Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Terjemah Minhajul Abidin : Jalan Para Ahli Ibadah (Imam Al-Ghazali)
Hitungan Lailatul Qodar Menurut Para Ulama
![]() |
| Kapan Lailatul Qodar |
Kaidah Menandai Lailatul Qadar di Beberapa Kitab Salafiyah Kuno;
Pertama : Dalam kitab I’anatuththaalibiin juz II halaman 257, cetakan al ‘Alawiyyah Semarang:
Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadan:
- Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu maka lailatul qodar malam ke-29
- Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-21
- Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka lailatul qodar malam ke-27
- Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam ke-25
- Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam ke-23
Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata:
“Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah melesat dengan jadwal atau qaedah tersebut."
Kedua : Dalam kitab Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337, cetakan Daar Ihya al Kutub a ‘Arabiyyah :
Dari Syaih Abi Hasan Asyadzili
- Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam ke-29
- Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-21
- Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam ke-27
- Jika awal Ramadhan hari Rabu maka lailatul qodar malam ke-19
- Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam ke-25
- Jika awal Raamadhan hari Jumat maka lailatul qadar malam ke-17
- Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka lailatul qadar malam ke-23
Ketiga : Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 , cetakan Syirkah al Ma’arif Bandung:
Ulama telah membuat Nadzhoman mengenai rumusan Lailatul Qodar
- Jika awal Ramadhan hari Jumat maka lailatul qodar malam ke-29
- Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam ke-21
- Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam ke-27
- Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-29
- Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam ke-25
- Jika awal Raamadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam ke-27
- Jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam ke-20
Wallaahu A’lamu Bishshawaab. Semoga bermanfaat.
Terjemahan Kitab Asrar Shaum (Rahasia Puasa) Imam Al-Ghazali
![]() |
| Asroru Shaum |
- Menundukkan mata dan mencegahnya dari memperluas pandangan ke semua yang dimakruhkan, dan dari apapun yang melalaikan hati untuk berdzikir kepada Allah.
- Menjaga lisan dari igauan, dusta, mengumpat, fitnah, mencela, tengkar, dan munafik.
- Menahan telinga dari mendengar hal-hal yang dimakruhkan. Karena semua yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Allah menyamakan antara mendengar dan memakan perkara haram,“sammaa’uuna lil kadzibi akkaaluuna lis suht”.
- Mencegah bagian tubuh yang lain seperti tangan dan kaki dari tindakan-tindakan dosa, juga mencegah perut dari makan barang syubhat ketika berbuka. Mana mungkin bermakna, orang berpuasa dari makanan halal lalu berbuka dengan makanan haram. Ibaratnya seperti orang yang membangun gedung tetapi menghancurkan kota. Nabi Muhammad pernah bersabda, “Banyak sekali orang yang berpuasa namun yang ia dapat hanya lapar dan haus. Ia adalah orang yang berbuka dengan haram. ”Wa qiila, “Ia yang berpuasa lalu berbuka dengan memakan daging sesama, yaitu dengan ghibah.”
- Tidak memperbanyak makan ketika berbuka, mengisi perut dan mulut dengan tidak sewajarnya. Maka, apalah arti puasa jika saat berbuka seseorang mengganti apa yang hilang ketika waktu siang, yaitu makan. Bahkan, justru ketika Ramadhan makanan akan lebih beragam. Apa yang tidak dimakan di bulan-bulan selain Ramadhan malah tersedia saat Ramadhan. Padahal, maksud dan tujuan puasa ialah mengosongkan perut dan menghancurkan syahwat, supaya diri menjadi kuat untuk bertakwa.
- Supaya hati setelah berbuka bergoncang antara khouf (takut) dan roja’ (mengharap). Karena, ia tidak tahu apakah puasanya diterima dan ia menjadi orang yang dekat dengan Allah, ataukah puasanya ditolak dan ia menjadi orang yang dibenci. Dan seperti itulah adanya di seluruh ibadah ketika selesai dilaksanakan.
Rahasia-rahasia yang dipaparkan oleh Imam Ghazali ini bisa kita perhatikan baik-baik, di mana puasa bukan hanya tentang perut. Puasa adalah berpuasanya seluruh tubuh, puasanya mata, puasanya kaki, puasanya tangan, puasanya telinga, bahkan hati pun ikut berpuasa. Puasa tidak hanya dipandang secara syariat antara sah dan batal. Karena yang puasanya sah hingga tebenam matahari belum tentu diterima oleh Allah. Melainkan puasa yang menyeluruh dari raga hingga jiwa. Wallahu a’lam bis shawab.
Rahasia Puasa dan Zakat Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali
Terjemah Kitab Afatul Lisan | Imam Al-Ghazali
Terjemah Kitab Afatul Lisan
Banyaknya bahaya itu tiada terhingga. Namun secara garis besar Imam Al-Ghazali mengkualifikasikan bahaya lisan itu menjadi dua puluh macam, sebagaimana yang dituangkan dalam dua puluh pasal yang menjadi pokok bahasan dalam buku ini.
Masing-masing pasal dijelaskan secara mendalam, sehingga dapat diketahui dengan jelas bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh lisan. Dengan demikian, tentunya diharapkan agar ketika seseorang melepas lidahnya dapat menghindari bahaya-bahaya tersebut, sehingga selamat dari bahaya yang membinasakanya
Dibawah ini adalah uraian mengenai afat-afat lisan yang saya kutip dari buku “afaatul lisaan”
1. Berkata yang tidak berguna
Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sebagian dari tanda kebaikan Islamnya seseorang ialah bila ia meninggalkan apa-apa yang tidak diperlukan olehnya”(HR.Turmudzi dan Ibnu Majah)
2. Berlebih-lebihan dalam berkata
Nabi Muhammad SAW bersabda : “Berbahagialah seseorang yang menahan kelebihan dari lidahnya dan membelanjakan apa-apa yang kelebihan dari hartanya” (HR.Baihaqi dan lain-lainnnya)
3. Bercakap-cakap dalam kebathilan
Sebuah hadist menyebutkan : “Sebesar-besar kesalahan seseorang pada hari kiamat ialah yang terbanyak omong kosongnya dalam hal kebathilan” (HR.Ibnu Abiddunya dan Thabrani)
4. Berbantah dan bertengkar lidah
5. Permusuhan
Didalam hadist disebutkan : “orang yang paling dibenci Allah ialah yang sangat suka bertengkar”. (HR.Muslim)
6. Berkata kotor, memaki-maki serta ucapan yang rendah
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala itu tidak suka kepada orang yang kotor katanya, yang menyebabkan timbulnya kata-kata kotor dari orang lain, juga yang suka bersuara keras di pasar-pasar” (HR.Ibnu Abiddunya dan Thabrani)
7. Mengutuk
8. Bersenda gurau
Jagalah lidahmu dari perbuatan bersenda gurau yang tercela, baik secara serius ataupun main-main untuk bergurau. Karena perbuatan tersebut dapat merendahkan derajat, menjatuhkan kewibawaan, membuat diri seseorang menjadi asing dan dapat menyakitkan hati. Perbuatan itu merupakan sumber yang dapat menimbulkan permusuhan, kemarahan, pengasingan dan akibatnya dapat menanam benih-benih dendam dalam hati.
9. Menyiar-nyiarkan rahasia
Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
10 Ingkar janji
11. Dusta
Dusta adalah sumber dosa yang paling berbahaya. Oleh karena itu jika engkau sampai dikenal orang sebagai pendusta, maka hilanglah harga dirimu dan ucapanmu tidak akan dipercaya orang, bahkan orang akan memandangmu dengan penuh kebencian.
12. Memuji diri sendiri
Allah SWT berfirman : “…janganlah engkau mengatakan dirimu suci, Dialah yang mengetahui tentang orang yang bertaqwa”.
13. Suka berbicara
Sesungguhnya semua pekerjaan dari anggota badan itu memberi bekas/pengaruh kepada hati. Dalam hal ini teristimewa mulutlah yang lebih banyak memberi pengaruh, karena setiap kata yang diucapkan oleh mulut itu akan membentuk sebuah gambar dalam hati. Gambar-gambar itu seluruhnya menceritakan semua kalimat yang telah diucapkan oleh mulut. Apabila mulut itu berbuat dosa, maka terbentukah didalam hati gambar yang dusta dan karenanya muka hati itu menjadi hitam dan gelap, sehingga akhirnya banyak omongan itu membawa kepada kematian hati.
14. Mengadu domba
Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
15. Marah
16. Ghibah (mengumpat)
Jagalah lisanmu jangan sampai membuka kejelekan orang lain, karena menurut pandangan islam perbuatan ghibah itu lebih berbahaya daripada tiga puluh kali perbuatan zina, demikian seperti yang telah ditegaskan didalam hadist. Sedang yang dimaksud ghibah adalah menyebutkan/membicarakan keadaan diri orang lain yang apabila didengar orang yang bersangkutan niscaya orang tersebut tidak menyukainya. Perbuatan seperti ini adalah suatu kedzaliman dan merupakan perbuatan ghibah sekalipun apa yang dibicarakan itu benar.
17. Mendoakan jahat terhadap sesama makhluk
Terjemah Arbain fi Ushuludin Bab Sifat Terpuji
![]() |
| 10 Asas Sifat Terpuji |
10 Asas Sifat Terpuji: Terjemah Arbain fi Ushuludin Bab Sifat Terpuji
Apakah Anda merasa ingin meningkatkan kualitas hidup Anda sebagai seorang muslim? Apakah Anda mencari panduan yang kuat untuk mengarahkan langkah-langkah Anda dalam mengembangkan diri dan meraih kebahagiaan yang sejati? Artikel ini akan membahas tentang asas dari sifat terpuji yang memiliki dampak luar biasa bagi seorang muslim dalam perjalanan spiritual dan kehidupan sehari-hari. yang dijelaskan dalam kitab Arbain fi Ushuludin karya Imam AL-Ghazali
Tidakkah Anda pernah merasa bahwa kehidupan sering kali penuh dengan tantangan, kebingungan, dan ketidakpastian? Dalam perjalanan spiritual dan keseharian, seorang muslim dihadapkan pada berbagai ujian dan pilihan. Namun, asas dari sifat terpuji memberikan landasan yang kokoh untuk mengatasi tantangan ini dan menjalani hidup dengan integritas dan kebahagiaan.
Asas Sifat Terpuji: Fondasi Kehidupan Muslim yang Kuat
Tawakkal (Bergantung Sepenuhnya kepada Allah): Asas pertama dari sifat terpuji adalah tawakkal, yaitu kepercayaan sepenuhnya kepada Allah. Seorang muslim harus selalu ingat bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, dan kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh sambil tetap bergantung kepada-Nya. Tawakkal membawa ketenangan dalam menghadapi cobaan dan membangun keikhlasan dalam usaha.
Sabar (Kesabaran): Sabar adalah kunci dalam menghadapi ujian dan rintangan dalam hidup. Seorang muslim harus memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan dan ketidakpastian. Dengan bersabar, kita mampu menjaga keseimbangan emosi dan mengambil langkah bijak dalam mengatasi masalah.
Tawadhu' (Kerendahan Hati): Asas ini mengajarkan bahwa tidak ada tempat untuk kesombongan dalam hidup seorang muslim. Kita harus selalu merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia. Tawadhu' membantu kita untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain dan menjauhkan diri dari perasaan superioritas.
Ikhlas (Kesucian Niat): Ikhlas adalah tentang melakukan segala sesuatu hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah, bukan untuk pujian atau pengakuan dari manusia. Asas ini memungkinkan kita untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan memperoleh pahala yang lebih besar dari Allah.
Menerapkan Asas Sifat Terpuji dalam Kehidupan Sehari-hari
Seorang muslim sejati harus mampu menerapkan asas dari sifat terpuji dalam setiap aspek kehidupannya. Dalam pekerjaan, studi, hubungan sosial, dan ibadah, asas-asas ini akan memberikan panduan yang kuat untuk berperilaku dengan integritas dan tulus.
Dalam menghadapi tekanan dalam pekerjaan atau studi, tawakkal dan sabar akan membantu kita menjaga keseimbangan mental dan emosional. Dalam hubungan dengan keluarga, teman, dan kolega, tawadhu' akan membangun ikatan yang lebih kuat dan saling menghormati. Dalam beribadah, ikhlas akan membawa kedamaian dalam hubungan kita dengan Allah.
40 Asas Agama Karya Imam Al-Ghazali
1. 10 Asas Pertama (Aqidah)
10 bagian pertama membahas tentang Aqidah, di antaran yaitu: zat (esensi), taqdits (saintifikasi, qudrat (kuasa), 'ilmu (pengetahuan, iradah (kehendak), sama’ dan bashar (mendengar dan melihat), kalam (firman), af’al (amal/perbuatan), yaumul akhir (eskatologi), dan nubuwah (kenabian).
Bagian pertama ini adalah dasar-dasar untuk diterapkan dalam kehidupan. Semuanya menjelaskan bagaimana manusia diciptakan, untuk apa diciptakan, dan hubungannya dengan Allah serta para nabi dan rasul-Nya.
2. 10 Asas Kedua (Ibadah)
Materi inti meliputi kaidah-kaidah menjadi seorang muslim yaitu tata cara shalat, puasa, zakat, bersedekah, membaca Al-Qur'an, zikir, mencari makanan halal, menjalankan hak-hak Islam, berbuat baik dan nahi munkar, serta menjalankan sunnah. Ini merupakan nasehat untuk beribadah kepada Allah SWT. Bukan hanya rekomendasi, tapi juga bagaimana memenuhi persyaratan selama mengabdi. Nantinya melalui ibadah, Anda akan mendapat pahala yang akan dibawa sebagai kurban di akhirat.
3. 10 Asas Ketiga (Penyucian Hati)
Inilah bab yang menjelaskan cara mensucikan hati agar terhindar dari penyakit liver dan sikap tercela, seperti sering marah, dengki dan dengki, makan berlebihan, sombong, suka berenang, terlalu mencintai dunia, ambisius, banyak bicara, dan masih banyak lagi. Bagian ketiga ini menjelaskan betapa tercelanya sikap di atas. Sikap ini menimbulkan kerugian dan dapat menyulitkan kehidupan. Sebagai manusia, sikap tersebut harus dijauhi agar selalu tenteram dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
4. 10 Bagian Keempat (Akhlak Terpuji)
Bagian terakhir membahas tentang anjuran untuk selalu menjaga akhlak terpuji seperti bertaubat, bertapa, sabar, bersyukur, ikhlas, jujur, tidak terikat, ketabahan, mahabah, ridha terhadap ketetapan Allah, selalu mengingat kematian dan lain-lain. Bagian ini menjelaskan bahwa masyarakat hendaknya mempunyai sikap yang disebutkan di atas. Sikap ini merupakan sikap terpuji yang diridhai Allah SWT. Jika sikap ini diterapkan sejak kecil, Anda akan merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hidup.
Daftar Isi Terjemahan Arbain fi Ushuludin Bab Sifat Terpuji
- Pendahuluan
- Pengenalan Kitab
- Biografi Imam al-Ghazali
- Nama dan keturunannya
- Pendidikannya
- Karya penulisannya
- Muqaddimah Imam al-Ghazali RA
- Perbahasan mengenai Akhlak / Sifat Terpuji
- Asas 1 : Taubat (At-Taubah)
- Asas Ke 2 : Takut (al-Khauf)
- Asas Ke 3: Zuhud (Zuhud)
- Asas Ke 4 : Sabar (As-Sabru)
- Asas Ke 5: Syukur (Asy-Syukru)
- Asas Ke 6: Ikhlas dan Benar (Fi al-Ikhlas wa al-Sidq)
- Asas Ke 7: Tawakkal (Fi al-Tawakkul)
- Asas Ke 8: Kecintaan (Fi al-Mahabbah)
- Asas Ke 9: Redha dgn Ketentuan (Fi al-Redha bl al-Qada’ )
- Asas Ke 10 : Mengingat Mati
- Pembahagian Ketiga : Kerugian pada perkara yang dikasihi.
- Penutup
- Perbahasan Dalam Mengawasi Jiwa
- Rujukan Penterjemah
Mengubah Kehidupan Anda Melalui Asas Sifat Terpuji
Terjemah Arbain fi Ushuludin Bab Penyucian Hati
![]() |
| 10 Asas Penyucian Hati |
Kitab Arbain fi Ushuludin Imam Al-Ghazali
Ibadah tidak hanya sekedar zahir melainkan ada Ibadah Bathin yaitu membersihkan hati atau qalbu seorang muslim, asas yang penting ini mestilah diambil dari sumber-sumber yang penuh autoriti yang jelas dan benar serta dilaksana dengan latihan atau mujahadah disertai penuh ketepatan sesuai ajaran, kerana jika pondasi asasnya goyah maka apa yang berdiri di atasnya yang menjadi cabang juga pasti akan goyah juga.
Membahas masalah ibadah bukan saja melibatkan perkara sah, batal, syarat serta rukun, bahkan perlu mempercantiknya lagi dengan rahsia dan kebersihan hati dan jiwa di balik ibadah tersebut. Buku 10 Asas Penyucian Hati ini telah memaparkan dengan baik rahsia kebersihan hati serta kejernihan jiwa di sebalik ibadah. Gabungan antara ketepatan ibadah zahir kemudian disertai dengan kbersihan hati serta rahsia isi dan bathin ibadah tersebut akan menghasilkan sebuah kesempurnaan ibadah.
Terjemah Arbain fi Ushuludin Imam Al-Ghazali
Kitab Arba’in Fi Ushuliddin ini didalamnya terdapat penjelasan tentang 40 prinsip agama yang berkaitan dengan pembahasan penyucian hati dan rohani, yang dibagi menjadi empat asas bagian. Pertama: 10 asas Aqidah antara lain: Dzat (esensi), taqdis (penyucian atau sanktifikasi), qudrat (kuasa), ilmu (pengetahuan), iradah (kehendak), sama & bashar (mendengar & melihat), kalam (firman), af'al (perbuatan), Yaumul Akhir (eskatologi), nubuwwah (kenabian). Kedua: 10 Asas ibadah lahiriyah antara lain: Shalat, zakat dan sedekah, puasa, haji, qiraat al- Quran, dzikrullah, mencari rezeki halal, menunaikan hak umat islam dan bergaul, amar maruf nahi munkar, mengikuti sunnah. Ketiga: 10 asas dalam upaya pem- bersihan hati dari akhlak tercela, antara lain: Sering makan, banyak bicara, marah, dengki, pelit & cinta harta, ambisius dan cinta pangkat, cinta dunia, sombong, ujub, riya. Keempat: 10 asas akhlak terpuji, antara lain: Taubat, khawf, zuhud, sabar, syukur, ikhlash dan jujur, tawakal, mahabbah, ridha dengan qadha, mengingat mati. Setiap bagian di- tutup dengan khatimah mengenai tematema tersebut.
Daftar Isi Terjemahan Arbain fi Ushuludin Bab Penyucian Hati
- Prakata
- Pengenalan Kitab
- Biografi Imam al-Ghazali
- Muqaddimah Imam al-Ghazali
- Bahagian Ketiga : 10 Asas Penyucian Hati
- Sifat Tercela 1: Makan berlebih-lebihan
- Sifat Tercela 2: Bercakap berlebihan
- Sifat Tercela 3: Marah
- Sifat Tercela 4: Hasad
- Sifat Tercela 5: Bakhil dan mencintai harta
- Sifat Tercela 6: Cinta Kedudukan dan Kemegahan
- Sifat Tercela 7: Cintakan dunia
- Sifat Tercela 8: Sombong
- Sifat Tercela 9: Perihal ‘Ujub
- Sifat Tercela 10: Riya’
- Penutup
- Rujukan
40 Asas Agama Karya Imam Al-Ghazali
1. 10 Asas Pertama (Aqidah)
10 bagian pertama membahas tentang Aqidah, di antaran yaitu: zat (esensi), taqdits (saintifikasi, qudrat (kuasa), 'ilmu (pengetahuan, iradah (kehendak), sama’ dan bashar (mendengar dan melihat), kalam (firman), af’al (amal/perbuatan), yaumul akhir (eskatologi), dan nubuwah (kenabian).
Bagian pertama ini adalah dasar-dasar untuk diterapkan dalam kehidupan. Semuanya menjelaskan bagaimana manusia diciptakan, untuk apa diciptakan, dan hubungannya dengan Allah serta para nabi dan rasul-Nya.
2. 10 Asas Kedua (Ibadah)
Materi inti meliputi kaidah-kaidah menjadi seorang muslim yaitu tata cara shalat, puasa, zakat, bersedekah, membaca Al-Qur'an, zikir, mencari makanan halal, menjalankan hak-hak Islam, berbuat baik dan nahi munkar, serta menjalankan sunnah. Ini merupakan nasehat untuk beribadah kepada Allah SWT. Bukan hanya rekomendasi, tapi juga bagaimana memenuhi persyaratan selama mengabdi. Nantinya melalui ibadah, Anda akan mendapat pahala yang akan dibawa sebagai kurban di akhirat.
3. 10 Asas Ketiga (Penyucian Hati)
Inilah bab yang menjelaskan cara mensucikan hati agar terhindar dari penyakit liver dan sikap tercela, seperti sering marah, dengki dan dengki, makan berlebihan, sombong, suka berenang, terlalu mencintai dunia, ambisius, banyak bicara, dan masih banyak lagi. Bagian ketiga ini menjelaskan betapa tercelanya sikap di atas. Sikap ini menimbulkan kerugian dan dapat menyulitkan kehidupan. Sebagai manusia, sikap tersebut harus dijauhi agar selalu tenteram dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
4. 10 Bagian Keempat (Akhlak Terpuji)
Bagian terakhir membahas tentang anjuran untuk selalu menjaga akhlak terpuji seperti bertaubat, bertapa, sabar, bersyukur, ikhlas, jujur, tidak terikat, ketabahan, mahabah, ridha terhadap ketetapan Allah, selalu mengingat kematian dan lain-lain. Bagian ini menjelaskan bahwa masyarakat hendaknya mempunyai sikap yang disebutkan di atas. Sikap ini merupakan sikap terpuji yang diridhai Allah SWT. Jika sikap ini diterapkan sejak kecil, Anda akan merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hidup.






















