Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Imam Ghazali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imam Ghazali. Tampilkan semua postingan
Mengkaji Ulang Hadis Ihya KH Ma'ruf Khozin

Mengkaji Ulang Hadis Ihya KH Ma'ruf Khozin

Mengkaji Ulang Hadits Ihya
Mengkaji Hadits Hadits Ihya Ulumuddin


Mengkaji Ulang Tuduhan Hadits-Hadits Palsu Kitab Ihya


Tulisan ini adalah sebuah ikhtisar atau paling tidak, sebuah pengantar singkat dari buku yang ditulis Ustadz Ma’ruf Khozin berjudul Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis-hadis Palsu Kitab Ihya’. Sebuah buku yang memuat hal ihwal counter ulang terhadap hadis-hadis yang dituduh sebagai hadis palsu dalam kitab Ihya’ dan dirangkum dari kitab-kitab ulama Huffadz di bidang hadis.

Apa yang terjadi di Indonesia, kebencian terhadap kitab Ihya' Ulumuddin dan penulisnya al-Ghazali digaungkan oleh kelompok Salafi Wahabi yang menuduh secara serampangan bahwa kitab tersebut tidak layak diajarkan dan akan menyebabkan kesesatan umat. Perkataan-perkataan keji dilontarkan oleh para ustadz Salafi Wahabi di berbagai forum, mimbar dan media. Seperti disampaikan Abdul Hakim bin Amir Abdat, di mana ia menuduh bahwa sebagian besar hadits ihya' adalah dhaif dan palsu dan tidak paptut dibaca oleh kaum Muslimin karena akan terjadi penyimpangan akidah. Begitupun Abdullah bin Taslim menulis bahwa kitab Ihya berisi banyak penyimpangan dan kesesatan besar, sehingga orang yang membacanya apalagi mendalaminya tidak akan aman dari kemungkinan terpengaruh dengan kesesatan tersebut, terlebih lagi kesesatan-kesesatan tersebut dibungkus dengan label agama.

Tuduhan-tuduhan keji dari kelompok Salafi Wahabi di Indonesia patut diberikan jawaban lantang! Kehadiran buku karya Kiai Ma'ruf Khozin ini adalah salah satu ikhtiar yang bagus untuk meluruskan tuduhan-tuduhan keji tersebut. Buku ini akan membuka wawasan para pengkaji Ihya maupun pengkritik serta pembenci-nya bahwa sebetulnya hadits di dalam kitab Ihya yang dituduh para ulama Salafi Wahabi sebagai hadits palsu dan tidak memiliki asal-usul yang jelas, ternyata menurut penilaian ulama hadits lainya dinyatakan kejelasan sanad dan riwayatnya. Kiai Ma'ruf Khozin memaparkan secara lugas dengan menghadirkan hadits-hadits Ihya yang dituduh palsu lalu menjawabnya dengan kutipan serta sanggahan dari para ulama ahli Hadits yang menemukan jalur sanad haditsnya.

Membaca tulisan ini setidaknya memberikan pengantar awal bahwa

"التعقيب على الاحاديث التي يحكم بوضعها في كتاب الإمام الغزالي "احياء علوم الدين

Kajian ulang hadis-hadis yang 'dihukumi palsu' dalam kitab Ihya' Ulumiddin.

احياء علوم الدين مدحه كثير من العلماء لكن طعن فيه اخرون لما فيه من ذكر الاحاديث الموضوعة والاحاديث التي لا أصل لها أي بغير سند عدها الإمام السبكي قريبا من نحو ألف حديث

Kitab Ihya' Ulumiddin, dipuji oleh banyak ulama namun ada lainnya yang menghujat karena ada beberapa 'hadis palsu' dan hadis yang tidak ada sanadnya, menurut Imam As-Subki hampir 1000 hadis.

ثم يأتي بعده في تخريج احاديث الإحياء الحافظ العراقي لكنه ربما اورد تخريج الحافظ ابن الجوزي في كتابه الموضوعات ثلاثين حديثا وهو مشهور بتساهله في حكم الوضع . وقد اورد ابن الجوزي عدة احاديث المسند للامام أحمد والسنن الاربعة في الموضوعات حتى تعقبه امير المؤمنين في الحديث الحافظ ابن حجر في كتابه القول المسدد في الذب عن المسند . وكذلك تعقبه الحافظ جلال الدين السيوطي في كتابه القول الحسن في الذب عن السنن

Kemudian datang Al-Hafidz Al-Iraqi dalam men-takhrij kitab Ihya', cuma kadang beliau menyampaikan kutipan Takhrij Ibnu Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhuat, sekitar 30 hadis. Dan Ibnu Jauzi mencantumkan hadis-hadis Musnad Ahmad dan 4 Sunan ke dalam hadis palsu, sehingga dikaji ulang oleh Amirul Mukminin di bidang hadis Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Qaul Musaddad. Dilanjutkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dalam kitabnya Qaul Hasan.

ثم أكمله في كتابه اللألي المصنوعة . وأكد بعده بعض الحفاظ كالحافظ الكناني في تنزيه الشريعة والفتني في تذكرة الموضوعات . من هذه الكتب أخذت ونقلت في تعقيب الاحاديث التي رماه ابن الجوزي بالوضع ، وكذا من كتاب كشف الخفاء للعجلوني والمقاصد الحسنة للحافظ السخاوي ومجمع الزوائد للحافظ الهيثمي

Kemudian, ia sempurnakan dalam La'ali Al-Masnu'ah. Juga diperkuat oleh para Al-Hafidz sesudahnya, seperti Al Kinani dalam Tanzih Asy-Syari'ah dan Al Fatanni dalam Tadzkirah Al-Maudhuat. Dari kitab-kitab inilah saya mengutip dalam mengkaji ulang tuduhan palsu oleh Ibnu Jauzi. Juga dari kitab Kasyf Al-Khafa', Al-Maqashid Al-Hasanah dan Majma' Az-Zawaid.

وقد يوجد في الإحياء احاديث قليلة تعد بالاصابع التي اتفق بعض الحفاظ على وضعه مثل حديث صلاة ليلة الرغائب وحكم بوضعه أيضا مرجح المذهب الشافعي الإمام النووي في المجموع وهو من العلماء الذين مدحوا كتاب الإحياء وقال الإمام النووي كاد الإحياء أن يكون قرآنا أي لكثرة قراءة الناس لهذا الكتاب (كما في تعريف الأحياء بفضائل الإحياء)

Dan kadang ditemukan beberapa hadis palsu yang dapat dihitung dengan jari dan disepakati oleh sebagian ahli hadis sebagai hadis palsu, seperti salat di malam Jumat pertama bulan Rajab. Ulama pentarjih Mazhab Syafi'i, Imam An-Nawawi, yang mengatakan palsu dalam kitab Al-Majmu'. Padahal Imam An-Nawawi tergolong ulama yang memuji Kitab Ihya': "Kitab Ihya' ini hampir saja menjadi Al-Qur'an", yakni karena banyaknya ulama yang membaca Kitab Ihya'.

لكنه لا يجوز لنا الطعن في الإحياء كما قال الشيخ ابو بكر الطرطوشي "لا اعلم كتابا على بسيط الأرض أكثر كذبا من الإحياء" ، فان حكم الوضع في الحديث اجتهادي ربما صححه بعضهم وضعفه ووضعه بعض. وقد وجدت الاحاديث الموضوعة في كتب المتون حتى في كتاب الشيخ ابن تيمية الكلم الطيب .

Namun kita tidak boleh menghujat kitab Ihya' seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Thurthusyi. Kata beliau: "Tidak saya temukan sebuah kitab yang paling banyak dustanya di banding kitab Ihya'". Sebab penilaian palsu bersifat ijtihad. Terkadang satu ulama menilai sahih tapi ulama lain menilai dhaif atau palsu. Hadis-hadis Palsu juga bisa ditemukan di kitab-kitab hadis (Musnad Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah, Thabrani, Baihaqi dan lain-lain). Bahkan kitabnya Ibnu Taimiyah, Al-Kalim Ath-Thayyib juga ada hadis palsunya.

ومن أجل نصرة كتاب الإحياء قال بعض أهل الكشف كما حكي عن سيدي الحبيب عبد الله الحداد ان الإمام الغزالي عرض احاديث الإحياء على النبي صلى الله عليه وسلم وقد وقع مثل هذا في صحيح مسلم عن ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﻣﺴﻬﺮ، ﻗﺎﻝ: «ﺳﻤﻌﺖ ﺃﻧﺎ ﻭﺣﻤﺰﺓ اﻟﺰﻳﺎﺕ ﻣﻦ ﺃﺑﺎﻥ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﻴﺎﺵ ﻧﺤﻮا ﻣﻦ ﺃﻟﻒ ﺣﺪﻳﺚ»، ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻲ: ﻓﻠﻘﻴﺖ ﺣﻤﺰﺓ، ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ «ﺃﻧﻪ ﺭﺃﻯ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ اﻟﻤﻨﺎﻡ، ﻓﻌﺮﺽ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﺳﻤﻊ ﻣﻦ ﺃﺑﺎﻥ، ﻓﻤﺎ ﻋﺮﻑ ﻣﻨﻬﺎ ﺇﻻ ﺷﻴﺌﺎ ﻳﺴﻴﺮا ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻭ ﺳﺘﺔ» .

Untuk membela kitab Ihya' sebagian ulama ahli kasyaf, seperti Sayid Abdullah Al-Haddad, diceritakan bahwa Imam Al-Ghazali sudah mengajukan hadis-hadis tersebut kepada Nabi Muhammad SAW.

Kejadian melaporkan hadis kepada Nabi lewat mimpi ada di dalam Sahih Muslim. Ali bin Mushir mengatakan bahwa dia bersama Hamzah Zayyat menerima 1000 hadis dari Aban bin Abi Ayyasy. Hamzah berkata: "Saya melihat Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam mimpi kemudian mengklarifikasi hadis tersebut. Ternyata Nabi tidak mengenali kecuali sedikit, 5 atau 6 hadis".

وحجة الاسلام الغزالي يقول بامكان رؤية النبي صلى الله عليه وسلم في اليقظة وبعض أدلته اوردته في الفصل قبيل باب تخريج احاديث الإحياء.

Dan Imam Al-Ghazali termasuk ulama yang berpendapat bahwa dimungkinkan berjumpa dengan Nabi dalam keadaan sadar terjaga. Sebagian dalilnya saya uraikan di bab sebelum Bab Takhrij Hadis Kitab Ihya'.

جمعه الفقير الى ربه المهيمن

محمد معروف بن خازن

خويدم مركز اهل السنة والجماعة بجمعية نهضة العلماء جاوى الشرقية ولجنة الافتاء بمجلس العلماء وخريج معهد الفلاح فلاصا كديري الاندونيسي

Penulis: Ustadz Ma’ruf Khozin
Editor: Muhammad Mihrob



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Mengkaji Ulang Tuduhan Hadits-Hadits Palsu Kitab Ihya" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Minhajul Abidin : Jalan Para Ahli Ibadah (Imam Al-Ghazali)

Terjemah Minhajul Abidin : Jalan Para Ahli Ibadah (Imam Al-Ghazali)

Minhajul Abidin

Terjemah Minhajul Abidin Imam Al-Ghazali


Jalan ibadah adalah jalannya para Hamba-Hamba Allah yang telah diberikan karunia dan nikmat abadi walau masih beada di alam Dunia yang fana, Jalan Ibadah adalah jalan yang akan menghantarkan Hamba ke jalan menuju surga yang kekal. Jalan Ibadah amatlah terasa indah, seindah hati para abidin (ahli ibadah) yang dijalankan dengan ikhlas dan ihsan. Inilah jalannya para nabi, para auliya, para shalihin dan mukhlisin.

Tapi, jalan menuju ke surga itu bukanlah jalan yang mudah, bahkan dihiasi oleh sesuatu yang bersebrangan dengan hawa nafsu dan akan susah dilalui oleh hamba-hamba yang mudah tergoda dunia dan lainnya. Berbagai jebakan menghadang, siap menarik seorang hamba ke lubang maksiat, hingga terus menjauh dari tujuan, ibadahnya, Rasulullah saw. bersabda; Ketahuilah, bahwa (jalan menuju) surga itu penuh rintangan dan lika-liku, sedangkan jalan ke neraka itu mudah dan rata.

Melalui kitab yang bernama Minhaajul 'Asbidin ini, karya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, ulama besar di bidang ilmu tasawuf dan fiqih, membagi perjalan seorang ahli ibadah itu dalam tujuh tahapan. Ini adalah risalah bimbingan yang menjadi wasiat terakhirnya bagi umat ini, karena tak lama kemudian sang hujjatul Islam Imam Al-Ghazali ini meninggalkan dunia, menghadap Tuhan yang terus-menerus ia rindukan.

Imam Al-Ghazali memaparkan jalan-jalan penting dalam menjalani Ibadah bagi kita agar selalu waspada terhadap setiap godaan dan jebakan yang ada, dan agar dapat segra keluar bila kita telah masuk ke dalam perangkap itu. Dan manakala seorang hamba mampu.

Terjemahan kitab ini mengajak kita untuk merenungi dan mendalami kesempurnaan dalam beribadah dan mengetahui berbagai tahapan dalam mencapai kesmpurnaan ibadah. Berbagai tahapan yang dimaksud meliputi tujuh hal, yaitu tahapan ilmu dan makrifat, tahapan taubat, mengetahui godaan-godaan ibadah, penghalang-penghalang, pendorong-pendorong, dan perusak-perusak ibadah, serta tahapan pujian dan syukur (al-hamd wa asy-syukr).



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Minhajul Abidin : Jalan Para Ahli Ibadah (Imam Al-Ghazali)" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Hitungan Lailatul Qodar  Menurut Para Ulama

Hitungan Lailatul Qodar Menurut Para Ulama

Kapan Lailatul Qodar

Di antara ulama yang menyatakan bahwa ada kaidah atau hitunagn untuk mengetahui itu adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450 H- 505 H) dan Imam Abul Hasan as Syadzili. Bahkan dinyatakan bahwa Syekh Abu Hasan semenjak baligh selalu mendapatkan Lailatul Qadar dan menyesuaikan dengan kaidah ini.

Kaidah Menandai  Lailatul Qadar di Beberapa Kitab Salafiyah Kuno;
Pertama : Dalam kitab I’anatuththaalibiin juz II halaman 257, cetakan al ‘Alawiyyah Semarang:

قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر،
فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء: فهي ليلة تسع وعشرين.
أو يوم الاثنين: فهي ليلة إحدى وعشرين.
أو يوم الثلاثاء أو الجمعة: فهي ليلة سبع وعشرين.
أو الخميس: فهي ليلة خمس وعشرين.
أو يوم السبت: فهي ليلة ثلاث وعشرين
 قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة

Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadan:

  1. Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu maka lailatul qodar malam ke-29
  2. Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-21
  3. Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka lailatul qodar malam ke-27
  4. Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam ke-25
  5. Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam ke-23

 Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata:
“Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah melesat dengan jadwal atau qaedah tersebut."

Kedua : Dalam kitab Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337, cetakan Daar Ihya al Kutub a ‘Arabiyyah :

فعن أبي الحسن الشاذلي إن كان أوله الأحد فليلة تسع وعشرين ، أو الإثنين فإحدي وعشري أو الثلاثاء فسبع وعشرين أو الأربعاء فتسعة عشر أو الخميس فخمس وعشرين أو الجمعة فسبعة عشر أوالسبت فثلاث وعشرين

Dari Syaih Abi Hasan Asyadzili

  1. Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam ke-29
  2. Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-21
  3. Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam ke-27
  4. Jika awal Ramadhan hari Rabu maka lailatul qodar malam ke-19
  5. Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam ke-25
  6. Jika awal Raamadhan hari Jumat maka lailatul qadar malam ke-17
  7. Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka lailatul qadar malam ke-23

Ketiga : Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 , cetakan Syirkah al Ma’arif Bandung:

وذكرو لذلك ضابطا وقد نظمه بعضهم بقوله
: وإنا جميعا إن نصم يوم جمعة ¤ ففي تاسع العشرين خذ ليلة القدر
وإن كان يوم السبت أول صومنا ¤ فحادي وعشرين اعتمده بلا عذر
. وإن هل يوم الصوم في أحد ففي ¤ سابع العشرين ما رمت فاستقر
. وإن هل بالأثنين فاعلم بأنه ¤ يوافيك نيل الوصل في تاسع العشري
 ويوم الثلاثا إن بدا الشهر فاعتمد ¤ علي خامس العشرين تحظي بها فادر
وفي الإربعا إن هل يا من يرومها ¤ فدونك فاطلب وصلها سابع العشري
ويوم الخميس إن بدا الشهر فاجتهد ¤ توافيك بعد العشرفي ليلة الوتر

Ulama telah membuat Nadzhoman mengenai rumusan Lailatul Qodar

  1. Jika awal Ramadhan hari Jumat maka lailatul qodar malam ke-29
  2. Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam ke-21
  3. Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam ke-27
  4. Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam ke-29
  5. Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam ke-25
  6. Jika awal Raamadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam ke-27
  7. Jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam ke-20

Wallaahu A’lamu Bishshawaab. Semoga bermanfaat.

Terjemahan Kitab Asrar Shaum (Rahasia Puasa) Imam Al-Ghazali

Terjemahan Kitab Asrar Shaum (Rahasia Puasa) Imam Al-Ghazali

Asroru Shaum

Imam Muhammad al-Ghazali, seorang Ulama yang menguasai berbagai macam bidang disiplin Ilmu, memberikan gagasan tentang rahasia puasa. Sebagai seorang ahli fiqh sekaligus ahli tasawuf, Imam Ghazali tidak melulu memandang puasa sebagai ibadah badaniyah. Oleh karena itu, gagasannya tentang rahasia puasa pun menyadarkan kita akan pentingnya menunaikan ibadah puasa secara lahir batin. Berikut ini enam rahasia puasa menurut Imam al Ghazali :

  1. Menundukkan mata dan mencegahnya dari memperluas pandangan ke semua yang dimakruhkan, dan dari apapun yang melalaikan hati untuk berdzikir kepada Allah.
  2. Menjaga lisan dari igauan, dusta, mengumpat, fitnah, mencela, tengkar, dan munafik.
  3. Menahan telinga dari mendengar hal-hal yang dimakruhkan. Karena semua yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Allah menyamakan antara mendengar dan memakan perkara haram,“sammaa’uuna lil kadzibi akkaaluuna lis suht”.
  4. Mencegah bagian tubuh yang lain seperti tangan dan kaki dari tindakan-tindakan dosa, juga mencegah perut dari makan barang syubhat ketika berbuka. Mana mungkin bermakna, orang berpuasa dari makanan halal lalu berbuka dengan makanan haram. Ibaratnya seperti orang yang membangun gedung tetapi menghancurkan kota. Nabi Muhammad pernah bersabda, “Banyak sekali orang yang berpuasa namun yang ia dapat hanya lapar dan haus. Ia adalah orang yang berbuka dengan haram. ”Wa qiila, “Ia yang berpuasa lalu berbuka dengan memakan daging sesama, yaitu dengan ghibah.”
  5. Tidak memperbanyak makan ketika berbuka, mengisi perut dan mulut dengan tidak sewajarnya. Maka, apalah arti puasa jika saat berbuka seseorang mengganti apa yang hilang ketika waktu siang, yaitu makan. Bahkan, justru ketika Ramadhan makanan akan lebih beragam. Apa yang tidak dimakan di bulan-bulan selain Ramadhan malah tersedia saat Ramadhan. Padahal, maksud dan tujuan puasa ialah mengosongkan perut dan menghancurkan syahwat, supaya diri menjadi kuat untuk bertakwa.
  6. Supaya hati setelah berbuka bergoncang antara khouf (takut) dan roja’ (mengharap). Karena, ia tidak tahu apakah puasanya diterima dan ia menjadi orang yang dekat dengan Allah, ataukah puasanya ditolak dan ia menjadi orang yang dibenci. Dan seperti itulah adanya di seluruh ibadah ketika selesai dilaksanakan.

Rahasia-rahasia yang dipaparkan oleh Imam Ghazali ini bisa kita perhatikan baik-baik, di mana puasa bukan hanya tentang perut. Puasa adalah berpuasanya seluruh tubuh, puasanya mata, puasanya kaki, puasanya tangan, puasanya telinga, bahkan hati pun ikut berpuasa. Puasa tidak hanya dipandang secara syariat antara sah dan batal. Karena yang puasanya sah hingga tebenam matahari belum tentu diterima oleh Allah. Melainkan puasa yang menyeluruh dari raga hingga jiwa. Wallahu a’lam bis shawab.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemahan Kitab Asrar Shaum (Rahasia Puasa) Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Rahasia Puasa dan Zakat Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali

Rahasia Puasa dan Zakat Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali

Rahasia Puasa & Zakat

Terjemah Asroru Shiyam wa Zakat | Imam al-Ghazali


Deskripsi:
 
“Betapa banyak orang-orang berpuasa, namun tak memperoleh sesuatu dari puasanya kecuali dahaga dan lapar.” (Hadis Rasulullah Saw.)

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah (mengeluarkan bagian zakatnya), beri tahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang amat pedih. (QS Al-Taubah: 34)

Hadis dan ayat di atas cukup menunjukkan bagi kita betapa pentingnya perintah puasa dan zakat, sekaligus menyiratkan pentingnya memahami keduanya. Tanpa pemahaman yang benar, dikhawatirkan amal ibadah kita menjadi sia-sia.

Banyak buku telah membahas tentang puasa dan zakat, baik dari segi hukum maupun hikmahnya. Buku ini menjadi istimewa karena penulisnya, Al-Ghazali, seorang faqih sekaligus sufi termasyhur, membahasnya dari sudut pandang lahir maupun batin. Tak hanya menguraikan rukun-rukun, sunnah-sunnah, syarat-syarat puasa dan zakat, buku ini membahas pula makna dan nilai batiniah serta niat dan perilaku yang harus menyertai, agar kedua ibadah itu sempurna.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Rahasia Puasa dan Zakat Percikan Ihya Ulum Al-Din oleh Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Kitab Afatul Lisan | Imam Al-Ghazali

Terjemah Kitab Afatul Lisan | Imam Al-Ghazali


Terjemah Kitab Afatul Lisan


Buku ini, terjemahan dari Kitab Afatul Lisan, karya tulis Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, seorang ulama besar yang sudah tidak asing lagi bagi umat Islam. Didalam buku ini, Imam Al-ghazali mengupasa secara mendalam tentang bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh lisan

Banyaknya bahaya itu tiada terhingga. Namun secara garis besar Imam Al-Ghazali mengkualifikasikan bahaya lisan itu menjadi dua puluh macam, sebagaimana yang dituangkan dalam dua puluh pasal yang menjadi pokok bahasan dalam buku ini.

Masing-masing pasal dijelaskan secara mendalam, sehingga dapat diketahui dengan jelas bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh lisan. Dengan demikian, tentunya diharapkan agar ketika seseorang melepas lidahnya dapat menghindari bahaya-bahaya tersebut, sehingga selamat dari bahaya yang membinasakanya

Dibawah ini adalah uraian mengenai afat-afat lisan yang saya kutip dari buku “afaatul lisaan”

1. Berkata yang tidak berguna


Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sebagian dari tanda kebaikan Islamnya seseorang ialah bila ia meninggalkan apa-apa yang tidak diperlukan olehnya”(HR.Turmudzi dan Ibnu Majah)

2. Berlebih-lebihan dalam berkata


Nabi Muhammad SAW bersabda : “Berbahagialah seseorang yang menahan kelebihan dari lidahnya dan membelanjakan apa-apa yang kelebihan dari hartanya” (HR.Baihaqi dan lain-lainnnya)

3. Bercakap-cakap dalam kebathilan


Sebuah hadist menyebutkan : “Sebesar-besar kesalahan seseorang pada hari kiamat ialah yang terbanyak omong kosongnya dalam hal kebathilan” (HR.Ibnu Abiddunya dan Thabrani)

4. Berbantah dan bertengkar lidah


Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
Jangan kamu berbantah-bantah (untuk menjatuhkan dan mempermalukan) dengan saudaramu, jangan kamu bersendagurau dan jangan berjanji padanya dengan suatu janji, lalu kamu menyalahi janji itu (HR. Tirmidzi)

5. Permusuhan


Didalam hadist disebutkan : “orang yang paling dibenci Allah ialah yang sangat suka bertengkar”. (HR.Muslim)

6. Berkata kotor, memaki-maki serta ucapan yang rendah


Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala itu tidak suka kepada orang yang kotor katanya, yang menyebabkan timbulnya kata-kata kotor dari orang lain, juga yang suka bersuara keras di pasar-pasar” (HR.Ibnu Abiddunya dan Thabrani)

7. Mengutuk


Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Orang mukmin itu bukanlah orang pengutuk." (HR. Tirmidzi)

8. Bersenda gurau


Jagalah lidahmu dari perbuatan bersenda gurau yang tercela, baik secara serius ataupun main-main untuk bergurau. Karena perbuatan tersebut dapat merendahkan derajat, menjatuhkan kewibawaan, membuat diri seseorang menjadi asing dan dapat menyakitkan hati. Perbuatan itu merupakan sumber yang dapat menimbulkan permusuhan, kemarahan, pengasingan dan akibatnya dapat menanam benih-benih dendam dalam hati.

9. Menyiar-nyiarkan rahasia


Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Apabila seseorang berbicara suatu pembicaraan, kemudian ia pergi, maka itu adalah amanah." (HR. Ibnu Abid Dunya)


10 Ingkar janji


Allah Ta'ala berfirman
"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu."

11. Dusta


Dusta adalah sumber dosa yang paling berbahaya. Oleh karena itu jika engkau sampai dikenal orang sebagai pendusta, maka hilanglah harga dirimu dan ucapanmu tidak akan dipercaya orang, bahkan orang akan memandangmu dengan penuh kebencian.

12. Memuji diri sendiri


Allah SWT berfirman : “…janganlah engkau mengatakan dirimu suci, Dialah yang mengetahui tentang orang yang bertaqwa”.

13. Suka berbicara


Sesungguhnya semua pekerjaan dari anggota badan itu memberi bekas/pengaruh kepada hati. Dalam hal ini teristimewa mulutlah yang lebih banyak memberi pengaruh, karena setiap kata yang diucapkan oleh mulut itu akan membentuk sebuah gambar dalam hati. Gambar-gambar itu seluruhnya menceritakan semua kalimat yang telah diucapkan oleh mulut. Apabila mulut itu berbuat dosa, maka terbentukah didalam hati gambar yang dusta dan karenanya muka hati itu menjadi hitam dan gelap, sehingga akhirnya banyak omongan itu membawa kepada kematian hati.

14. Mengadu domba


Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
Tidak akan masuk surga, pengadu domba (HR. Ath Tahbrani)

15. Marah



16. Ghibah (mengumpat)


Jagalah lisanmu jangan sampai membuka kejelekan orang lain, karena menurut pandangan islam perbuatan ghibah itu lebih berbahaya daripada tiga puluh kali perbuatan zina, demikian seperti yang telah ditegaskan didalam hadist. Sedang yang dimaksud ghibah adalah menyebutkan/membicarakan keadaan diri orang lain yang apabila didengar orang yang bersangkutan niscaya orang tersebut tidak menyukainya. Perbuatan seperti ini adalah suatu kedzaliman dan merupakan perbuatan ghibah sekalipun apa yang dibicarakan itu benar.

17. Mendoakan jahat terhadap sesama makhluk



ترجمة افات اللسان

DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Kitab Afatul Lisan | Imam Al-Ghazali" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Arbain fi Ushuludin Bab Sifat Terpuji

Terjemah Arbain fi Ushuludin Bab Sifat Terpuji

10 Asas Sifat Terpuji

10 Asas Sifat Terpuji: Terjemah Arbain fi Ushuludin Bab Sifat Terpuji

Apakah Anda merasa ingin meningkatkan kualitas hidup Anda sebagai seorang muslim? Apakah Anda mencari panduan yang kuat untuk mengarahkan langkah-langkah Anda dalam mengembangkan diri dan meraih kebahagiaan yang sejati? Artikel ini akan membahas tentang asas dari sifat terpuji yang memiliki dampak luar biasa bagi seorang muslim dalam perjalanan spiritual dan kehidupan sehari-hari. yang dijelaskan dalam kitab Arbain fi Ushuludin karya Imam AL-Ghazali

Tidakkah Anda pernah merasa bahwa kehidupan sering kali penuh dengan tantangan, kebingungan, dan ketidakpastian? Dalam perjalanan spiritual dan keseharian, seorang muslim dihadapkan pada berbagai ujian dan pilihan. Namun, asas dari sifat terpuji memberikan landasan yang kokoh untuk mengatasi tantangan ini dan menjalani hidup dengan integritas dan kebahagiaan.

Asas Sifat Terpuji: Fondasi Kehidupan Muslim yang Kuat

Tawakkal (Bergantung Sepenuhnya kepada Allah): Asas pertama dari sifat terpuji adalah tawakkal, yaitu kepercayaan sepenuhnya kepada Allah. Seorang muslim harus selalu ingat bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, dan kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh sambil tetap bergantung kepada-Nya. Tawakkal membawa ketenangan dalam menghadapi cobaan dan membangun keikhlasan dalam usaha.

Sabar (Kesabaran): Sabar adalah kunci dalam menghadapi ujian dan rintangan dalam hidup. Seorang muslim harus memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan dan ketidakpastian. Dengan bersabar, kita mampu menjaga keseimbangan emosi dan mengambil langkah bijak dalam mengatasi masalah.

Tawadhu' (Kerendahan Hati): Asas ini mengajarkan bahwa tidak ada tempat untuk kesombongan dalam hidup seorang muslim. Kita harus selalu merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia. Tawadhu' membantu kita untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain dan menjauhkan diri dari perasaan superioritas.

Ikhlas (Kesucian Niat): Ikhlas adalah tentang melakukan segala sesuatu hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah, bukan untuk pujian atau pengakuan dari manusia. Asas ini memungkinkan kita untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan memperoleh pahala yang lebih besar dari Allah.

Menerapkan Asas Sifat Terpuji dalam Kehidupan Sehari-hari

Seorang muslim sejati harus mampu menerapkan asas dari sifat terpuji dalam setiap aspek kehidupannya. Dalam pekerjaan, studi, hubungan sosial, dan ibadah, asas-asas ini akan memberikan panduan yang kuat untuk berperilaku dengan integritas dan tulus.

Dalam menghadapi tekanan dalam pekerjaan atau studi, tawakkal dan sabar akan membantu kita menjaga keseimbangan mental dan emosional. Dalam hubungan dengan keluarga, teman, dan kolega, tawadhu' akan membangun ikatan yang lebih kuat dan saling menghormati. Dalam beribadah, ikhlas akan membawa kedamaian dalam hubungan kita dengan Allah.

40 Asas Agama Karya Imam Al-Ghazali

1. 10 Asas Pertama (Aqidah) 

10 bagian pertama membahas tentang Aqidah, di antaran yaitu: zat (esensi), taqdits (saintifikasi, qudrat (kuasa), 'ilmu (pengetahuan, iradah (kehendak), sama’ dan bashar (mendengar dan melihat), kalam (firman), af’al (amal/perbuatan), yaumul akhir (eskatologi), dan nubuwah (kenabian).

Bagian pertama ini adalah dasar-dasar untuk diterapkan dalam  kehidupan. Semuanya menjelaskan  bagaimana manusia diciptakan, untuk apa diciptakan, dan hubungannya dengan Allah serta para nabi dan rasul-Nya.

2. 10 Asas Kedua (Ibadah)

Materi inti meliputi kaidah-kaidah menjadi seorang muslim yaitu tata cara shalat, puasa, zakat, bersedekah, membaca Al-Qur'an, zikir, mencari makanan halal, menjalankan hak-hak Islam, berbuat baik dan nahi munkar, serta menjalankan sunnah. Ini merupakan nasehat untuk beribadah kepada Allah SWT. Bukan hanya rekomendasi, tapi juga bagaimana memenuhi persyaratan selama mengabdi. Nantinya melalui ibadah, Anda akan mendapat pahala yang akan dibawa sebagai kurban di akhirat.  

3. 10 Asas Ketiga (Penyucian Hati) 

Inilah bab yang menjelaskan cara mensucikan hati agar terhindar dari penyakit liver dan sikap tercela, seperti sering marah, dengki dan dengki, makan berlebihan, sombong, suka berenang, terlalu mencintai dunia, ambisius,  banyak bicara, dan masih banyak lagi. Bagian ketiga ini menjelaskan betapa tercelanya sikap di atas. Sikap ini menimbulkan kerugian dan dapat menyulitkan kehidupan. Sebagai manusia,  sikap tersebut harus dijauhi agar selalu tenteram dan selalu dalam lindungan Allah SWT.  

4. 10 Bagian Keempat (Akhlak Terpuji) 

Bagian terakhir membahas tentang anjuran untuk selalu menjaga akhlak terpuji seperti bertaubat, bertapa, sabar, bersyukur, ikhlas, jujur, tidak terikat, ketabahan, mahabah, ridha terhadap ketetapan Allah, selalu mengingat kematian dan lain-lain. Bagian ini menjelaskan bahwa masyarakat hendaknya mempunyai sikap  yang disebutkan di atas. Sikap ini merupakan sikap terpuji yang diridhai Allah SWT. Jika sikap ini diterapkan sejak kecil, Anda akan merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hidup.

Daftar Isi Terjemahan Arbain fi Ushuludin Bab Sifat Terpuji

  1. Pendahuluan
  2. Pengenalan Kitab
  3. Biografi Imam al-Ghazali
  4. Nama dan keturunannya
  5. Pendidikannya
  6. Karya penulisannya
  7. Muqaddimah Imam al-Ghazali RA
  8. Perbahasan mengenai Akhlak / Sifat Terpuji
  9. Asas 1 : Taubat (At-Taubah)
  10. Asas Ke 2 : Takut (al-Khauf)
  11. Asas Ke 3: Zuhud (Zuhud)
  12. Asas Ke 4 : Sabar (As-Sabru)
  13. Asas Ke 5: Syukur (Asy-Syukru)
  14. Asas Ke 6: Ikhlas dan Benar (Fi al-Ikhlas wa al-Sidq)
  15. Asas Ke 7: Tawakkal (Fi al-Tawakkul)
  16. Asas Ke 8: Kecintaan (Fi al-Mahabbah)
  17. Asas Ke 9: Redha dgn Ketentuan (Fi al-Redha bl al-Qada’ )
  18. Asas Ke 10 : Mengingat Mati
  19. Pembahagian Ketiga : Kerugian pada perkara yang dikasihi.
  20. Penutup
  21. Perbahasan Dalam Mengawasi Jiwa
  22. Rujukan Penterjemah

Mengubah Kehidupan Anda Melalui Asas Sifat Terpuji

Jika Anda berminat untuk mengubah kualitas hidup Anda sebagai seorang muslim, mulailah dengan menerapkan asas dari sifat terpuji dalam setiap langkah Anda. Mari kita tingkatkan tawakkal kita kepada Allah, berlatih kesabaran dalam menghadapi cobaan, merendahkan diri dengan tawadhu', dan memurnikan niat dengan ikhlas. Dengan berpegang pada asas-asas ini, Anda akan mengalami transformasi yang luar biasa dalam hidup Anda sebagai seorang muslim. Tidak ada hal yang lebih berharga daripada meraih keridhaan Allah dan menjalani kehidupan yang penuh makna.


ترجمة اربعين فى اصول الدين

DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Arbain fi Ushuludin Bab Sifat Terpuji" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Arbain fi Ushuludin Bab Penyucian Hati

Terjemah Arbain fi Ushuludin Bab Penyucian Hati

10 Asas Penyucian Hati

Kitab Arbain fi Ushuludin Imam Al-Ghazali

Ibadah tidak hanya sekedar zahir melainkan ada Ibadah Bathin yaitu membersihkan hati atau qalbu seorang muslim, asas yang penting ini mestilah diambil dari sumber-sumber yang penuh autoriti yang jelas dan benar serta dilaksana dengan latihan atau mujahadah disertai penuh ketepatan sesuai ajaran, kerana jika pondasi asasnya goyah maka apa yang berdiri di atasnya yang menjadi cabang juga pasti akan goyah juga.

Membahas masalah ibadah bukan saja melibatkan perkara sah, batal, syarat serta rukun, bahkan perlu mempercantiknya lagi dengan rahsia dan kebersihan hati dan jiwa di balik ibadah tersebut. Buku 10 Asas Penyucian Hati ini telah memaparkan dengan baik rahsia kebersihan hati serta kejernihan jiwa di sebalik ibadah. Gabungan antara ketepatan ibadah zahir kemudian disertai dengan kbersihan hati serta rahsia isi dan bathin ibadah tersebut akan menghasilkan sebuah kesempurnaan ibadah.

Terjemah Arbain fi Ushuludin Imam Al-Ghazali

Kitab Arba’in Fi Ushuliddin ini didalamnya terdapat penjelasan tentang 40 prinsip agama yang berkaitan dengan pembahasan penyucian hati dan rohani, yang dibagi menjadi empat asas bagian. Pertama: 10 asas Aqidah antara lain: Dzat (esensi), taqdis (penyucian atau sanktifikasi), qudrat (kuasa), ilmu (pengetahuan), iradah (kehendak), sama & bashar (mendengar & melihat), kalam (firman), af'al (perbuatan), Yaumul Akhir (eskatologi), nubuwwah (kenabian). Kedua: 10 Asas ibadah lahiriyah antara lain: Shalat, zakat dan sedekah, puasa, haji, qiraat al- Quran, dzikrullah, mencari rezeki halal, menunaikan hak umat islam dan bergaul, amar maruf nahi munkar, mengikuti sunnah. Ketiga: 10 asas dalam upaya pem- bersihan hati dari akhlak tercela, antara lain: Sering makan, banyak bicara, marah, dengki, pelit & cinta harta, ambisius dan cinta pangkat, cinta dunia, sombong, ujub, riya. Keempat: 10 asas akhlak terpuji, antara lain: Taubat, khawf, zuhud, sabar, syukur, ikhlash dan jujur, tawakal, mahabbah, ridha dengan qadha, mengingat mati. Setiap bagian di- tutup dengan khatimah mengenai tematema tersebut.

Daftar Isi Terjemahan Arbain fi Ushuludin Bab Penyucian Hati

  1. Prakata
  2. Pengenalan Kitab
  3. Biografi Imam al-Ghazali
  4. Muqaddimah Imam al-Ghazali
  5. Bahagian Ketiga : 10 Asas Penyucian Hati
  6. Sifat Tercela 1: Makan berlebih-lebihan
  7. Sifat Tercela 2: Bercakap berlebihan
  8. Sifat Tercela 3: Marah
  9. Sifat Tercela 4: Hasad
  10. Sifat Tercela 5: Bakhil dan mencintai harta
  11. Sifat Tercela 6: Cinta Kedudukan dan Kemegahan
  12. Sifat Tercela 7: Cintakan dunia
  13. Sifat Tercela 8: Sombong
  14. Sifat Tercela 9: Perihal ‘Ujub
  15. Sifat Tercela 10: Riya’
  16. Penutup
  17. Rujukan

40 Asas Agama Karya Imam Al-Ghazali

1. 10 Asas Pertama (Aqidah) 

10 bagian pertama membahas tentang Aqidah, di antaran yaitu: zat (esensi), taqdits (saintifikasi, qudrat (kuasa), 'ilmu (pengetahuan, iradah (kehendak), sama’ dan bashar (mendengar dan melihat), kalam (firman), af’al (amal/perbuatan), yaumul akhir (eskatologi), dan nubuwah (kenabian).

Bagian pertama ini adalah dasar-dasar untuk diterapkan dalam  kehidupan. Semuanya menjelaskan  bagaimana manusia diciptakan, untuk apa diciptakan, dan hubungannya dengan Allah serta para nabi dan rasul-Nya.

2. 10 Asas Kedua (Ibadah)

Materi inti meliputi kaidah-kaidah menjadi seorang muslim yaitu tata cara shalat, puasa, zakat, bersedekah, membaca Al-Qur'an, zikir, mencari makanan halal, menjalankan hak-hak Islam, berbuat baik dan nahi munkar, serta menjalankan sunnah. Ini merupakan nasehat untuk beribadah kepada Allah SWT. Bukan hanya rekomendasi, tapi juga bagaimana memenuhi persyaratan selama mengabdi. Nantinya melalui ibadah, Anda akan mendapat pahala yang akan dibawa sebagai kurban di akhirat.  

3. 10 Asas Ketiga (Penyucian Hati) 

Inilah bab yang menjelaskan cara mensucikan hati agar terhindar dari penyakit liver dan sikap tercela, seperti sering marah, dengki dan dengki, makan berlebihan, sombong, suka berenang, terlalu mencintai dunia, ambisius,  banyak bicara, dan masih banyak lagi. Bagian ketiga ini menjelaskan betapa tercelanya sikap di atas. Sikap ini menimbulkan kerugian dan dapat menyulitkan kehidupan. Sebagai manusia,  sikap tersebut harus dijauhi agar selalu tenteram dan selalu dalam lindungan Allah SWT.  

4. 10 Bagian Keempat (Akhlak Terpuji) 

Bagian terakhir membahas tentang anjuran untuk selalu menjaga akhlak terpuji seperti bertaubat, bertapa, sabar, bersyukur, ikhlas, jujur, tidak terikat, ketabahan, mahabah, ridha terhadap ketetapan Allah, selalu mengingat kematian dan lain-lain. Bagian ini menjelaskan bahwa masyarakat hendaknya mempunyai sikap  yang disebutkan di atas. Sikap ini merupakan sikap terpuji yang diridhai Allah SWT. Jika sikap ini diterapkan sejak kecil, Anda akan merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hidup.


ترجمة اربعين فى اصول الدين

DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Arbain fi Ushuludin Bab Penyucian Hati" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik