Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Terjemah Akhlak Lil Banin Juz 3 - Logat Sunda

Terjemah Akhlak Lil Banin Juz 3 - Logat Sunda


Terjemahan Kitab Akhlak Lil Banin Juz 3 - Logat Sunda


Sesuai dengan judul di atas, kami akan membagikan link untuk mengunduh kitab Akhlak Lil Banin versi PDF Jilid/Juz 3, lengkap dengan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab.

Namun sebelum itu, kami akan memaparkan secara singkat profil mengenai kitab Akhlak Lil Banin ini, serta memberikan gambaran tentang beberapa substansi penting yang terkandung di dalamnya. Simak selengkapnya:

Mengenal Kitab Akhlak Lil Banin Juz 3


Akhlak Lil Banin adalah salah satu kitab yang sangat populer di kalangan pelajar Islam, khususnya dalam bidang akhlak, adab, atau etika. Kitab ini disusun dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh para murid.

Pada Akhlak Lil Banin Jilid 1, penulis lebih memfokuskan pembahasannya pada pengenalan dasar-dasar etika atau akhlak. Sedangkan pada Jilid 2, penulis menekankan kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan oleh pelajar. Sementara itu, Akhlak Lil Banin Jilid 3 ini lebih menekankan pada permasalahan adab yang harus dimiliki oleh seorang pelajar, siswa, atau murid.

Di bagian awal Akhlak Lil Banin Jilid 3, penulis memaparkan secara rinci mengenai adab atau etika saat belajar, adab ketika duduk, serta berbagai jenis etika dalam berbicara atau bercakap.

Selain itu, kitab ini juga membahas etika ketika makan, baik saat makan sendirian maupun saat makan bersama-sama, yang dikenal dengan istilah moyoran dalam tradisi pesantren.

Pada bagian pertengahan, Akhlak Lil Banin Jilid 3 menjelaskan dengan detail mengenai adab ketika berkunjung dan meminta izin, adab menjenguk orang sakit, serta adab saat mengalami sakit.

Kitab ini juga mencakup pembahasan tentang adab ketika berziarah ke makam, adab saat menghadapi musibah, adab saat berkunjung untuk mengucapkan selamat, serta adab ketika bepergian.

Di bagian akhir, penulis memaparkan secara terperinci mengenai adab ketika tidur, adab saat bangun tidur, adab saat jam istirahat, dan adab ketika bermusyawarah.


DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Akhlak Lil Banin 3 - Logat Sunda" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Meluruskan Faham Bulan Safar bulan Sial (Kanzun Najah was Surur)

Meluruskan Faham Bulan Safar bulan Sial (Kanzun Najah was Surur)

Bulan Safar Bulan Sial.?

Peringatan penting yang dapat meluruskan banyak kesalahpahaman Bulan Safar


Di muat dan di terjemahkan dari kitab Kitab Kanzun Najah was Surur, Himpunan Doa Karya Syekh Abdul Hamid Kudus

Ketahuilah bahwa telah meriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam kitab Shohih keduanya dari Abi Hurairah ra. dari Nabi SAW beliau bersabda:

لاَعَدْوَى وَلاَ طيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya:"Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah (menganggap sial karena pertanda dari sebuah kejadian ), tidak ada pertanda sial dengan burung hantu dan tidak ada kesialan pada bulan Shafar."

Lalu seorang a'robi (pelosok desa) berkata: "Ya Rasulullah. kenapa ada seekor unta di padang pasir seperti seekor kijang lalu datang unta lainnya yang berkudis hingga unta pertama terkena kudisnya? Maka Rasullulah SAW bersabda:

Siapakah yang membuat unta" فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ ؟ pertama tertular?"

Aku katakan (dan hanya kepada Allah-lah kita mendapat taufiq): "Hadits ini banyak sekali yang meriwayatkannya. Dalam kitab Al - Masyariq karangan Syaikh Shoghoni merumuskan kepada Imam Bukhori

Sebaik - baik ramalan" و خير هَا الْفَأْلُ dari Abi Hurairah: adalah menganggap baik karena adanya ucapan yang baik". Dan dari Imam Bukhori dan Muslim dari Jabir ra.:

لاَعَدْوَى وَلَا طَيَرَةَ وَلَا غَوْلَ

Artinya: "Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah dan tidak ada ghaul yang menyesatkan jalan”. Dan di dalam kitab al-Jami'us shoghir karangan Imam Suyuthi merumuskan kepada musnad Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah ra.

لاَعَدْوَى وَلاَ طَيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَلَا غَوْلَ

Artinya: "Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah, tidak ada pertanda sial dengan burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan shafar dan tidak ada ghaul (syai'tan menyerupai manusia yang menyesatkan jalan)." Dan di dalam kitab Al-Atsar karangan Imam Thahawi dari Rasulullah SAW beliau bersabda:

العيَافَةُ وَالطَّيرَةُ وَالطَّرْقُ مِنَ الْحُبْت

Artinya:"Menerbangkan burung untuk menentukan baiknya dari sebelah kanan atau kiri, thiyarah, dan melempar kan dadu untuk keberuntungan adalah perbuatan syirik ."

Imam Suyuthi merumuskan ini kepada Imam abi Daud

Para ulama (semoga Allah merahmati mereka semua) berkata tentang penafsiran kalimat-kalimat tersebut dengan rinkas:

Arti: Yadalah tidak ada penularan penyakit kepada yang lainnya. Hadits ini menafsirkan keyakinan orang-orang jahiliyah tentang sebagian penyakit yang menurut mereka dapat menulari tanpa menyandarkan kepada Allah S.W.T.

Maka Nabi SAW membatalkan keyakinan mereka dengan sabdanya: "Tidak ada penyakit menular". Oleh karnanya ketika orang a'robi bertanya tentang unta yang sehat dapat terkena penyakit kudis hanya karna berkumpul dengan unta yang berkudis. maka Nabi SAW menjawab:" Siapakah yang dapat menulari unta yang pertama?" maksudnya unta yang pertama terkena kudis bukan dengan tertular melainkan dengan ketentuan dan takdir Allah S.W.T

Banyak sekali hadits-hadits yang pemahamannya agak sedikit rumit oleh kebanyakan orang bahkan sebagian mereka menganggapnya terhapus dengan hadits Nabi SAW: لا عدوى "tidak ada penyakit menular"

Di dalam dua kitab shohih dari Abi Hurairah ra dari Nabi SAW beliau bersabda:

لا يَرِدَنٌ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٌ

Artinya: "janganlah menggiring unta yang berpenyakit kepada unta yang sehat."
Hadits semisal itu juga adalah:

فرّ مِنَ الْمَحْذُوْم فَرَارَكَ مِنَ الْأَسَد

Artinya: "Menghindarlah kamu dari orang yang berpenyakit lepra seperti kamu menghindar dari singa"

Dan Hadits:

إِذَا سَمِعْتُمُ بالطَّاعُونِ في أَرْضِ فَلاَ تَدْخُلُو

Artinya: "Jika kamu mendengar penyakit thaun di suatu daerah maka janganlah kalian masuk." Mengatakan hadits-hadits ini mansyukh/ terhapus maka tidak ada artinya. Karena hadits Nabi SAW yang berbunyi su adalah berupa khobar maka tidak mungkin menghapus tiga hadits Nabi SAW di atas yang berupa nahyi (larangan).

Pendapat yang benar adalah yang disepakati mayoritas ulama yaitu, bahwa tidak ada naskh (penghapusan) dalam hadits di atas.

Makna yang sebenarnya dari hadits 5gy "tidak ada penyakit menular" adalah menafikan apa yang diyakini oleh orang-orang jahiliyah bahwa penyakitpenyakit tadi bisa menulari dengan sendirinya tanpa ada keyakinan takdir Allah SWT tentang hal itu seperti telah kamu ketahui. Dan dibuktikan dengan hadits Nabi siapakah yang menulari unta" فَمَنْ أَعْدَى الأَوَّلَ SAW: pertama?"

Adapun larangan Nabi SAW tentang menggiring unta yang berpenyakit kepada unta yang sehat dan perintah Nabi SAW untuk menghindari dari orang yang kena penyakit lepra juga larangan beliau SAW memasuki daerah berpenyakit thoun adalah usaha menjahui sebab-sebab datangnya musibah atau penyakit apabila berada pada orang yang sehat. Sebagaimana diperintahkan menjaga dirinya jangan sampai tenggelam atau terbakar atau masuk ke dalam gedung yang runtuh dan semisalnya yang sudah biasa yang menyebabkan celaka.

Demikian pula menjauhi kedekatan pada orang yang berpenyakit lepra dan memasuki daerah yang penduduknya terjangkit thoun merupakan usaha menghindar dari sebab-sebab penyakit dan kebinasaan.

Sedangkan Allah-lah yang menciptakan sebab mu-sababnya, tidak ada yang menciptakan dan menentukan selain Allah SWT. Imam Abu Daud telah meriwayatkan bahwasanya Nabi SAW jalan dan melewati tembok yang miring maka Beliau SAW mempercepat langkahnya danbersabda :

اَخَافُ مَوْتَ الْفَوَات

"Aku takut mati mendadak"

Jika engkau bertanya: "Jabir meriwayatkan bahwasanya Nabi SAW makan bersama orang yang terjangkit lepra dan beliau SAW mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ ثقَةً بِاللهِ وَتَوَكَّلاً عَلَيْهِ

Artinya: "Dengan nama Allah,aku percayakan dan pasrahkan kepada-Nya".

Maka apa maksudnya?

Jawabnya adalah Sesungguhnya keadaan Nabi SAW lebih kuat daripada keadaan umatnya. Maka tidak dikhawatirkan apa yang di khawatirkan orang lain dari penyakit menular. Yang di nafikan adalah penularan dengan sendirinya, sedangkan perintah untuk menghindarinya karena Allah SWT memberlakukan kebiasaan adanya penyakit menular ketika berkumpul seperti yang engkau ketahui.

Atau agar tidak menyatu sedikitpun dari taqdir Allah bagi yang berkumpul,sehingga ia menyangka hal itu karena tertular maka ia terjerumus pada pemikiran yang salah. Atau supaya orang yang berpenyakit tidak merasa di kucilkan. Atau alasan-alasan lainnya yang di sebutkan di dalam kitab syarh al-Bukhori. Imam Syanwani menyebutkan kesimpulan semuanya dalam kitab Mukthashor Ibnu Abi Jamrah.

Arti : ولا طيرة adalah menganggap sial karena pertanda dari suatu kejadian apa saja. Asal maknanya adalah menganggap sial karena pertanda dari burung.

Orang-orang jahiliyah dahulu menaruh kepercayaan pada burung. Apabila mereka hendak keluar untuk keperluan,terlebih dahulu mereka melihat burung. Jika burung terbang ke arah kanan mereka menganggapnya baik dan jika terbang ke arah kiri mereka menganggapnya sial dan mengurungkan kepergiannya. Terkadang mereka juga menerbangkan burung untuk menentukan baik dan sial mereka. Maka Nabi SAW melarangnya dan membatalkannya dan beliau SAW bersabda :

وخير هَا الْفَأْلُ

"Dan sebaik-baik hal itu adalah al-Fa'lu yaitu menganggap baik urusan karena mendengar ucapan yang baik."

Contoh seperti orang yang ingin pergi lalu mendengar orang berkata: "Ya salaam, ya salaam" (keselamatan-keselamatan) atau mendengar ucapan orang sakit: "Wahai yang memberi keselamatan, wahai yang memberi kesembuhan."

Oleh karena itu terdapat hadist bahwasanya Nabi SAW tidak pernah menganggap atau meramalkan kesialan dengan suatu kejadian akan tetapi beliau menganggap kebaikan dengan adanya ucapan yang baik. Dahulu Rosullullah SAW apabila keluar untuk keperluan senang mendengar orang yang berucap: "Wahai yang memberi petunjuk."

Konon sebagian orang-orang jahiliyah yang berakal mengingkari anggapan buruk dengan suatu kejadian. Seorang penyair di antara mereka berkata:

لعَمْرُكَ مَا تَدْرِي الضَّوَارِبُ بِالْحَصَى
وَلَا زَاجِرَاتُ الطَّيْرِمَا اللَّه صَانعُ

Artinya: "Sungguh orang-orang yang melempar dadu, dan yang menerbangkan burung tidak mengetahui apa yang akan Allah lakukan."

Konon mereka meramalkan nasib baik dan bu-ruk dengan burung dan menaruh kepercayaan padanya, terkadang ramalan mereka tepat dan benar karena syaitan menghiasi hal itu kepada mereka. Hingga sekarang banyak kaum muslimin yang mengikutinya.

Ibnu Hibban telah mengeluarkan hadist di dalam kitab shohihnya dari hadist Anas yang di marfu'kan bahwasanya Nabi SAW bersabda :

لاَ طَيْرَ وَالطَّيْرُ عَلَى مَنْ تَطَيَّرَ

Artinya: "Tidak ada anggapan sial karna sesuatu, dan kesialan itu bagi orang yang beranggapan sial." Ibnu 'Adi juga mengeluarkan hadist dengan dua sanad dari Abi Hurairah yang di marfu'kan:

إذَا تَطَيَّرْتُمْ فَامْضُوا وَ عَلَى اللَّه فَتَوَكَّلُوا

Artinya: "Apabila kalian beranggapan sial karena sesuatu, maka ber-lalulah dan pasrahkan kepada Allah SWT."

Imam Thobroni mengeluarkan hadist dari Abi Darda yang di marfu'kan:

لاَ يَنَالُ الدَّرَاجَاتِ الْعُلَى مَنْ تَكَهَّنَ أَوِ اسْتَقْسَمَ أَوْ رَجَعَ مِنْ سَفَرٍ تَطَيُّرًا

Artinya:"Tidak akan mencapai derajat yang tinggi orang yang berdukun, atau minta untuk di ramal atau orang yang mengurungkan kepergiannya karena melihat burung."

Faedah:

Imam Baihaqi mengeluarkan hadist dalam kitab asSyu'aib dari hadist Abdullah bin Umar secara mauquf:

مَنْ عَرَضَ لَهُ مِنْ هَذه الطَّيَرَةَ شَيْءٌ فَلْيَقُلْ: اَللَّهُم لاَ طَيْرَ الا طَيْرُكَ وَ لاَخَيْرَ الاَ خَيْرُكَ وَ لا الهَ غَيْرُكَ

Artinya: "Barangsiapa yang muncul dalam betikan hatinya merasa sial karena melihat burung maka ucapkanlah: Ya Allah, tidak ada ramalan baik atau buruk kecuali Engkau telah menentukannya, tidak ada kebaikan kecuali Engkau telah menentukannya dan tidak ada Tuhan selain-Mu."

Abi Daud, Dalam kitab Marosilnya Imam bahwasanya Nabi SAW bersabda: "Seorang hamba tidak jarang terlintas dalam hatinya merasa sial karena suatu kejadian, apabila merasakan hal itu maka ucapkanlah :

أَنَا عَبْدُ اللهِ مَا شَاءَ الله لَاقُوَّةَ الا بالله لا يَأْتي بالْحَسَنَات الا الله وَلاَ يُذْهَبُ السَّيِّئآت الا الله أَشْهَدُ اَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Artinya: "Aku hamba Allah, segala sesuatu atas kehendak Allah, tiada kekuatan melainkan dari Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah, tidak ada yang menghilangkan keburukan kecuali Allah. Aku bersaksi bahwasanya Allah Maha mampu atas segala sesuatu."

Kesimpulan dari hadist-hadist di atas, bahwa barangsiapa yang terlintas dalam hatinya anggapan akan terjadi sial karena sesuatu, maka ucapkanlah :

أنا عَبْدُ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ لَاقُوَّةَ الا بالله. اَللَّهُمَّ لَاَ طَيْرَ الا طَيْرُكَ وَلَا خَيْرَ إِلا خَيْرُكَ وَلَا إِلَه غَيْرُكَ. اللَّهُمْ لاَ يَأْتى بالْحَسَنَات الا الله وَلَا يُذْهَبُ السَّيِّئآت الا اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَلَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

Artinya: "Aku hamba Allah, tidak ada kekuatan melainkan dari Allah. Ya Allah, tidak ada anggapan sial, dan baik semuanya telah Engkau tentukan. Ya Allah tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau Tidak ada yang menghilangkan keburukan kecuali Engkau. Aku bersaksi bahwa Allah Maha mampu atas segala sesuatu. Tidak ada daya-dan upaya melainkan hanyalah dari Allah yang Maha tinggi lagi Maha Agung."

Arti lafadz وَلاَ هَامَةَ, asal artinya adalah kepala. Dạn biasa di artikan burung malam. Inilah yang di maksud. Pendapat lain mengartikan burung hantu. Orang-orang jahiliyah merasa akan bernasib sial apabila ada burung hantu hinggap di atas rumah mereka, muncul perasaan bahwa burung tersebut membawa berita kematian dirinya sendiri atau salah satu anngota keluarganya.

Dari cerita ini dapat di artikan وَلاَ هَامَةَ Tidak ada anggapan sial karena burung hantu.

Ada pendapat ulama lain menceritakan: Konon orang arab menyangka bahwa ruh orang yang terbunuh yang belum di tuntut balasnya akan berubah menjadi burung hantu dan berkata: "Tuntutlah balasku, tuntutlah balasku." Dan akan terbang jika telah di tuntut balasnya.

Dari cerita yang ini dapat di artikan (ولا هامة)Tidak ada kehidupan lagi bagi si mayit dengan menjadi burung hantu". Maka Nabi SAW menafikan itu semua.

Arti lafadzis (لا صفر) tidak ada kesialan dalam bulan shofar" adalah "tidak ada bulan shofar yang di akhirkan dari tempatnya." Hadist ini menolak keyakinan tentang adanya penundaan bulan. konon orang arab menunda bulan muharram dan memasukkannya ke dalam bulan shofar. Dan menjadikan bulan shofar bulan yang di sucikan. Maka Nabi SAW menafikan hal itu.

Yang di maksud adalah bahwa mereka menganggap akan ada sial dengan datangnya bulan shofar.Mereka beranggapan banyak musibah dan fitnah yang akan terjadi di bulan itu. Karena hal ini maka hadits

لا صفر

dapat diartikan “Tidak ada anggapan sial dengan bulan shofar, semua bulan sama dengan bulan-bulan yang lainnya."

Dan arti lafadz وَلاَ غَوْلَ Tidak ada ghul yang menyesatkan jalan." Konon orang arab beranggapan ada jenis syaitan yang menampakkan dirinya kepada manusia yang menyesatkan arah jalan dan membuat celaka. Dari hal ini, maka hadist itu bermakna "Tidak ada wijud syaitan yang dapat menyesatkan orang dari arah jalan


Terjemahan al-Akhlaqu Lil Banat Juz 1 - Logat Sunda

Terjemahan al-Akhlaqu Lil Banat Juz 1 - Logat Sunda

Akhlak Lil Banat

Karya Syaikh Umar bin Achmad Baradja: Pedoman Akhlak untuk Anak Perempuan

Syaikh Umar bin Achmad Baradja adalah seorang ulama terkemuka yang lahir di Kampung Ampel Maghfur, pada 10 Jumadil Akhir 1331 H (17 Mei 1913 M). Beliau wafat pada 16 Rabiul Akhir 1411 H (3 November 1990) di RS Islam Surabaya, pada usia 77 tahun. Karya-karyanya, khususnya dalam bidang pendidikan akhlak, telah menjadi referensi penting bagi generasi Muslim.

Salah satu karya monumental beliau adalah kitab Akhlak Lil Banat. Kitab ini sangat spesial karena dirancang khusus untuk mendidik anak-anak perempuan agar memiliki akhlak yang baik dan beradab. Kitab ini dibagi menjadi beberapa juz, di mana juz pertama memberikan dasar-dasar pembentukan karakter dan akhlak yang baik sejak usia dini.

Secara garis besar, juz pertama dari Akhlak Lil Banat mengajarkan anak-anak perempuan tentang pentingnya mengenal Allah, Nabi, dan malaikat-Nya. Dalam kitab ini, Syaikh Umar menjelaskan bahwa Allah adalah pencipta alam semesta yang harus disembah dan ditaati. Anak-anak diajarkan untuk memahami keesaan Allah dan pentingnya menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Selain itu, kitab ini juga mengajarkan tentang akhlak kepada orang tua. Anak-anak diajarkan untuk selalu menghormati dan mentaati orang tua mereka, karena orang tua adalah orang yang paling berjasa dalam kehidupan mereka. Syaikh Umar memberikan contoh-contoh perilaku yang harus ditunjukkan oleh anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, seperti bagaimana bersikap baik kepada orang tua, guru, teman, dan bahkan terhadap tetangga.

Bagian yang tak kalah penting dalam juz pertama ini adalah ajaran tentang sopan santun dalam berbagai situasi. Anak-anak perempuan diajarkan bagaimana bersikap sopan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, bagaimana menghormati orang yang lebih muda, dan bagaimana menjaga adab dalam pergaulan sehari-hari. Di akhir juz pertama, Syaikh Umar memberikan nasihat khusus yang ditujukan kepada para murid, agar mereka memahami pentingnya menghormati guru dan bersikap baik selama proses belajar.

Kitab Akhlak Lil Banat tidak hanya menjadi panduan bagi para pendidik di pesantren, tetapi juga sangat relevan bagi para orang tua. Syaikh Umar menegaskan pentingnya menanamkan akhlak yang baik pada anak perempuan sejak dini, karena akhlak yang mereka pelajari di masa kecil akan menjadi bekal berharga ketika mereka dewasa. Pendidikan akhlak yang baik akan menjadi fondasi bagi kebahagiaan dan kesuksesan mereka di masa depan.

Untuk orang tua yang anaknya belum bisa membaca bahasa Arab, kitab ini juga tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia. Dengan demikian, para orang tua tetap dapat mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam kitab ini meskipun anak-anak mereka belum fasih dalam bahasa Arab.

Akhlak Lil Banat karya Syaikh Umar bin Achmad Baradja merupakan salah satu kitab yang sangat penting dalam pendidikan akhlak bagi anak perempuan. Kitab ini tidak hanya memberikan tuntunan yang jelas dan praktis, tetapi juga sangat mudah dipahami oleh anak-anak, menjadikannya sebagai salah satu referensi utama dalam pendidikan akhlak di kalangan Muslim.

Nama kitab: Terjemah Al-Akhlaq lil Banin Juz 1
Judul asal dalam teks Arab: الأﺧﻼﻕ ﻟﻠﺒﻨﻴﻦ الجزء الأول لطلاب المدارس الإسلامية بإندونيسيا
Makna: Pelajaran Budi Pekerti Islam untuk Anak Laki-laki Bagian 1
Penulis: Umar bin Ahmad Baraja


Daftar isi:

  1. Dengan apa seorang anak beradab?
  2. Anak yang Santun dan beradab
  3. Anak Yang Buruk Akhlak
  4. Seorang anak wajib beradab sejak dari kecilnya
  5. Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi




DOWNLOAD

Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemahan al-Akhlaqu Lil Banat Juz 1 - Logat Sunda" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Bulan Safar terjemah kanzun najah was surur

Bulan Safar terjemah kanzun najah was surur

Bulan Safar

Amalan yang Dianjurkan di Bulan Shofar


Ketahuilah bahwasannya seperti yang dinukil dari ucapan orang-orang sholeh (akan datang keterangannya) yaitu akan turun di hari rabu terakhir dari bulan shofar bala' yang sangat besar. Musibah-musibah yang terpisah di seluruh tahun akan diturunkan dihari itu.

Maka barangsiapa yang ingin keselamatan dan penjagaan hendaknya berdo'a di hari pertama bulan shofar dan dihari rabu terakhirnya dengan do'a dibawah ini. Barangsiapa yang berdo'a dengannya, Allah akan menolak kejelakan bala tersebut darinya. Demikianlah ku temukan tulisan sebagian orang-orang sholeh.

Do'a dihari pertamanya adalah :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْله، وأَعُوْذُ بِجَلاَلكَ وَجَلاَلِ وَجْهِكَ، وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْسِكَ، أَنْ تُجِيْرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَأَهْلِي وَأَحْبَابِي، وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَهُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هذهِ السَّنَةِ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيْهَا وَاصْرِفَ عَنِّيْ شَرَّ شَهْرٍ صَفَرَ، يَا كَرِيْمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لِي فِي هذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلاَدِي، وَلأَهْلِي، بمَا تُحيْطُهُ شَفَقَهُ قَلْبِي وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَصَلَّى الله تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم

Artinya:" Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya. Aku berlindung dengan Allah dari keburukan zaman dan penduduknya. Aku berlindung dengan keagungan-Mu dan keagungan wajah-Mu dan kesempurnaan keagungan suciMu, selamatkan aku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang kucintai dan kusayangi dari kejelekan yang Engkau putuskan di tahun ini. Hindarkan aku dari kejelekan bulan shofar, wahai yang Maha Mulia pandangan-Nya, akhiri tahun ini untukku dengan keselamatan, afiyat, keberuntungan dan untuk kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku dan orang-orang yang kusayangi juga untuk semua kaum muslimin. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salamNya kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya".

Aku juga menemukan catatan sebagian orangorang sholih "bahwa barangsiapa setiap hari di bulan shofar membaca do'a berikut, maka Alllah SWT akan menjaganya dari penyakit, musibah dan bala' ditahun itu hingga shofar yang akan datang. Inilah do'anya :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبيِّكَ وَرَسُوْلكَ النّبيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آله وَبَارِك وَسَلّم، اَللّهُمَّ إنّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هذَا الشَّهْر وَمِنْ كُلِّ شَدّة وَبَلَاءٍ وَبَلِيَّةٍ قَدَّرْتَهاَ فِيْهِ يَا دَهْرُ يَا مَالِكَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة يَا عَالِماً بِمَا كَانَ وَمَا يَكُونُ وَمَنْ إِذَا اَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ يا أَزَليُّ يَا أَبَدِيُّ يَا مُبْدِىُ يَا مُعِيْدُ يَاذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَام يَا ذَا الْعَرْشِ الْمَجِيد أَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيدُ،

اللّهُمُ احْرُسُ بِعَيْنِكَ نَفْسي وَأَهْلِي وَمَالِي وَوَلَدِي وَدِيْنِي وَدُنْيَايَ الَّتِي ابْتَلَيْتَنِي بِصُحْبَتِهَا بِحُرْمَةِ الأَبْرَارِ وَالأَخْيَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا عَزِيرُ يَا غَفَارُ يَا كَريمُ يَاسَتّارُ برَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمينَ، اللّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِي عَنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا إلهَ إلّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبه وَسَلَّمَ أَجْمَعِيْنَ.

Artinya:" Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah limpahkanlah rahmat, berkah dan salam-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, hambaMu, Nabi-Mu, Rosul-Mu, Nabi yang ummi dan keluarganya. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari keburukan bulan ini, dari kesulitan, bala dan musibah yang Engkau takdirkan di dalamnya, wahai yang Maha Kekal, wahai penguasa dunia dan akhirat. Wahai yang Maha mengetahui yang telah ada dan yang akan ada dan yang apabila menghendaki segala sesuatu la hanya berkata : jadilah, maka terjadilah. Wahai yang Maha Azali, yang Maha Abadi, yang Maha memulai, yang Maha mengembalikan, wahai yang memiliki ke agungan dan kemuliaan, wahai yang memiliki arsy yang Mulia, Engkau melakukan yang Engkau kehendaki.

Ya Allah, jagalah dengan pandangan-Mu diriku, keluargaku, hartaku, anakku, agamaku dan duniaku yang Engkau takdirkan aku di dalamnya dengan kemuliaan orang-orang baik, dengan rahmatMu, wahai yang Maha Mulia, wahai yang Maha Mengampuni, wahai yang Maha Mulia, wahai yang maha menutupi dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih di antara yang pengasih. Ya Allah, yang maha kuat, wahai yang maha mulia, menjadi hina karena kemuliaan-Mu seluruh makhluk-Mu. Cukupkan aku dari semua makhlukMu. Wahai yang Maha berbuat baik, yang Maha Indah, wahai yang Maha dermawan, wahai yang memberikan nikmat, wahai yang maha mulia, wahai yang tiada Tuhan selain Engkau dengan rahmat-Mu wahai yang maha pengasih di antara yang pengasih. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salamNya kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya."

Berkata al-Allamah Syaikh Dairobi di dalam Mujarrobatnya: " Faedah sebagian orang 'arif dari ahli kasyf dan tamkin menyebutkan bahwa akan turun setiap tahunnya 320.000 bala' (tiga ratus dua puluh ribu). Dan semuanya itu akan turun dihari rabu terakhir dari bulan shofar. Maka hari itu merupakan hari yang sangat susah dari hari-hari lain sepanjang tahun. Barangsiapa yang melakukan sholat empat rokaat di hari tersebut di setiap rokaatnya setelah fatihah membaca surat "alkautsar" 17 kali dan al-ikhlas 5 kali dan surat al-falaq dan an-nas masing-masing satu kali setelah selesai salam membaca do'a berikut, maka Allah SWT dengan kedermawanannya akan menjaganya dari semua bala' yang turun dihari itu. Dan tidak akan mendekat padanya satu balapun dari bala - bala tersebut hingga sempurna tahunnya. Inilah do'a yang agung itu :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، اَللّهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالَ يَا عَزِيزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ اكْفِنِي مِنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ يَامُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَامَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اللَّهُم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اكْفنيْ شَرَ هذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِي فَسَيَكْفِيْكَهُمُ الله وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيْمُ، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ ، وَصَلَّى الله تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam-Nya kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya. Wahai dzat yang Maha kuat da perkasa, wahai yang Maha Mulia telah hina karena kemuliaan-Mu seluruh makhluk-Mu. Cukupkan aku dari semua makhluk-Mu, wahai yang Maha berbuat baik, wahai yang Maha Indah, wahai yang Maha member keutamaan, wahai yang Maha member nikmat, wahai yang Maha mulia, wahai yang tiada Tuhan selain Engkau dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih di antara yang Pengasih. Ya Allah, dengan rahasia Hasan dan saudaranya, kakek dan ayahnya lindungi aku dari kejelekan hari ini dan bala yang turun di dalamnya wahai yang maha melindungi. Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. Dan dialah yang maha mendengar lagi maha mengetahui. Dan cukuplah Allah bagi kami sebaik-baik pengurus. Tiada daya dan kekuatan melainkan hanyalah dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam-Nya kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya. Hal ini telahdisebutkanoleh Syaikh Kamil Fariduddin di dalam wiri-wirid Khowwajah Mughniddin seperti yang ada dalam kitab "Jawahirul Khoms".

Syaikh al-Bumi rh berkata di dalam kitab al-Firdaus: "Sesungguhnya Allah SWT menurunkan bala' di hari rabu terakhir dari bulan shofar di antara langit dan bumi lalu malaikat membawanya dan menyerahkan kepada Quthbul Ghouts kemudian ia menyebarkannya kepada alam ini. Tidak ada yang terjadi dari kematian, bala, kesusahan kecuali dari bala' yang disebarkan oleh Quthbul Ghouts tersebut. Maka barangsiapa yang ingin keselamatan dari bala' tersebut hendaknya ia melakukan sholat enam rokaat, membaca fatehah dan ayat kursi di rokaat pertama dan di rokaat kedua membaca surat al-Ikhlas demikian seterusnya. Kemudian membaca sholawat kepada Nabi SAW dengan sholawat apa saja dan berdo'a dengan do'a berikut:

اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنِيْ وَأَنْ تُعَافِيَنِي مِنْ بَلَائِكَ يَا دَافِعَ الْبَلايَا يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ اكْشِفْ عَني مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَصَلَّى الله 
عَلَى سَيِّدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا

Artinya: "Ya Allah, aku memohon dengan namanama-Mu yang baik, dengan kalimat-kalimat-Mu' yang sempurna dan dengan kemuliaan Nabi-Mu Muhammad SAW peliharalah aku dari bala'Mu. Wahai yang menolak segala musibah, wahai yang menghapus kesusahan, wahai yang melenyapkan kesedihan. Hilangkanlah apa yang telah ditulis atasku di tahun ini dari kesusahan dan kesedihan. Sesungguhnya Engkau Maha mampu atas segala sesuatu. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam-Nya kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya."

Sebagian orangsholih menyebutkan: "Sesungguhnya hari rabu terakhir di bulan shofar adalah hari kesengsaraan maka di anjurkan untuk membaca surat yasin, jika telah sampai pada ayat:

سَلَامٌ قَوْلاً مِنْ رَبِّ رَحِيمٍ

Maka diulang-ulanginya sebanyak 313 kali kemudian berdo'a :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَّيِّاتِ وَتَرْفَعُناَ بِهَا أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاتِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ اللَّهُمُ اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya: "Ya Allah, berikanlah sholawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad. Dengan sholawat itu kami diselamatkan dari segala bencana, seluruh hajat tercapai, seluruh kejelekan di bersihkan dari kami. Engkau angkat kami ke derajat yang paling tinggi, dan cita-cita yang paling tinggi berupa semua kebaikan di dalam kehidupan dunia dan setelah mati. Wahai Tuhan seru sekalian alam."

Ya Allah, hindari kami dari kejelekan yang turun dari langit dan yang keluar dari bumi sesungguhnya Engkau Maha mampu atas segala sesuatu. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam-Nya kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya."

Kemudian ia berdo'a untuk kepentingan dunia dan akheratnya dan meminta kepada Allah SWT afiat dan keselamatan.

Faedah:


Di antara khasiat yang mujarrab untuk menolak bala dan terjaga darinya menulis ayat-ayat berikut, meleburnya lalu meminum airnya. Syaikh kita berkata di dalam kitab "Nai'tul Bidayat"; "di riwayatkan barangsiapa yang shalat empat rakaat seperti yang lalu, berdo'a dengan do'a yang lalu itu juga yaitu;

Dan seterusnya .......اللهُمَّ يَا شَديدُ القُوَى Selanjutnya ia menulis ayat-ayat di bawah ini kemudian meleburnya ke dalam air dan meminum airnya, maka ia akan terjaga dari bala yang turun di siang itu hingga sempurna tahunnya.

Inilah ayat-ayatnya :

سَلَامٌ قَوْلاً مِنْ رَبِّ رَحِيمِ. سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ. سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. سَلَامٌ عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ. سَلَامٌ عَلَى إِلْ يَاسِينَ. سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Artinya: "(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam". (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun". (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?". "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya". "Dari setiap urusan". "Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar."

Aku katakan: "riwayat inilah yang telah di amalkan oleh Syaikh kita ra. Dan ini lebih baik karena manfaatnya lebih mengena kepada anak-anak, para wanita, budak, dan semisalnya dari orang-orang yang tidak mampu mengamalkan cara lain sebelumnya."

Amalan yang Dianjurkan di Bulan Safar

Amalan yang Dianjurkan di Bulan Safar


Amalan yang Dianjurkan di Bulan Safar


Ketahuilah bahwa menurut keterangan dari para ulama dan orang-orang saleh, pada hari Rabu terakhir di bulan Safar akan turun bala’ yang sangat besar. Semua musibah yang tersebar sepanjang tahun akan turun pada hari itu. Oleh karena itu, bagi siapa saja yang menginginkan keselamatan dan perlindungan, dianjurkan untuk berdoa pada hari pertama dan hari Rabu terakhir di bulan Safar dengan doa berikut ini. Barangsiapa yang berdoa dengannya, Allah akan menjauhkan bala’ tersebut darinya. Berikut adalah doanya:

Doa Hari Pertama Bulan Safar


بسم الله الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آله وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَعُوْذُ بِالله مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْله ، وأَعُوْذُ بِجَلاَلكَ وَجَلاَلِ وَجْهِكَ ، وَكَمَال جَلال قُدْسِكَ ، أَنْ تُحِيْرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَأَهْلِي وَأَحْبَابِي ، وَمَا تُحيطهُ شَفَقَهُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هذهِ السَّنَةِ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيْهَا وَاصْرِفَ عَيْ شَرَّ شَهْرٍ صَفَرَ، يَا كَرِيْمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لِي فِي هذَا الشَّهْر وَالدَّهْرَ بالسَّلامَة وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلاَدِي، وَلأَهْلِي، بمَا تُحيْطُهُ شَفَقَهُ قَلْبِي وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَصَلَّى الله تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم.

Artinya:

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya. Aku berlindung kepada Allah dari keburukan zaman dan penduduknya. Aku berlindung kepada-Mu dengan keagungan-Mu, keagungan wajah-Mu, dan kesempurnaan keagungan suci-Mu. Lindungilah aku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, dan orang-orang yang kucintai dari keburukan tahun ini. Hindarkan aku dari kejelekan bulan Shofar, wahai yang Maha Mulia pandangan-Nya. Akhiri tahun ini untukku dengan keselamatan, afiat, dan keberuntungan bagi diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, dan semua kaum muslimin. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam-Nya kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya."

Doa Harian di Bulan Safar


Bagi siapa saja yang ingin terhindar dari penyakit, musibah, dan bala di tahun tersebut, dianjurkan untuk membaca doa berikut setiap hari selama bulan Safar:

بسم الله الرّحمن الرّحيم اللهُمْ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد عَبْدِكَ وَنَبيِّكَ وَرَسُوْلكَ النّبيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آله وَبَارِك وَسَلّم، اللهم إنّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّ هذَا الشَّهْر وَمَنْ كُلِّ شَدّة وَبَلاء وَبَلِيَّة قَدْرْتَها فيه يَا دَهْرُ يَا مَالكَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة يَا عَالما بمَا كانَ وَمَا يَكُونُ وَمَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ يا أَزَليُّ يَا أَبَدِي يَا مُبْدِى يَا مُعيدُ يَاذَا الْجَلال وَالإِكْرَام يَا ذَا الْعَرْشِ الْمَجِيد أَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيدُ، اللّهُمُ احْرُسُ بِعَيْنكَ نَفْسي وَأَهْلِي وَمَالِي وَوَلَدِي وَدِيْنِي وَدُنْيَايَ التي ابْتَلَيْتَني بِصُحْبَتهَا بِحُرْمَةِ الأَبْرَار وَالأَخْيَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا عَزِيرُ يَا غَفَارُ يَا كَريمُ يَاسَتّارُ برَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمينَ، اللّهُم يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمَحَالَ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ اكفني عَنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُحَمَّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعمُ يَا مُكَرمُ يَا مَنْ لا إله إلا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبه وَسَلَّمَ أَجْمَعِيْنَ.

Artinya:

"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, limpahkanlah rahmat, berkah, dan salam-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, hamba-Mu, Nabi-Mu, Rasul-Mu, Nabi yang ummi, dan keluarganya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan bulan ini, dari kesulitan, bala, dan musibah yang Engkau takdirkan di dalamnya. Wahai yang Maha Kekal, wahai penguasa dunia dan akhirat. Wahai yang Maha Mengetahui yang telah ada dan yang akan ada, dan yang apabila menghendaki sesuatu, Ia hanya berkata: "Jadilah," maka terjadilah. Wahai yang Maha Azali, yang Maha Abadi, yang Maha Memulai, yang Maha Mengembalikan, wahai yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai yang memiliki arsy yang mulia, Engkau melakukan yang Engkau kehendaki.

Ya Allah, jagalah dengan pandangan-Mu diriku, keluargaku, hartaku, anakku, agamaku, dan duniaku yang Engkau takdirkan aku di dalamnya dengan kemuliaan orang-orang baik, dengan rahmat-Mu, wahai yang Maha Mulia, wahai yang Maha Pengampun, wahai yang Maha Menutupi, dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih di antara yang pengasih. Ya Allah, yang Maha Kuat, wahai yang Maha Mulia, seluruh makhluk-Mu menjadi hina karena kemuliaan-Mu. Cukupkan aku dari semua makhluk-Mu. Wahai yang Maha Berbuat Baik, yang Maha Indah, wahai yang Maha Dermawan, wahai yang Maha Memberi Nikmat, wahai yang Maha Mulia, wahai yang tiada Tuhan selain Engkau. Dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih di antara yang pengasih. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam-Nya kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya."

Amalan Shalat Empat Rakaat pada Hari Rabu Terakhir Bulan Safar


Menurut Al-Allamah Syaikh Dairobi dalam kitab Mujarrobatnya, disebutkan bahwa setiap tahunnya akan turun 320.000 bala’ pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Hari itu dianggap sebagai hari yang paling sulit dalam sepanjang tahun. Bagi siapa saja yang ingin terhindar dari bala’ tersebut, dianjurkan untuk melakukan shalat empat rakaat pada hari tersebut. Pada setiap rakaat setelah Al-Fatihah, bacalah surat Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq 1 kali, dan An-Nas 1 kali. Setelah salam, bacalah doa berikut sebanyak 7 kali:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ، وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

Artinya:

"Allah adalah cukup bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung."

Setelah itu, bacalah doa berikut:

اللهمّ اصرف عَنَّا بَلاَءَ شَهْرِ صَفَرَ بَلاءَ الْعَوَالمَ، يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُولَ الله، يَا سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ يَا أَبَا القَاسِمِ، يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُولَ اللهِ، يَا سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ يَا أَبَا الْقَاسِمِ، يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُولَ اللهِ، يَا سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ يَا أَبَا الْقَاسِمِ، نَجْنَا وَأَهْلِنَا وَأَحْبَابَنَا وَجَمِيعَ المُسْلِمِينَ مِنْ بَلاَءِ شَهْرِ صَفَرَ بَلاءَ الْعَوَالمَ، يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُولَ اللهِ، يَا سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ يَا أَبَا الْقَاسِمِ، يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُولَ اللهِ، يَا سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ يَا أَبَا الْقَاسِمِ، يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُولَ اللهِ، يَا سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ يَا أَبَا الْقَاسِمِ، نَجْنَا وَأَهْلِنَا وَأَحْبَابَنَا وَجَمِيعَ المُسْلِمِينَ مِنْ بَلاَءِ شَهْرِ صَفَرَ بَلاءَ الْعَوَالمَ، يَا الله، يَا رَحْمَن، يَا رَحِيم، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، اللهُمَّ اسْمَع دُعَاءَنا، وَارْحَمْنا بِحُرْمَةِ حَبِيبِكَ وَرَسُوْلكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم.

Artinya:

"Ya Allah, hindarkanlah dari kami bala bulan Shofar, bala alam semesta. Wahai Tuanku, wahai Rasulullah, wahai junjungan kami Nabi Muhammad, wahai Aba Al-Qasim. Wahai Tuanku, wahai Rasulullah, wahai junjungan kami Nabi Muhammad, wahai Aba Al-Qasim. Wahai Tuanku, wahai Rasulullah, wahai junjungan kami Nabi Muhammad, wahai Aba Al-Qasim. Selamatkanlah kami, keluarga kami, orang-orang yang kami cintai, dan seluruh kaum muslimin dari bala bulan Shofar, bala alam semesta. Wahai Tuanku, wahai Rasulullah, wahai junjungan kami Nabi Muhammad, wahai Aba Al-Qasim. Wahai Tuanku, wahai Rasulullah, wahai junjungan kami Nabi Muhammad, wahai Aba Al-Qasim. Wahai Tuanku, wahai Rasulullah, wahai junjungan kami Nabi Muhammad, wahai Aba Al-Qasim. Selamatkanlah kami, keluarga kami, orang-orang yang kami cintai, dan seluruh kaum muslimin dari bala bulan Shofar, bala alam semesta. Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, ya yang Maha Pengasih di antara yang pengasih. Ya Allah, dengarkanlah doa kami dan rahmatilah kami dengan kemuliaan kekasih-Mu dan Rasul-Mu, junjungan kami Nabi Muhammad SAW."

Semoga dengan mengikuti amalan-amalan ini, kita semua dapat terhindar dari segala bala dan mendapatkan perlindungan serta keberkahan di bulan Shofar.

Sabilul Muttaqin Jalan Orang-orang Taqwa Edisi 1

Sabilul Muttaqin Jalan Orang-orang Taqwa Edisi 1

Kitab Sabilul Muttaqin Jilid 1

Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I: Sebuah Upaya Menjaga Keseimbangan dalam Islam


Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I merupakan salah satu upaya signifikan dalam menjaga keseimbangan antara syariat, tariqah, dan realitas kehidupan sehari-hari. Buku ini lahir dari kebutuhan untuk memberikan panduan yang komprehensif dan mendalam tentang berbagai aspek kehidupan Islam, baik dari sisi hukum, spiritualitas, maupun sosial.

Latar Belakang Penulisan Kitab Sabilul Muttaqin


Sebelum penyusunan Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I, kami telah menyelesaikan kompilasi dua buku penting lainnya, yaitu Kitab Fiqh Jawabul Masail Jilid I dan Sabilus Salikin. Kitab Fiqh Jawabul Masail Jilid I berfokus pada berbagai persoalan fiqh, memberikan jawaban dan solusi atas masalah-masalah hukum Islam yang sering dihadapi umat. Sementara itu, Sabilus Salikin membahas secara mendalam tentang tasawuf dan tarekat, memberikan panduan bagi mereka yang ingin mendalami aspek spiritual dan mistis dalam Islam.

Fokus Pembahasan dalam Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I

Dalam Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I, pembahasan lebih difokuskan pada aspek ubudiyah, sosial, dan akhlak secara umum. Kitab ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang berbagai keutamaan terkait ritual ubudiyah dalam Islam, serta bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Ubudiyah: Pembahasan mengenai ubudiyah dalam kitab ini mencakup berbagai ritual ibadah yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Mulai dari shalat, puasa, zakat, hingga haji, semua dibahas dengan rinci agar pembaca dapat memahami dan melaksanakan ibadah dengan benar sesuai tuntunan syariat.
  2. Sosial: Aspek sosial dalam Islam juga mendapatkan perhatian khusus dalam Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I. Buku ini menjelaskan bagaimana seorang muslim harus berinteraksi dengan sesama manusia, baik itu dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan bernegara. Prinsip-prinsip seperti keadilan, kasih sayang, dan tolong-menolong dijelaskan dengan gamblang.
  3. Akhlak: Akhlak yang mulia adalah cerminan dari iman yang kuat. Dalam kitab ini, dibahas secara detail tentang pentingnya memiliki akhlak yang baik, bagaimana cara mengembangkan akhlak mulia, dan contoh-contoh teladan dari kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Akhlak tidak hanya mencakup perilaku terhadap sesama manusia, tetapi juga hubungan dengan Allah SWT.

Keutamaan Ritual Ubudiyah dalam Islam


Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I juga menguraikan berbagai keutamaan dari ritual ubudiyah dalam Islam. Setiap ibadah memiliki keutamaan dan manfaat yang luar biasa, baik dari segi spiritual maupun sosial. Berikut beberapa keutamaan yang dibahas dalam kitab ini:

  1. Shalat: Shalat adalah tiang agama dan merupakan kewajiban utama bagi setiap muslim. Melalui shalat, seorang muslim berkomunikasi langsung dengan Allah SWT, memohon ampunan, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Shalat juga memiliki dampak positif dalam membentuk karakter dan disiplin diri.
  2. Puasa: Puasa di bulan Ramadan adalah salah satu ibadah yang memiliki keutamaan besar. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, puasa juga mengajarkan kesabaran, menahan diri, dan empati terhadap sesama yang kurang beruntung. Puasa juga memiliki manfaat kesehatan yang diakui secara ilmiah.
  3. Zakat: Zakat adalah bentuk kepedulian sosial dalam Islam. Dengan menunaikan zakat, seorang muslim membantu meringankan beban saudara-saudaranya yang membutuhkan. Zakat juga berfungsi sebagai pembersih harta dan jiwa dari sifat kikir dan rakus.
  4. Haji: Ibadah haji adalah puncak dari ritual ubudiyah dalam Islam. Melaksanakan haji ke Baitullah adalah impian setiap muslim. Haji mengajarkan kebersamaan, kesetaraan, dan ketundukan total kepada Allah SWT. Pengalaman haji sering kali menjadi momen spiritual yang mengubah kehidupan seseorang.

Kesimpulan


Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I adalah sebuah karya yang berusaha untuk memberikan panduan komprehensif tentang bagaimana seorang muslim dapat menjalani hidup dengan seimbang antara tuntutan syariat, perjalanan spiritual melalui tariqah, dan realitas kehidupan sehari-hari. Dengan pembahasan yang mendalam tentang ubudiyah, sosial, dan akhlak, kitab ini diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi setiap muslim yang ingin mendalami dan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh.


Dalam konteks kehidupan modern yang penuh tantangan, Kitab Sabilul Muttaqin Jilid I menjadi sebuah cahaya penuntun bagi umat Islam untuk tetap teguh dalam iman, menjalani ibadah dengan benar, dan berakhlak mulia dalam setiap aspek kehidupan. Semoga karya ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi pembacanya dan menjadi ladang pahala bagi penulis dan semua pihak yang terlibat dalam penyusunannya.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Sabilul Muttaqin edisi 1" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Al-Fath al-Mubin fi Thabaqat al-Ushuliyyin

Terjemah Al-Fath al-Mubin fi Thabaqat al-Ushuliyyin

Biografi
Ensiklopedia Ulama Ushul Fiqh

Ensiklopedia Lengkap Ulama Ushul Fiqh Sepanjang Masa


Perjalanan sejarah Islam tidak dapat dilepaskan dari kontribusi tokoh-tokoh berpengaruh, terutama dalam bidang ilmu ushul fiqh. Para tokoh inilah yang merumuskan berbagai hukum Islam yang kemudian diterapkan dalam kehidupan umat Islam di seluruh dunia.

Namun, sungguh disayangkan bahwa sangat sedikit, bahkan nyaris tidak ada, buku yang berhasil menyajikan dan mengupas secara menyeluruh biografi, perkembangan ilmu, serta metode ijtihad para ulama ushul fiqh sepanjang masa. Akibatnya, banyak umat Islam saat ini yang tidak mengetahui asal usul dan siapa saja yang berperan dalam menetapkan hukum-hukum Islam yang mereka ikuti.

Menjawab kebutuhan tersebut, Abdullah Musthafa al-Maraghi telah menyusun sebuah ensiklopedia lengkap mengenai para ulama ushul fiqh sepanjang masa. Buku yang diterjemahkan oleh K.H. Husein Muhammad ini menyajikan informasi yang sangat detail dan berbobot, sehingga sangat cocok dijadikan referensi utama bagi siapa saja yang ingin mempelajari lebih dalam tentang para ulama ushul fiqh dan pemikiran mereka.

Urgensi Biografi Ahli Ushul Fiqh (Ushuliyyin)


Kami berharap dapat menyajikan biografi para ulama ushul fiqh dari generasi ke generasi dan dari berbagai mazhab sebagai cara memperkenalkan dan menghargai keilmuan mereka. Dengan begitu, diharapkan kaum muslimin mengetahui peran-peran mereka dalam mengembangkan hukum Islam.

Pada umumnya, mereka yang berkecimpung dalam kajian ushul fiqh membaca pikiran-pikiran para ahli fiqh itu dan merujuk kepada karya-karya mereka. Akan tetapi, mereka jarang mengetahui nama- nama dan riwayat hidup mereka. Padahal, pengetahuan mengenai hal ini dalam kajian modern menjadi sesuatu yang penting, bukan saja karena memiliki manfaat yang besar, tetapi juga dapat memahami situasi dan konteks sosial di mana para pemikir fiqh tersebut hidup.

Buku-Buku Biografi


As-Suyuthi, dalam bukunya Husn al-Muhadharah, mengatakan bahwa dirinya telah menulis biografi para ahli ushul fiqh (thabaqat al-ushuliyyin). Kami berusaha melacaknya ke beberapa perpustakaan dan menanyakannya kepada para ulama, tetapi kami tidak menemukannya. Kami berharap bahwa buku ini merupakan buku pertama yang khusus mengetengahkan tokoh-tokoh pemikir hukum Islam ini.

Memang benar bahwa telah ada sejumlah buku biografi para ulama tersebut, tetapi umumnya hanya mengkhususkan diri pada satu mazhab, seperti ulama Hanafıyah, Malikiyah, Syafi'iyah, atau Hanabilah. Atau hanya pada bidang tertentu, seperti nahwu, atau sastra prosa maupun puisi. Kebanyakan juga hanya mengetengahkan tokoh sampai dengan kurun (abad) waktu tertentu, misalnya kurun kelima, keenam, kedelapan, atau kesepuluh. Buku ini sengaja kami tulis khusus mengenai tokoh-tokoh pemikir figh (ushuliyyin) sampai dengan abad ke-14 Hijrah, sesuai kemampuan dan pengetahuan kami.

Buku ini tidak hanya akan membicarakan para penulis, namun juga dikemukakan pikiran-pikiran mereka. Kami juga berharap, jika buku semacam ini terbukti belum pernah ada yang menulis, kelak akan ada orang-orang sesudah kami yang dapat menyajikannya secara lebih luas dan lebih lengkap. Kami tidak menganggap buku ini sudah cukup baik dan sempurna, bahkan sangat mungkin terdapat kesalahan dan kekeliruan. Meskipun demikian, kami berharap kepada Allah Swt. agar karya ini merupakan ibadah dan amal yang dapat diterima di sisi-Nya.

Sebelum memasuki uraian tokoh, kiranya perlu lebih dahulu diperkenalkan serba singkat mengenai ushul fiqh. Setelah itu, akan dikemukakan juga mengenai 'ilm al-jadal (ilmu berdebat) dan 'ilm al-khilaf (ilmu berdiskusi), untuk diketahui relevansinya dengan ilmu ushul fiqh.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Al-Fath al-Mubin fi Thabaqat al-Ushuliyyin" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik