentang menggiring unta yang berpenyakit kepada unta yang sehat dan perintah Nabi SAW untuk menghindari dari orang yang kena penyakit lepra juga larangan beliau SAW memasuki daerah berpenyakit thoun adalah usaha menjahui sebab-sebab datangnya musibah atau penyakit apabila berada pada orang yang sehat. Sebagaimana diperintahkan menjaga dirinya jangan sampai tenggelam atau terbakar atau masuk ke dalam gedung yang runtuh dan semisalnya yang sudah biasa yang menyebabkan celaka.

Demikian pula menjauhi kedekatan pada orang yang berpenyakit lepra dan memasuki daerah yang penduduknya terjangkit thoun merupakan usaha menghindar dari sebab-sebab penyakit dan kebinasaan.

Sedangkan Allah-lah yang menciptakan sebab mu-sababnya, tidak ada yang menciptakan dan menentukan selain Allah SWT. Imam Abu Daud telah meriwayatkan bahwasanya Nabi SAW jalan dan melewati tembok yang miring maka Beliau SAW mempercepat langkahnya danbersabda :

اَخَافُ مَوْتَ الْفَوَات

"Aku takut mati mendadak"

Jika engkau bertanya: "Jabir meriwayatkan bahwasanya Nabi SAW makan bersama orang yang terjangkit lepra dan beliau SAW mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ ثقَةً بِاللهِ وَتَوَكَّلاً عَلَيْهِ

Artinya: "Dengan nama Allah,aku percayakan dan pasrahkan kepada-Nya".

Maka apa maksudnya?

Jawabnya adalah Sesungguhnya keadaan Nabi SAW lebih kuat daripada keadaan umatnya. Maka tidak dikhawatirkan apa yang di khawatirkan orang lain dari penyakit menular. Yang di nafikan adalah penularan dengan sendirinya, sedangkan perintah untuk menghindarinya karena Allah SWT memberlakukan kebiasaan adanya penyakit menular ketika berkumpul seperti yang engkau ketahui.

Atau agar tidak menyatu sedikitpun dari taqdir Allah bagi yang berkumpul,sehingga ia menyangka hal itu karena tertular maka ia terjerumus pada pemikiran yang salah. Atau supaya orang yang berpenyakit tidak merasa di kucilkan. Atau alasan-alasan lainnya yang di sebutkan di dalam kitab syarh al-Bukhori. Imam Syanwani menyebutkan kesimpulan semuanya dalam kitab Mukthashor Ibnu Abi Jamrah.

Arti : ولا طيرة adalah menganggap sial karena pertanda dari suatu kejadian apa saja. Asal maknanya adalah menganggap sial karena pertanda dari burung.

Orang-orang jahiliyah dahulu menaruh kepercayaan pada burung. Apabila mereka hendak keluar untuk keperluan,terlebih dahulu mereka melihat burung. Jika burung terbang ke arah kanan mereka menganggapnya baik dan jika terbang ke arah kiri mereka menganggapnya sial dan mengurungkan kepergiannya. Terkadang mereka juga menerbangkan burung untuk menentukan baik dan sial mereka. Maka Nabi SAW melarangnya dan membatalkannya dan beliau SAW bersabda :

وخير هَا الْفَأْلُ

"Dan sebaik-baik hal itu adalah al-Fa'lu yaitu menganggap baik urusan karena mendengar ucapan yang baik."

Contoh seperti orang yang ingin pergi lalu mendengar orang berkata: "Ya salaam, ya salaam" (keselamatan-keselamatan) atau mendengar ucapan orang sakit: "Wahai yang memberi keselamatan, wahai yang memberi kesembuhan."

Oleh karena itu terdapat hadist bahwasanya Nabi SAW tidak pernah menganggap atau meramalkan kesialan dengan suatu kejadian akan tetapi beliau menganggap kebaikan dengan adanya ucapan yang baik. Dahulu Rosullullah SAW apabila keluar untuk keperluan senang mendengar orang yang berucap: "Wahai yang memberi petunjuk."

Konon sebagian orang-orang jahiliyah yang berakal mengingkari anggapan buruk dengan suatu kejadian. Seorang penyair di antara mereka berkata:

لعَمْرُكَ مَا تَدْرِي الضَّوَارِبُ بِالْحَصَى
وَلَا زَاجِرَاتُ الطَّيْرِمَا اللَّه صَانعُ

Artinya: "Sungguh orang-orang yang melempar dadu, dan yang menerbangkan burung tidak mengetahui apa yang akan Allah lakukan."

Konon mereka meramalkan nasib baik dan bu-ruk dengan burung dan menaruh kepercayaan padanya, terkadang ramalan mereka tepat dan benar karena syaitan menghiasi hal itu kepada mereka. Hingga sekarang banyak kaum muslimin yang mengikutinya.

Ibnu Hibban telah mengeluarkan hadist di dalam kitab shohihnya dari hadist Anas yang di marfu'kan bahwasanya Nabi SAW bersabda :

لاَ طَيْرَ وَالطَّيْرُ عَلَى مَنْ تَطَيَّرَ

Artinya: "Tidak ada anggapan sial karna sesuatu, dan kesialan itu bagi orang yang beranggapan sial." Ibnu 'Adi juga mengeluarkan hadist dengan dua sanad dari Abi Hurairah yang di marfu'kan:

إذَا تَطَيَّرْتُمْ فَامْضُوا وَ عَلَى اللَّه فَتَوَكَّلُوا

Artinya: "Apabila kalian beranggapan sial karena sesuatu, maka ber-lalulah dan pasrahkan kepada Allah SWT."

Imam Thobroni mengeluarkan hadist dari Abi Darda yang di marfu'kan:

لاَ يَنَالُ الدَّرَاجَاتِ الْعُلَى مَنْ تَكَهَّنَ أَوِ اسْتَقْسَمَ أَوْ رَجَعَ مِنْ سَفَرٍ تَطَيُّرًا

Artinya:"Tidak akan mencapai derajat yang tinggi orang yang berdukun, atau minta untuk di ramal atau orang yang mengurungkan kepergiannya karena melihat burung."

Faedah:

Imam Baihaqi mengeluarkan hadist dalam kitab asSyu'aib dari hadist Abdullah bin Umar secara mauquf:

مَنْ عَرَضَ لَهُ مِنْ هَذه الطَّيَرَةَ شَيْءٌ فَلْيَقُلْ: اَللَّهُم لاَ طَيْرَ الا طَيْرُكَ وَ لاَخَيْرَ الاَ خَيْرُكَ وَ لا الهَ غَيْرُكَ

Artinya: "Barangsiapa yang muncul dalam betikan hatinya merasa sial karena melihat burung maka ucapkanlah: Ya Allah, tidak ada ramalan baik atau buruk kecuali Engkau telah menentukannya, tidak ada kebaikan kecuali Engkau telah menentukannya dan tidak ada Tuhan selain-Mu."

Abi Daud, Dalam kitab Marosilnya Imam bahwasanya Nabi SAW bersabda: "Seorang hamba tidak jarang terlintas dalam hatinya merasa sial karena suatu kejadian, apabila merasakan hal itu maka ucapkanlah :

أَنَا عَبْدُ اللهِ مَا شَاءَ الله لَاقُوَّةَ الا بالله لا يَأْتي بالْحَسَنَات الا الله وَلاَ يُذْهَبُ السَّيِّئآت الا الله أَشْهَدُ اَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Artinya: "Aku hamba Allah, segala sesuatu atas kehendak Allah, tiada kekuatan melainkan dari Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah, tidak ada yang menghilangkan keburukan kecuali Allah. Aku bersaksi bahwasanya Allah Maha mampu atas segala sesuatu."

Kesimpulan dari hadist-hadist di atas, bahwa barangsiapa yang terlintas dalam hatinya anggapan akan terjadi sial karena sesuatu, maka ucapkanlah :

أنا عَبْدُ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ لَاقُوَّةَ الا بالله. اَللَّهُمَّ لَاَ طَيْرَ الا طَيْرُكَ وَلَا خَيْرَ إِلا خَيْرُكَ وَلَا إِلَه غَيْرُكَ. اللَّهُمْ لاَ يَأْتى بالْحَسَنَات الا الله وَلَا يُذْهَبُ السَّيِّئآت الا اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَلَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

Artinya: "Aku hamba Allah, tidak ada kekuatan melainkan dari Allah. Ya Allah, tidak ada anggapan sial, dan baik semuanya telah Engkau tentukan. Ya Allah tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau Tidak ada yang menghilangkan keburukan kecuali Engkau. Aku bersaksi bahwa Allah Maha mampu atas segala sesuatu. Tidak ada daya-dan upaya melainkan hanyalah dari Allah yang Maha tinggi lagi Maha Agung."

Arti lafadz وَلاَ هَامَةَ, asal artinya adalah kepala. Dạn biasa di artikan burung malam. Inilah yang di maksud. Pendapat lain mengartikan burung hantu. Orang-orang jahiliyah merasa akan bernasib sial apabila ada burung hantu hinggap di atas rumah mereka, muncul perasaan bahwa burung tersebut membawa berita kematian dirinya sendiri atau salah satu anngota keluarganya.

Dari cerita ini dapat di artikan وَلاَ هَامَةَ Tidak ada anggapan sial karena burung hantu.

Ada pendapat ulama lain menceritakan: Konon orang arab menyangka bahwa ruh orang yang terbunuh yang belum di tuntut balasnya akan berubah menjadi burung hantu dan berkata: "Tuntutlah balasku, tuntutlah balasku." Dan akan terbang jika telah di tuntut balasnya.

Dari cerita yang ini dapat di artikan (ولا هامة)Tidak ada kehidupan lagi bagi si mayit dengan menjadi burung hantu". Maka Nabi SAW menafikan itu semua.

Arti lafadzis (لا صفر) tidak ada kesialan dalam bulan shofar" adalah "tidak ada bulan shofar yang di akhirkan dari tempatnya." Hadist ini menolak keyakinan tentang adanya penundaan bulan. konon orang arab menunda bulan muharram dan memasukkannya ke dalam bulan shofar. Dan menjadikan bulan shofar bulan yang di sucikan. Maka Nabi SAW menafikan hal itu.

Yang di maksud adalah bahwa mereka menganggap akan ada sial dengan datangnya bulan shofar.Mereka beranggapan banyak musibah dan fitnah yang akan terjadi di bulan itu. Karena hal ini maka hadits

لا صفر

dapat diartikan “Tidak ada anggapan sial dengan bulan shofar, semua bulan sama dengan bulan-bulan yang lainnya."

Dan arti lafadz وَلاَ غَوْلَ Tidak ada ghul yang menyesatkan jalan." Konon orang arab beranggapan ada jenis syaitan yang menampakkan dirinya kepada manusia yang menyesatkan arah jalan dan membuat celaka. Dari hal ini, maka hadist itu bermakna "Tidak ada wijud syaitan yang dapat menyesatkan orang dari arah jalan


Terjemahan al-Akhlaqu Lil Banat Juz 1 - Logat Sunda

Terjemahan al-Akhlaqu Lil Banat Juz 1 - Logat Sunda

Akhlak Lil Banat

Karya Syaikh Umar bin Achmad Baradja: Pedoman Akhlak untuk Anak Perempuan

Syaikh Umar bin Achmad Baradja adalah seorang ulama terkemuka yang lahir di Kampung Ampel Maghfur, pada 10 Jumadil Akhir 1331 H (17 Mei 1913 M). Beliau wafat pada 16 Rabiul Akhir 1411 H (3 November 1990) di RS Islam Surabaya, pada usia 77 tahun. Karya-karyanya, khususnya dalam bidang pendidikan akhlak, telah menjadi referensi penting bagi generasi Muslim.

Salah satu karya monumental beliau adalah kitab Akhlak Lil Banat. Kitab ini sangat spesial karena dirancang khusus untuk mendidik anak-anak perempuan agar memiliki akhlak yang baik dan beradab. Kitab ini dibagi menjadi beberapa juz, di mana juz pertama memberikan dasar-dasar pembentukan karakter dan akhlak yang baik sejak usia dini.

Secara garis besar, juz pertama dari Akhlak Lil Banat mengajarkan anak-anak perempuan tentang pentingnya mengenal Allah, Nabi, dan malaikat-Nya. Dalam kitab ini, Syaikh Umar menjelaskan bahwa Allah adalah pencipta alam semesta yang harus disembah dan ditaati. Anak-anak diajarkan untuk memahami keesaan Allah dan pentingnya menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Selain itu, kitab ini juga mengajarkan tentang akhlak kepada orang tua. Anak-anak diajarkan untuk selalu menghormati dan mentaati orang tua mereka, karena orang tua adalah orang yang paling berjasa dalam kehidupan mereka. Syaikh Umar memberikan contoh-contoh perilaku yang harus ditunjukkan oleh anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, seperti bagaimana bersikap baik kepada orang tua, guru, teman, dan bahkan terhadap tetangga.

Bagian yang tak kalah penting dalam juz pertama ini adalah ajaran tentang sopan santun dalam berbagai situasi. Anak-anak perempuan diajarkan bagaimana bersikap sopan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, bagaimana menghormati orang yang lebih muda, dan bagaimana menjaga adab dalam pergaulan sehari-hari. Di akhir juz pertama, Syaikh Umar memberikan nasihat khusus yang ditujukan kepada para murid, agar mereka memahami pentingnya menghormati guru dan bersikap baik selama proses belajar.

Kitab Akhlak Lil Banat tidak hanya menjadi panduan bagi para pendidik di pesantren, tetapi juga sangat relevan bagi para orang tua. Syaikh Umar menegaskan pentingnya menanamkan akhlak yang baik pada anak perempuan sejak dini, karena akhlak yang mereka pelajari di masa kecil akan menjadi bekal berharga ketika mereka dewasa. Pendidikan akhlak yang baik akan menjadi fondasi bagi kebahagiaan dan kesuksesan mereka di masa depan.

Untuk orang tua yang anaknya belum bisa membaca bahasa Arab, kitab ini juga tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia. Dengan demikian, para orang tua tetap dapat mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam kitab ini meskipun anak-anak mereka belum fasih dalam bahasa Arab.

Akhlak Lil Banat karya Syaikh Umar bin Achmad Baradja merupakan salah satu kitab yang sangat penting dalam pendidikan akhlak bagi anak perempuan. Kitab ini tidak hanya memberikan tuntunan yang jelas dan praktis, tetapi juga sangat mudah dipahami oleh anak-anak, menjadikannya sebagai salah satu referensi utama dalam pendidikan akhlak di kalangan Muslim.

Nama kitab: Terjemah Al-Akhlaq lil Banin Juz 1
Judul asal dalam teks Arab: الأﺧﻼﻕ ﻟﻠﺒﻨﻴﻦ الجزء الأول لطلاب المدارس الإسلامية بإندونيسيا
Makna: Pelajaran Budi Pekerti Islam untuk Anak Laki-laki Bagian 1
Penulis: Umar bin Ahmad Baraja


Daftar isi:

  1. Dengan apa seorang anak beradab?
  2. Anak yang Santun dan beradab
  3. Anak Yang Buruk Akhlak
  4. Seorang anak wajib beradab sejak dari kecilnya
  5. Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi




DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemahan al-Akhlaqu Lil Banat Juz 1 - Logat Sunda" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Bulan Safar terjemah kanzun najah was surur

Bulan Safar terjemah kanzun najah was surur

Bulan Safar

Amalan yang Dianjurkan di Bulan Shofar


Ketahuilah bahwasannya seperti yang dinukil dari ucapan orang-orang sholeh (akan datang keterangannya) yaitu akan turun di hari rabu terakhir dari bulan shofar bala' yang sangat besar. Musibah-musibah yang terpisah di seluruh tahun akan diturunkan dihari itu.

Maka barangsiapa yang ingin keselamatan dan penjagaan hendaknya berdo'a di hari pertama bulan shofar dan dihari rabu terakhirnya dengan do'a dibawah ini. Barangsiapa yang berdo'a dengannya, Allah akan menolak kejelakan bala tersebut darinya. Demikianlah ku temukan tulisan sebagian orang-orang sholeh.

Do'a dihari pertamanya adalah :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْله، وأَعُوْذُ بِجَلاَلكَ وَجَلاَلِ وَجْهِكَ، وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْسِكَ، أَنْ تُجِيْرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَأَهْلِي وَأَحْبَابِي، وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَهُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هذهِ السَّنَةِ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيْهَا وَاصْرِفَ عَنِّيْ شَرَّ شَهْرٍ صَفَرَ، يَا كَرِيْمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لِي فِي هذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلاَدِي، وَلأَهْلِي، بمَا تُحيْطُهُ شَفَقَهُ قَلْبِي وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَصَلَّى الله تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم

Artinya:" Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya. Aku berlindung dengan Allah dari keburukan zaman dan penduduknya. Aku berlindung dengan keagungan-Mu dan keagungan wajah-Mu dan kesempurnaan keagungan suciMu, selamatkan aku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang kucintai dan kusayangi dari kejelekan yang Engkau putuskan di tahun ini. Hindarkan aku dari kejelekan bulan shofar, wahai yang Maha Mulia pandangan-Nya, akhiri tahun ini untukku dengan keselamatan, afiyat, keberuntungan dan untuk kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku dan orang-orang yang kusayangi juga untuk semua kaum muslimin. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salamNya kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya".

Aku juga menemukan catatan sebagian orangorang sholih "bahwa barangsiapa setiap hari di bulan shofar membaca do'a berikut, maka Alllah SWT akan menjaganya dari penyakit, musibah dan bala' ditahun itu hingga shofar yang akan datang. Inilah do'anya :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبيِّكَ وَرَسُوْلكَ النّبيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آله وَبَارِك وَسَلّم، اَللّهُمَّ إنّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هذَا الشَّهْر وَمِنْ كُلِّ شَدّة وَبَلَاءٍ وَبَلِيَّةٍ قَدَّرْتَهاَ فِيْهِ يَا دَهْرُ يَا مَالِكَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة يَا عَالِماً بِمَا كَانَ وَمَا يَكُونُ وَمَنْ إِذَا اَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ يا أَزَليُّ يَا أَبَدِيُّ يَا مُبْدِىُ يَا مُعِيْدُ يَاذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَام يَا ذَا الْعَرْشِ الْمَجِيد أَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيدُ،

اللّهُمُ احْرُسُ بِعَيْنِكَ نَفْسي وَأَهْلِي وَمَالِي وَوَلَدِي وَدِيْنِي وَدُنْيَايَ الَّتِي ابْتَلَيْتَنِي بِصُحْبَتِهَا بِحُرْمَةِ الأَبْرَارِ وَالأَخْيَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا عَزِيرُ يَا غَفَارُ يَا كَريمُ يَاسَتّارُ برَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمينَ، اللّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِي عَنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا إلهَ إلّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبه وَسَلَّمَ أَجْمَعِيْنَ.

Artinya:" Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah limpahkanlah rahmat, berkah dan salam-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, hambaMu, Nabi-Mu, Rosul-Mu, Nabi yang ummi dan keluarganya. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari keburukan bulan ini, dari kesulitan, bala dan musibah yang Engkau takdirkan di dalamnya, wahai yang Maha Kekal, wahai penguasa dunia dan akhirat. Wahai yang Maha mengetahui yang telah ada dan yang akan ada dan yang apabila menghendaki segala sesuatu la hanya berkata : jadilah, maka terjadilah. Wahai yang Maha Azali, yang Maha Abadi, yang Maha memulai, yang Maha mengembalikan, wahai yang memiliki ke agungan dan kemuliaan, wahai yang memiliki arsy yang Mulia, Engkau melakukan yang Engkau kehendaki.

Ya Allah, jagalah dengan pandangan-Mu diriku, keluargaku, hartaku, anakku, agamaku dan duniaku yang Engkau takdirkan aku di dalamnya dengan kemuliaan orang-orang baik, dengan rahmatMu, wahai yang Maha Mulia, wahai yang Maha Mengampuni, wahai yang Maha Mulia, wahai yang maha menutupi dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih di antara yang pengasih. Ya Allah, yang maha kuat, wahai yang maha mulia, menjadi hina karena kemuliaan-Mu seluruh makhluk-Mu. Cukupkan aku dari semua makhlukMu. Wahai yang Maha berbuat baik, yang Maha Indah, wahai yang Maha dermawan, wahai yang memberikan nikmat, wahai yang maha mulia, wahai yang tiada Tuhan selain Engkau dengan rahmat-Mu wahai yang maha pengasih di antara yang pengasih. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salamNya kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya."

Berkata al-Allamah Syaikh Dairobi di dalam Mujarrobatnya: " Faedah sebagian orang 'arif dari ahli kasyf dan tamkin menyebutkan bahwa akan turun setiap tahunnya 320.000 bala' (tiga ratus dua puluh ribu). Dan semuanya itu akan turun dihari rabu terakhir dari bulan shofar. Maka hari itu merupakan hari yang sangat susah dari hari-hari lain sepanjang tahun. Barangsiapa yang melakukan sholat empat rokaat di hari tersebut di setiap rokaatnya setelah fatihah membaca surat "alkautsar" 17 kali dan al-ikhlas 5 kali dan surat al-falaq dan an-nas masing-masing satu kali setelah selesai salam membaca do'a berikut, maka Allah SWT dengan kedermawanannya akan menjaganya dari semua bala' yang turun dihari itu. Dan tidak akan mendekat padanya satu balapun dari bala - bala tersebut hingga sempurna tahunnya. Inilah do'a yang agung itu :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، اَللّهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالَ يَا عَزِيزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ اكْفِنِي مِنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ يَامُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَامَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اللَّهُم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اكْفنيْ شَرَ هذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِي فَسَيَكْفِيْكَهُمُ الله وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيْمُ، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ ، وَصَلَّى الله تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam-Nya kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya. Wahai dzat yang Maha kuat da perkasa, wahai yang Maha Mulia telah hina karena kemuliaan-Mu seluruh makhluk-Mu. Cukupkan aku dari semua makhluk-Mu, wahai yang Maha berbuat baik, wahai yang Maha Indah, wahai yang Maha member keutamaan, wahai yang Maha member nikmat, wahai yang Maha mulia, wahai yang tiada Tuhan selain Engkau dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih di antara yang Pengasih. Ya Allah, dengan rahasia Hasan dan saudaranya, kakek dan ayahnya lindungi aku dari kejelekan hari ini dan bala yang turun di dalamnya wahai yang maha melindungi. Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. Dan dialah yang maha mendengar lagi maha mengetahui. Dan cukuplah Allah bagi kami sebaik-baik pengurus. Tiada daya dan kekuatan melainkan hanyalah dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam-Nya kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya. Hal ini telahdisebutkanoleh Syaikh Kamil Fariduddin di dalam wiri-wirid Khowwajah Mughniddin seperti yang ada dalam kitab "Jawahirul Khoms".

Syaikh al-Bumi rh berkata di dalam kitab al-Firdaus: "Sesungguhnya Allah SWT menurunkan bala' di hari rabu terakhir dari bulan shofar di antara langit dan bumi lalu malaikat membawanya dan menyerahkan kepada Quthbul Ghouts kemudian ia menyebarkannya kepada alam ini. Tidak ada yang terjadi dari kematian, bala, kesusahan kecuali dari bala' yang disebarkan oleh Quthbul Ghouts tersebut. Maka barangsiapa yang ingin keselamatan dari bala' tersebut hendaknya ia melakukan sholat enam rokaat, membaca fatehah dan ayat kursi di rokaat pertama dan di rokaat kedua membaca surat al-Ikhlas demikian seterusnya. Kemudian membaca sholawat kepada Nabi SAW dengan sholawat apa saja dan berdo'a dengan do'a berikut:

اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنِيْ وَأَنْ تُعَافِيَنِي مِنْ بَلَائِكَ يَا دَافِعَ الْبَلايَا يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ اكْشِفْ عَني مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَصَلَّى الله 
عَلَى سَيِّدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا

Artinya: "Ya Allah, aku memohon dengan namanama-Mu yang baik, dengan kalimat-kalimat-Mu' yang sempurna dan dengan kemuliaan Nabi-Mu Muhammad SAW peliharalah aku dari bala'Mu. Wahai yang menolak segala musibah, wahai yang menghapus kesusahan, wahai yang melenyapkan kesedihan. Hilangkanlah apa yang telah ditulis atasku di tahun ini dari kesusahan dan kesedihan. Sesungguhnya Engkau Maha mampu atas segala sesuatu. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam-Nya kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya."

Sebagian orangsholih menyebutkan: "Sesungguhnya hari rabu terakhir di bulan shofar adalah hari kesengsaraan maka di anjurkan untuk membaca surat yasin, jika telah sampai pada ayat:

سَلَامٌ قَوْلاً مِنْ رَبِّ رَحِيمٍ

Maka diulang-ulanginya sebanyak 313 kali kemudian berdo'a :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَّيِّاتِ وَتَرْفَعُناَ بِهَا أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاتِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ اللَّهُمُ اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya: "Ya Allah, berikanlah sholawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad. Dengan sholawat itu kami diselamatkan dari segala bencana, seluruh hajat tercapai, seluruh kejelekan di bersihkan dari kami. Engkau angkat kami ke derajat yang paling tinggi, dan cita-cita yang paling tinggi berupa semua kebaikan di dalam kehidupan dunia dan setelah mati. Wahai Tuhan seru sekalian alam."

Ya Allah, hindari kami dari kejelekan yang turun dari langit dan yang keluar dari bumi sesungguhnya Engkau Maha mampu atas segala sesuatu. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam-Nya kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya."

Kemudian ia berdo'a untuk kepentingan dunia dan akheratnya dan meminta kepada Allah SWT afiat dan keselamatan.

Faedah:


Di antara khasiat yang mujarrab untuk menolak bala dan terjaga darinya menulis ayat-ayat berikut, meleburnya lalu meminum airnya. Syaikh kita berkata di dalam kitab "Nai'tul Bidayat"; "di riwayatkan barangsiapa yang shalat empat rakaat seperti yang lalu, berdo'a dengan do'a yang lalu itu juga yaitu;

Dan seterusnya .......اللهُمَّ يَا شَديدُ القُوَى Selanjutnya ia menulis ayat-ayat di bawah ini kemudian meleburnya ke dalam air dan meminum airnya, maka ia akan terjaga dari bala yang turun di siang itu hingga sempurna tahunnya.

Inilah ayat-ayatnya :

سَلَامٌ قَوْلاً مِنْ رَبِّ رَحِيمِ. سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ. سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. سَلَامٌ عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ. سَلَامٌ عَلَى إِلْ يَاسِينَ. سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Artinya: "(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam". (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun". (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?". "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya". "Dari setiap urusan". "Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar."

Aku katakan: "riwayat inilah yang telah di amalkan oleh Syaikh kita ra. Dan ini lebih baik karena manfaatnya lebih mengena kepada anak-anak, para wanita, budak, dan semisalnya dari orang-orang yang tidak mampu mengamalkan cara lain sebelumnya."

Sabilul Muttaqin Jalan Orang-orang Taqwa Edisi 1

Sabilul Muttaqin Jalan Orang-orang Taqwa Edisi 1

Kitab Sabilul Muttaqin Jilid 1

Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I: Sebuah Upaya Menjaga Keseimbangan dalam Islam


Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I merupakan salah satu upaya signifikan dalam menjaga keseimbangan antara syariat, tariqah, dan realitas kehidupan sehari-hari. Buku ini lahir dari kebutuhan untuk memberikan panduan yang komprehensif dan mendalam tentang berbagai aspek kehidupan Islam, baik dari sisi hukum, spiritualitas, maupun sosial.

Latar Belakang Penulisan Kitab Sabilul Muttaqin


Sebelum penyusunan Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I, kami telah menyelesaikan kompilasi dua buku penting lainnya, yaitu Kitab Fiqh Jawabul Masail Jilid I dan Sabilus Salikin. Kitab Fiqh Jawabul Masail Jilid I berfokus pada berbagai persoalan fiqh, memberikan jawaban dan solusi atas masalah-masalah hukum Islam yang sering dihadapi umat. Sementara itu, Sabilus Salikin membahas secara mendalam tentang tasawuf dan tarekat, memberikan panduan bagi mereka yang ingin mendalami aspek spiritual dan mistis dalam Islam.

Fokus Pembahasan dalam Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I

Dalam Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I, pembahasan lebih difokuskan pada aspek ubudiyah, sosial, dan akhlak secara umum. Kitab ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang berbagai keutamaan terkait ritual ubudiyah dalam Islam, serta bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Ubudiyah: Pembahasan mengenai ubudiyah dalam kitab ini mencakup berbagai ritual ibadah yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Mulai dari shalat, puasa, zakat, hingga haji, semua dibahas dengan rinci agar pembaca dapat memahami dan melaksanakan ibadah dengan benar sesuai tuntunan syariat.
  2. Sosial: Aspek sosial dalam Islam juga mendapatkan perhatian khusus dalam Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I. Buku ini menjelaskan bagaimana seorang muslim harus berinteraksi dengan sesama manusia, baik itu dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan bernegara. Prinsip-prinsip seperti keadilan, kasih sayang, dan tolong-menolong dijelaskan dengan gamblang.
  3. Akhlak: Akhlak yang mulia adalah cerminan dari iman yang kuat. Dalam kitab ini, dibahas secara detail tentang pentingnya memiliki akhlak yang baik, bagaimana cara mengembangkan akhlak mulia, dan contoh-contoh teladan dari kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Akhlak tidak hanya mencakup perilaku terhadap sesama manusia, tetapi juga hubungan dengan Allah SWT.

Keutamaan Ritual Ubudiyah dalam Islam


Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I juga menguraikan berbagai keutamaan dari ritual ubudiyah dalam Islam. Setiap ibadah memiliki keutamaan dan manfaat yang luar biasa, baik dari segi spiritual maupun sosial. Berikut beberapa keutamaan yang dibahas dalam kitab ini:

  1. Shalat: Shalat adalah tiang agama dan merupakan kewajiban utama bagi setiap muslim. Melalui shalat, seorang muslim berkomunikasi langsung dengan Allah SWT, memohon ampunan, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Shalat juga memiliki dampak positif dalam membentuk karakter dan disiplin diri.
  2. Puasa: Puasa di bulan Ramadan adalah salah satu ibadah yang memiliki keutamaan besar. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, puasa juga mengajarkan kesabaran, menahan diri, dan empati terhadap sesama yang kurang beruntung. Puasa juga memiliki manfaat kesehatan yang diakui secara ilmiah.
  3. Zakat: Zakat adalah bentuk kepedulian sosial dalam Islam. Dengan menunaikan zakat, seorang muslim membantu meringankan beban saudara-saudaranya yang membutuhkan. Zakat juga berfungsi sebagai pembersih harta dan jiwa dari sifat kikir dan rakus.
  4. Haji: Ibadah haji adalah puncak dari ritual ubudiyah dalam Islam. Melaksanakan haji ke Baitullah adalah impian setiap muslim. Haji mengajarkan kebersamaan, kesetaraan, dan ketundukan total kepada Allah SWT. Pengalaman haji sering kali menjadi momen spiritual yang mengubah kehidupan seseorang.

Kesimpulan


Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I adalah sebuah karya yang berusaha untuk memberikan panduan komprehensif tentang bagaimana seorang muslim dapat menjalani hidup dengan seimbang antara tuntutan syariat, perjalanan spiritual melalui tariqah, dan realitas kehidupan sehari-hari. Dengan pembahasan yang mendalam tentang ubudiyah, sosial, dan akhlak, kitab ini diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi setiap muslim yang ingin mendalami dan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh.


Dalam konteks kehidupan modern yang penuh tantangan, Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I menjadi sebuah cahaya penuntun bagi umat Islam untuk tetap teguh dalam iman, menjalani ibadah dengan benar, dan berakhlak mulia dalam setiap aspek kehidupan. Semoga karya ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi pembacanya dan menjadi ladang pahala bagi penulis dan semua pihak yang terlibat dalam penyusunannya.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Sabilul Muttaqin edisi 1" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Al-Fath al-Mubin fi Thabaqat al-Ushuliyyin

Terjemah Al-Fath al-Mubin fi Thabaqat al-Ushuliyyin

Biografi
Ensiklopedia Ulama Ushul Fiqh

Ensiklopedia Lengkap Ulama Ushul Fiqh Sepanjang Masa


Perjalanan sejarah Islam tidak dapat dilepaskan dari kontribusi tokoh-tokoh berpengaruh, terutama dalam bidang ilmu ushul fiqh. Para tokoh inilah yang merumuskan berbagai hukum Islam yang kemudian diterapkan dalam kehidupan umat Islam di seluruh dunia.

Namun, sungguh disayangkan bahwa sangat sedikit, bahkan nyaris tidak ada, buku yang berhasil menyajikan dan mengupas secara menyeluruh biografi, perkembangan ilmu, serta metode ijtihad para ulama ushul fiqh sepanjang masa. Akibatnya, banyak umat Islam saat ini yang tidak mengetahui asal usul dan siapa saja yang berperan dalam menetapkan hukum-hukum Islam yang mereka ikuti.

Menjawab kebutuhan tersebut, Abdullah Musthafa al-Maraghi telah menyusun sebuah ensiklopedia lengkap mengenai para ulama ushul fiqh sepanjang masa. Buku yang diterjemahkan oleh K.H. Husein Muhammad ini menyajikan informasi yang sangat detail dan berbobot, sehingga sangat cocok dijadikan referensi utama bagi siapa saja yang ingin mempelajari lebih dalam tentang para ulama ushul fiqh dan pemikiran mereka.

Urgensi Biografi Ahli Ushul Fiqh (Ushuliyyin)


Kami berharap dapat menyajikan biografi para ulama ushul fiqh dari generasi ke generasi dan dari berbagai mazhab sebagai cara memperkenalkan dan menghargai keilmuan mereka. Dengan begitu, diharapkan kaum muslimin mengetahui peran-peran mereka dalam mengembangkan hukum Islam.

Pada umumnya, mereka yang berkecimpung dalam kajian ushul fiqh membaca pikiran-pikiran para ahli fiqh itu dan merujuk kepada karya-karya mereka. Akan tetapi, mereka jarang mengetahui nama- nama dan riwayat hidup mereka. Padahal, pengetahuan mengenai hal ini dalam kajian modern menjadi sesuatu yang penting, bukan saja karena memiliki manfaat yang besar, tetapi juga dapat memahami situasi dan konteks sosial di mana para pemikir fiqh tersebut hidup.

Buku-Buku Biografi


As-Suyuthi, dalam bukunya Husn al-Muhadharah, mengatakan bahwa dirinya telah menulis biografi para ahli ushul fiqh (thabaqat al-ushuliyyin). Kami berusaha melacaknya ke beberapa perpustakaan dan menanyakannya kepada para ulama, tetapi kami tidak menemukannya. Kami berharap bahwa buku ini merupakan buku pertama yang khusus mengetengahkan tokoh-tokoh pemikir hukum Islam ini.

Memang benar bahwa telah ada sejumlah buku biografi para ulama tersebut, tetapi umumnya hanya mengkhususkan diri pada satu mazhab, seperti ulama Hanafıyah, Malikiyah, Syafi'iyah, atau Hanabilah. Atau hanya pada bidang tertentu, seperti nahwu, atau sastra prosa maupun puisi. Kebanyakan juga hanya mengetengahkan tokoh sampai dengan kurun (abad) waktu tertentu, misalnya kurun kelima, keenam, kedelapan, atau kesepuluh. Buku ini sengaja kami tulis khusus mengenai tokoh-tokoh pemikir figh (ushuliyyin) sampai dengan abad ke-14 Hijrah, sesuai kemampuan dan pengetahuan kami.

Buku ini tidak hanya akan membicarakan para penulis, namun juga dikemukakan pikiran-pikiran mereka. Kami juga berharap, jika buku semacam ini terbukti belum pernah ada yang menulis, kelak akan ada orang-orang sesudah kami yang dapat menyajikannya secara lebih luas dan lebih lengkap. Kami tidak menganggap buku ini sudah cukup baik dan sempurna, bahkan sangat mungkin terdapat kesalahan dan kekeliruan. Meskipun demikian, kami berharap kepada Allah Swt. agar karya ini merupakan ibadah dan amal yang dapat diterima di sisi-Nya.

Sebelum memasuki uraian tokoh, kiranya perlu lebih dahulu diperkenalkan serba singkat mengenai ushul fiqh. Setelah itu, akan dikemukakan juga mengenai 'ilm al-jadal (ilmu berdebat) dan 'ilm al-khilaf (ilmu berdiskusi), untuk diketahui relevansinya dengan ilmu ushul fiqh.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Al-Fath al-Mubin fi Thabaqat al-Ushuliyyin" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Fathur Rabbani Karya Syekh Abdul Qadir Jaelani

Terjemah Fathur Rabbani Karya Syekh Abdul Qadir Jaelani

Download PDF
Terjemah Fathur Rabbani

Fathur Rabbani Karya Syaikh Abdul Qodir al-Jailani


Agar hati seorang salik terbuka dan mampu menerima cahaya Allah, sangat penting baginya untuk memahami cara membukanya. Kitab ini merupakan kunci untuk membuka hati yang terbelenggu oleh gemerlap dunia yang fana, sehingga dapat terbuka lebar untuk menerima cahaya kebenaran Allah SWT.

Kitab ini ditulis semata-mata untuk mencari keridhaan Allah, dengan tujuan meluaskan sanubari kaum Muslimin. Sesuai dengan keinginan pengarangnya, kitab ini diharapkan mampu memberikan embun penyejuk bagi setiap jiwa, menyucikan hati dan perilaku manusia, serta menafikan keberadaan entitas selain Allah SWT dalam hati setiap hamba.
Pencerahan jiwa, ketulusan kata-kata, dan kekayaan makna akan Anda temukan di dalam buku ini. Ini adalah sebuah mahakarya dari wali Allah, Imam, dan ulama besar Syaikh Abdul Qadir Jailani.

Dengan membaca dan merenungkan buku ini, Anda akan mendapatkan pelajaran berharga tentang nilai-nilai pensucian jiwa. Semoga setelah itu, jiwa Anda menjadi tercerahkan, memperoleh kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan dalam menjalani hidup di dunia.

Buku ini telah diterjemahkan ke banyak bahasa dan telah dibaca oleh jutaan orang di seluruh dunia. Buku ini menjadi pegangan bagi mereka yang ingin hatinya tenang dan damai, serta bagi mereka yang ingin merasakan nikmatnya kebaikan.

Al-Allamah Syekh Abdul Qadir al-Jailani merupakan seorang wali yang telah mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Namanya abadi sebagai jalan yang wajib dilalui para salik untuk sampai kepada Tuhannya, jalan itu bernama tarekat Qadiriyah. Sebuah tarekat yang telah menyebar luas di seluruh dunia dan memiliki banyak pengikut.

Beliau adalah seorang wali Allah yang sangat disegani di kalangan umat Islam sedunia. Banyak karya yang telah beliau tulis semasa hidupnya, mulai dari kitab tasawuf hingga fikih. Kitab ini merupakan salah satu dari sekian banyak karyanya. Di dalamnya, dibahas cara mendekatkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati.

Kelebihan Buku:


  1. Dengan membaca kitab ini, kita mendapatkan cara termudah untuk memahami ajaran Syekh.
  2. Disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
  3. Lengkap dengan contoh dan penerapan praktis.
  4. Penulisnya adalah seorang sufi yang intelektual, menguasai banyak bidang ilmu.
  5. Disertai contoh kasus dan solusinya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah seorang sufi besar Islam yang lahir pada tahun 471 H di daerah Jilan, Kurdistan Selatan. Beliau juga merupakan pendiri Tarekat Qadiriyah, yang pengikutnya tersebar di berbagai belahan dunia Islam. Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah sosok ulama tasawuf yang sangat dihormati, salah satu gelarnya adalah wali kutub.

Nama Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak asing bagi masyarakat Islam di Indonesia, khususnya Ahlussunnah wal Jama’ah. Salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Islam Aswaja adalah manaqiban, yaitu membaca manaqib atau riwayat hidup Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Sebagai seorang ulama besar Islam, Syekh Abdul Qadir al-Jailani memiliki banyak karya di berbagai bidang, salah satunya adalah tafsir. Namun, tidak banyak yang mengkaji karya-karya beliau.

Tafsir Al-Jailani


Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah salah satu ulama tasawuf yang memiliki karya dalam bidang tafsir, yaitu Tafsir al-Jailani. Banyak karya beliau yang hilang atau tidak diketahui keberadaannya, dan salah satunya adalah kitab Tafsir al-Jailani. Menurut para ahli sejarah dan pengkaji tasawuf, Tafsir al-Jailani pernah hilang selama 800 tahun dan kemudian ditemukan oleh cucu ke-25 Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yaitu Syekh Fadhil al-Jailani al-Hasani al-Jimazraq di perpustakaan Vatikan.

Dalam kitab Tafsir al-Jailani, tidak ditemukan alasan yang jelas mengapa Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengarang kitab tafsir tersebut. Namun, berdasarkan keterangan yang ada, beliau menulis kitab-kitabnya karena kekecewaan terhadap keadaan masa ketika beliau hidup, yang penuh dengan kemunafikan dan kesenangan duniawi. Hal ini mendorong beliau untuk hijrah, mengasingkan diri, dan memberikan nasihat-nasihat tasawuf. Mungkin inilah latar belakang beliau menulis kitab-kitabnya, termasuk Tafsir al-Jailani.

Tafsir al-Jailani merupakan kitab tafsir yang menggunakan bentuk al-Iqtirani, yaitu perpaduan antara Tafsir bi al-Matsur dan Tafsir bi al-Ra’yi. Syekh Abdul Qadir al-Jailani memadukan riwayat yang kuat dan sahih dengan hasil ra’yi yang sehat. Terkadang dalam mengemukakan riwayat, baik asbabun nuzul atau hadis yang mendukung, beliau tidak menyebutkan sanad yang lengkap.

Dalam cara menjelaskan atau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menggunakan metode bayani, yaitu penafsiran dengan memberikan keterangan deskriptif tanpa membandingkan riwayat dan memberikan pentarjihan sumber. Beliau juga menggunakan metode ijmaly, yang menafsirkan ayat Al-Qur’an secara global, tidak mendalam, dan tidak panjang lebar.

Tafsir al-Jailani adalah salah satu dari banyak kitab tafsir yang bercorak sufistik. Corak sufistik ini tidak bisa dilepaskan dari pemikiran pengarangnya, yang merupakan salah satu ulama besar dalam dunia tasawuf. Maka, kemungkinan besar corak tafsir isyari (sufi) akan berimplikasi pada penggunaan kitab tafsir ini. Corak tasawuf dalam kitab Tafsir al-Jailani sangat terlihat jelas. Hampir semua ayat yang ditafsirkan selalu dihubungkan dengan ketauhidan, yang menjadi pokok ajaran tasawuf. Selain itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga menuliskan lampiran munajat yang berisi Asma’ul Husna dan syair-syair sufi (Qasidah al-Khomriyah) di jilid akhir kitab Tafsir al-Jailani.

Wallahu a'lam.

Download PDF


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Fathur Rabbani Karya Syekh Abdul Qadir Jaelani" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Ahkam Sulthaniyah Imam al-Mawardi

Terjemah Ahkam Sulthaniyah Imam al-Mawardi

Terjemahan
Ahkam Sulthaniyah

Terjemah Kitab Tentang Tata Negara


Al-Ahkam as-Sulthaniyyah merupakan karya monumental yang ditulis oleh al-Mawardi atas permintaan Khalifah al-Qa’im bi Amrillah (422–467 H). Buku ini memuat hukum-hukum yang sangat dibutuhkan oleh para pemimpin, terutama khalifah dan jajarannya. Selain menjadi panduan bagi aparatur pemerintah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, buku ini juga berguna bagi masyarakat untuk mengetahui hak dan kewajiban para pemimpin terhadap mereka. Dengan demikian, masyarakat memiliki pedoman untuk melakukan pengawasan dan keseimbangan. Buku ini terdiri dari dua puluh bab yang membahas berbagai topik, seperti: akad Imamah, pengangkatan Wizarat (pembantu khalifah), bukan wizarat dengan konotasi kementerian seperti dalam sistem demokrasi, pengangkatan Imarah ‘ala al-Bilad (kepala daerah), pengangkatan Imarah ‘ala al-Jihad (panglima perang), dan sebagainya. Termasuk bab tentang penetapan Jizyah dan Kharaj, hukum Ihya’ al-Mawat (menghidupkan tanah mati), eksplorasi air (termasuk tambang), Hima dan Irfaq (proteksi lahan dan kepemilikan umum), hingga Diwan (administrasi), Ahkam al-Jara’im (hukum tindak kriminal), dan Hisbah.

Menariknya, dalam buku ini al-Mawardi sama sekali tidak terpengaruh oleh teori-teori Socrates, Plato, Aristoteles atau filsuf Yunani lainnya. Padahal, pada masa itu pemikiran mereka sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dalam penulisannya, beliau berpijak pada al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’ dan qiyas sebagaimana dalil yang lazim digunakan di kalangan mazhab Syafi’i. Selain itu, beliau juga menjelaskan berbagai pandangan mazhab yang berkaitan dengan sistem pemerintahan Islam ini.

Istimewanya lagi, buku Al-Ahkam as-Sulthaniyyah ini menjadi rujukan penting karena penulisnya adalah seorang mujtahid dan juga pelaku sejarah. Buku ini merupakan tulisan paling awal yang membahas tentang sistem Negara Khilafah sekaligus menjadi dokumen autentik penerapan sistem pemerintahan Islam di dalam Negara Khilafah, pada era Khilafah Abbasiyyah.

Isi Kajian Kitab Ahkam Sulthaniyah


Bagaimana konsep kenegaraan menurut Islam, agama yang ditegaskan oleh Allah Ta’ala sebagai rahmat untuk seluruh alam semesta, agama yang diturunkan sebagai pamungkas dari agama-agama samawi, dan akidah aplikatif yang menghasilkan nidzam (sistem) yang universal dan integral?

Bagaimana ketangguhannya dalam menghadapi perubahan zaman dan pengaruhnya dalam pemerintahan serta rakyat yang menjadi obyek penerapannya?

Apa rahasia ketangguhannya hingga saat ini tetap kokoh dan tidak tergerus, meskipun musuh-musuh Islam telah berusaha merobohkan bangunannya (Daulah Utsmaniyah di Turki) melalui berbagai upaya pada tahun 1924?

Apa kuncinya sehingga orang-orang non-Muslim dahulu merasa nyaman hidup di bawah naungannya? Bagaimana cara penerapannya sehingga negara menjadi stabil, rakyat patuh kepadanya, dan keadilan merata dirasakan oleh semua pihak?

Jika Anda mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Rasulullah SAW, dan hukum-hukum fiqh atau permasalahan yang disepakati oleh para Khalifah Rasyidin serta generasi sesudahnya, maka Anda akan menemukan bahwa Syariat Islam ini sangat kaya dengan prinsip-prinsip sistem politik, sistem moneter, sistem pemerintahan, sistem peradilan, dan aspek-aspek lain yang dibutuhkan oleh sebuah negara.

Untuk mengetahui secara detail sistem politik, sistem moneter, sistem pemerintahan, dan sistem peradilan versi Islam, buku Al-Ahkam as-Sulthaniyyah adalah jawabannya. Buku ini merupakan karya politik pertama dalam Islam yang ditulis oleh seorang pakar tata negara Islam, hakim pada masa Negara Bani Abbasiyyah, imam bagi para pengikut madzhab Imam Syafi’i pada zamannya, ahli fiqh, ahli ushul fiqh, pakar bahasa Arab, dan pakar tafsir, yaitu Imam Al Mawardi Rahimahullah. Seperti diakui oleh Imam Al Mawardi Rahimahullah dalam kata pengantar buku ini, bahwa beliau menulisnya atas instruksi langsung dari khalifah pada saat itu, karena pada masa tersebut belum ada pembukuan konsep kenegaraan Islam yang tersebar di banyak buku-buku fiqh. Oleh karena itu, beliau merangkum konsep-konsep kenegaraan yang ada dalam buku-buku fiqh hingga tersusunlah buku ini untuk menjadi panduan bagi penyelenggaraan negara oleh kepala negara dan seluruh aparatnya.

Untuk pembaca kaum Muslimin, inilah mutiara berharga yang kami hadirkan dengan harapan semoga kehadiran buku ini bisa menjadi titik terang, kesadaran, dan kebangkitan Daulah Islamiyyah. Amiin.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Ahkam Sulthaniyah Imam al-Mawardi" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Syawahid Ibnu Aqil (Syarah Alfiyah Ibnu Malik) Plus Makna Pesantren

Terjemah Syawahid Ibnu Aqil (Syarah Alfiyah Ibnu Malik) Plus Makna Pesantren

Terjemahan Ibnu Aqil
Syawahid Ibnu Aqil

Kitab Syawahid Ibnu Aqil Ala Alfiyah Ibnu Malik


Kitab Alfiyah Ibnu Malik merupakan kitab Ilmu Nahwu yang paling populer di dunia Islam. Karya Ibnu Malik ini mungkin merupakan kitab yang paling banyak dihafal dan diajarkan. Hampir seluruh pesantren mengajarkan kitab ini. Sepertinya, belum lengkap bagi seorang santri jika belum mempelajari kitab Alfiyah.

Dalam penjelasan kitab syarah, seringkali terdapat syair-syair yang berfungsi sebagai penjelas dan penguat (taukid) dari nadzom Alfiyah. Namun, terkadang terdapat syair-syair yang justru berbeda dengan penjelasan mayoritas ulama bahasa. Syair-syair tersebut oleh para santri atau pelajar Islam yang mempelajari kitab Alfiyah dinamakan syawahid Alfiyah.

Syawahid berarti bukti-bukti atau beberapa penjelasan dari nadzom Alfiyah. Dahulu, banyak syawahid yang dihafalkan oleh penulis, meskipun pada masa itu pesantren belum menganjurkan untuk menghafalkan beberapa bukti penjelasan tersebut (syawahid).

Sawahid Ibnu Aqil merupakan kumpulan contoh yang terdapat dalam kitab Ibnu Aqil, salah satu penjabaran dari kitab Alfiyah Ibnu Malik yang sangat dikenal oleh mereka yang mendalami tata bahasa Arab.

Sawahid Ibnu Aqil juga menyajikan contoh-contoh yang tidak sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan, selain contoh-contoh yang sudah sesuai dengan kaidah yang ada.

Kitab ini dilengkapi dengan arti miring (makna gandul dalam bahasa Jawa) dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Alfiyah Ibnu Malik merupakan salah satu kitab Nahwu yang memandu tata bahasa Arab. Contoh-contoh yang disajikan dalam kitab ini, selain berupa prosa, juga banyak yang disajikan dalam bentuk puisi yang unik dan cukup menantang tingkat kesulitannya.

Berdasarkan hal tersebut, dengan izin-Nya kami berupaya membantu memberikan solusi dengan mengumpulkan, memberi makna, dan menerjemahkannya, dengan tetap merujuk pada kitab-kitab Nahwu lainnya sebagai referensi.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Syawahid Ibnu Aqil (Syarah Alfiyah Ibnu Malik) Plus Makna Pesantren" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Assullamul Munauroq | Ilmu Mantiq

Terjemah Assullamul Munauroq | Ilmu Mantiq

Sullam Munauroq
Terjemah Sullam Ilmu Mantiq

Sullam Munauroq Bahasa Arab Indonesia


Kitab-kitab yang sering digunakan sebagai pegangan adalah kitab Nadhom Assullamul Munauroq karya Syaikh Abdur Rohman al-Akhdhory yang hidup sekitar tahun 941 Hijriah. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa pada tahun 1370 H atau 1950 M oleh Khadrotil Walid K.H. Bisyri Mustofa, dan sejak tahun 1373 H atau 1953 M terjemahan tersebut telah tersebar luas, tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa, seperti Lampung dan sebagainya. Tiga tahun setelah terjemahan dalam aksara Pegon Jawa tersebut diterbitkan, kitab ini telah tersebar luas ke seluruh pelosok Indonesia, tidak hanya di pulau Jawa saja. Selanjutnya, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ilmu Mantiq adalah ilmu yang penting dipelajari oleh murid-murid tingkat menengah. Ilmu Mantiq adalah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga dari kesalahan dalam berpikir. Secara lebih jelas, Mantiq adalah sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan terhindar dari cara berpikir yang keliru.

Sebagai makhluk yang berpikir, manusia tidak akan lepas dari kegiatan berpikir. Namun, dalam proses berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subjektivitas, dan faktor lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir dengan jernih, logis, dan objektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, tidak keliru dalam memahami bacaan, perkataan orang, isyarat, fenomena alam, dan sebagainya.

Oleh karena itu, Imam al-Ghazali pernah berkata, "Orang yang tidak mengerti ilmu Mantiq, patut dipertanyakan kualitas keilmuannya."

Akhir-akhir ini banyak sekali anjuran dan permintaan kepada Walidiy agar beliau berkenan menyalin kitab terjemahan tersebut ke bahasa Indonesia. Pada prinsipnya, Walidiy menilai anjuran-anjuran tersebut sebagai anjuran yang sangat baik, tetapi beliau tidak memiliki kesempatan sehingga meminta saya untuk menggarap dan melayani anjuran baik dan mulia itu dengan kesanggupan bahwa beliau akan membantu dan memberikan petunjuk-petunjuk. Dengan bertawakal dan mengharap taufik Ilahi serta kepercayaan akan adanya petunjuk-petunjuk dan bantuan dari Walidiy, maka saya memberanikan diri untuk menyalin terjemahan Sulam Munaroq itu ke dalam bahasa Indonesia.

Semoga kiranya apa yang dapat saya kerjakan dan sajikan ini bermanfaat bagi kita semua.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Assullamul Munauroq | Ilmu Mantiq" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Bustanul Arifin | Imam An Nawawi

Terjemah Bustanul Arifin | Imam An Nawawi


Terjemahan Kitab Terjemah Bustanul Arifin


Kitab Bustanul Arifin ini adalah di antara kitab karangan al-Imam al-Alim al-Allamah Syaikhul Islam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi Rahimahullahu taala atau yang lebih masyhur dengan sebutan al-Imam an-Nawawi. Beliau dilahirkan pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 676 H di Nawa, Hauran, Syria.

Kitab Bustanul Arifin membahas tentang tahsawwuf atau etika, dimana Imam Nawawi menjelaskan tentang hal-hal yang bersifat spiritual. Yang menarik dari buku ini adalah memuat dalil-dalil hadis Nabi Muhammad SAW.

Isi Kitab Bustanul Arifin Imam An Nawawi


Al-Imam an-Nawawi rahimahullah telah memulai kitabnya dengan satu muqaddimah yang menjelaskan hakikat kehidupan dunia yang bersifat sementara dan menekankan pentingnya seseorang untuk mempersiapkan bekal bagi kehidupan abadi di akhirat nanti. Beliau kemudian membahas tentang niat, kepentingannya, dan cara menghadirkannya dalam hati pada setiap bentuk ibadah yang dilakukan. Selanjutnya, beliau menyebutkan beberapa hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang penting sebagai asas-asas agama Islam, dan secara khusus membicarakan tentang ikhlas dan shidq (kejujuran) yang berperan dalam menentukan kadar balasan amalan yang akan diterima oleh seorang hamba di hari akhirat nanti.

Setelah itu, beliau menyampaikan lebih dari 50 ungkapan para ulama yang merupakan kata-kata mutiara yang sangat berharga, yang lahir dari pengalaman mereka dalam mujahadah (perjuangan) dan usaha berkelanjutan untuk menjadi seorang insan yang benar-benar hidup di dunia ini sebagai hamba Allah taala.

Selanjutnya, beliau membahas dengan panjang lebar mengenai karamah (keistimewaan) para wali dan mawahib-mawahib (anugerah) mereka serta berbagai permasalahan terkait karamah. Beliau juga menyebutkan beberapa contoh karamat yang telah terjadi.

Kitab ini tampaknya belum sempat diselesaikan oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullah karena pada manuskrip aslinya, beliau hanya menulis sampai pada Bab Hikayat Karamah Wali-Wali dan hanya sempat menulis beberapa hikayat saja. Beliau berhenti pada bab tersebut di tengah-tengah Hikayat Syeikh Abul Khair at-Tinani rahimahullah. Maka, beliau tidak sempat menyelesaikan kitab ini karena telah dipanggil ke rahmatullah. Oleh karena itu, terjemahan yang kita selenggarakan ini hanya sampai pada bagian yang telah ditulis oleh Imam an-Nawawi rahimahullah, meskipun ada usaha dari beberapa murid beliau untuk menyelesaikan kitab ini dengan merujuk pada tulisan-tulisan Imam an-Nawawi rahimahullah yang ditemukan di berbagai tempat dan dikumpulkan menjadi bagian terakhir dari kitab ini.

Walaupun demikian, kitab ini telah mendapat perhatian dari kalangan ulama karena isinya yang sesuai dengan namanya, yaitu 'Bustanul 'Arifin' yang berarti 'Taman Orang-Orang yang Mengenal Allah Taala'. Kitab ini sangat kaya dengan nasihat dan petunjuk yang tak ternilai harganya, terutama bagi mereka yang berjalan menuju ma'rifatullah yang sejati.

Harapannya, semoga terjemahan ini dapat memudahkan sahabat-sahabat kita dalam mengambil manfaat dari kandungan kitab yang sangat berharga ini. Semoga kitab ini dapat menerangi mereka dalam menelusuri jalan menuju ma'rifatullah yang sangat memerlukan ilmu pengetahuan, mujahadah, dan kesabaran. Semoga Allah taala memberikan pahala kepada penerjemahnya.


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Bustanul Arifin | Imam An Nawawi" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik