Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Terjemah Fathur Rabbani Karya Syekh Abdul Qadir Jaelani

Terjemah Fathur Rabbani Karya Syekh Abdul Qadir Jaelani

Download PDF
Terjemah Fathur Rabbani

Fathur Rabbani Karya Syaikh Abdul Qodir al-Jailani


Agar hati seorang salik terbuka dan mampu menerima cahaya Allah, sangat penting baginya untuk memahami cara membukanya. Kitab ini merupakan kunci untuk membuka hati yang terbelenggu oleh gemerlap dunia yang fana, sehingga dapat terbuka lebar untuk menerima cahaya kebenaran Allah SWT.

Kitab ini ditulis semata-mata untuk mencari keridhaan Allah, dengan tujuan meluaskan sanubari kaum Muslimin. Sesuai dengan keinginan pengarangnya, kitab ini diharapkan mampu memberikan embun penyejuk bagi setiap jiwa, menyucikan hati dan perilaku manusia, serta menafikan keberadaan entitas selain Allah SWT dalam hati setiap hamba.
Pencerahan jiwa, ketulusan kata-kata, dan kekayaan makna akan Anda temukan di dalam buku ini. Ini adalah sebuah mahakarya dari wali Allah, Imam, dan ulama besar Syaikh Abdul Qadir Jailani.

Dengan membaca dan merenungkan buku ini, Anda akan mendapatkan pelajaran berharga tentang nilai-nilai pensucian jiwa. Semoga setelah itu, jiwa Anda menjadi tercerahkan, memperoleh kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan dalam menjalani hidup di dunia.

Buku ini telah diterjemahkan ke banyak bahasa dan telah dibaca oleh jutaan orang di seluruh dunia. Buku ini menjadi pegangan bagi mereka yang ingin hatinya tenang dan damai, serta bagi mereka yang ingin merasakan nikmatnya kebaikan.

Al-Allamah Syekh Abdul Qadir al-Jailani merupakan seorang wali yang telah mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Namanya abadi sebagai jalan yang wajib dilalui para salik untuk sampai kepada Tuhannya, jalan itu bernama tarekat Qadiriyah. Sebuah tarekat yang telah menyebar luas di seluruh dunia dan memiliki banyak pengikut.

Beliau adalah seorang wali Allah yang sangat disegani di kalangan umat Islam sedunia. Banyak karya yang telah beliau tulis semasa hidupnya, mulai dari kitab tasawuf hingga fikih. Kitab ini merupakan salah satu dari sekian banyak karyanya. Di dalamnya, dibahas cara mendekatkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati.

Kelebihan Buku:


  1. Dengan membaca kitab ini, kita mendapatkan cara termudah untuk memahami ajaran Syekh.
  2. Disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
  3. Lengkap dengan contoh dan penerapan praktis.
  4. Penulisnya adalah seorang sufi yang intelektual, menguasai banyak bidang ilmu.
  5. Disertai contoh kasus dan solusinya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah seorang sufi besar Islam yang lahir pada tahun 471 H di daerah Jilan, Kurdistan Selatan. Beliau juga merupakan pendiri Tarekat Qadiriyah, yang pengikutnya tersebar di berbagai belahan dunia Islam. Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah sosok ulama tasawuf yang sangat dihormati, salah satu gelarnya adalah wali kutub.

Nama Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak asing bagi masyarakat Islam di Indonesia, khususnya Ahlussunnah wal Jama’ah. Salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Islam Aswaja adalah manaqiban, yaitu membaca manaqib atau riwayat hidup Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Sebagai seorang ulama besar Islam, Syekh Abdul Qadir al-Jailani memiliki banyak karya di berbagai bidang, salah satunya adalah tafsir. Namun, tidak banyak yang mengkaji karya-karya beliau.

Tafsir Al-Jailani


Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah salah satu ulama tasawuf yang memiliki karya dalam bidang tafsir, yaitu Tafsir al-Jailani. Banyak karya beliau yang hilang atau tidak diketahui keberadaannya, dan salah satunya adalah kitab Tafsir al-Jailani. Menurut para ahli sejarah dan pengkaji tasawuf, Tafsir al-Jailani pernah hilang selama 800 tahun dan kemudian ditemukan oleh cucu ke-25 Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yaitu Syekh Fadhil al-Jailani al-Hasani al-Jimazraq di perpustakaan Vatikan.

Dalam kitab Tafsir al-Jailani, tidak ditemukan alasan yang jelas mengapa Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengarang kitab tafsir tersebut. Namun, berdasarkan keterangan yang ada, beliau menulis kitab-kitabnya karena kekecewaan terhadap keadaan masa ketika beliau hidup, yang penuh dengan kemunafikan dan kesenangan duniawi. Hal ini mendorong beliau untuk hijrah, mengasingkan diri, dan memberikan nasihat-nasihat tasawuf. Mungkin inilah latar belakang beliau menulis kitab-kitabnya, termasuk Tafsir al-Jailani.

Tafsir al-Jailani merupakan kitab tafsir yang menggunakan bentuk al-Iqtirani, yaitu perpaduan antara Tafsir bi al-Matsur dan Tafsir bi al-Ra’yi. Syekh Abdul Qadir al-Jailani memadukan riwayat yang kuat dan sahih dengan hasil ra’yi yang sehat. Terkadang dalam mengemukakan riwayat, baik asbabun nuzul atau hadis yang mendukung, beliau tidak menyebutkan sanad yang lengkap.

Dalam cara menjelaskan atau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menggunakan metode bayani, yaitu penafsiran dengan memberikan keterangan deskriptif tanpa membandingkan riwayat dan memberikan pentarjihan sumber. Beliau juga menggunakan metode ijmaly, yang menafsirkan ayat Al-Qur’an secara global, tidak mendalam, dan tidak panjang lebar.

Tafsir al-Jailani adalah salah satu dari banyak kitab tafsir yang bercorak sufistik. Corak sufistik ini tidak bisa dilepaskan dari pemikiran pengarangnya, yang merupakan salah satu ulama besar dalam dunia tasawuf. Maka, kemungkinan besar corak tafsir isyari (sufi) akan berimplikasi pada penggunaan kitab tafsir ini. Corak tasawuf dalam kitab Tafsir al-Jailani sangat terlihat jelas. Hampir semua ayat yang ditafsirkan selalu dihubungkan dengan ketauhidan, yang menjadi pokok ajaran tasawuf. Selain itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga menuliskan lampiran munajat yang berisi Asma’ul Husna dan syair-syair sufi (Qasidah al-Khomriyah) di jilid akhir kitab Tafsir al-Jailani.

Wallahu a'lam.

Download PDF


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Fathur Rabbani Karya Syekh Abdul Qadir Jaelani" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Kamus Arab Indonesia Al-Azhar

Kamus Arab Indonesia Al-Azhar

Al-Azhar Kamus

Kamus Bahasa Arab Indonesia Al-Azhar


Kamus ini merupakan kamus terbaru yang terlengkap, mudah, dan praktis. Berikut adalah 5 keunggulan Kamus Al-Azhar:TERLENGKAP: Memuat ribuan entri kata Arab sehingga dapat dijadikan rujukan yang elegan dan komprehensif.

  1. MUDAH: Penandaan pada setiap huruf membuat pencarian kata dalam kamus ini menjadi mudah dan cepat.
  2. EKONOMIS: Didesain secara detail dan teliti dengan mempertimbangkan segala aspek, termasuk estetika dan efisiensi biaya, sehingga tidak hanya tampak indah, tetapi juga terjangkau.
  3. PRAKTIS: Kata Arab yang memiliki arti ganda hanya ditulis sekali, memudahkan Anda menemukan makna yang sesuai hanya dalam satu pencarian.
  4. EDUKATIF: Dilengkapi dengan istilah-istilah perbankan syariah, kata-kata mutiara, dan kosa kata terkini.

Buku ini menyajikan terjemahan yang indah didengar, mengalir dengan lancar, dan “layak diterbitkan”, serta meminimalisasi kesalahan. Perbedaan antara bahasa lisan dan tulisan sangat jelas. Bahasa tulisan menuntut penggunaan kata yang ringkas, sederhana, dan mudah dipahami. Yang terpenting adalah bagaimana ide dan gagasan dituangkan, bukan sekadar tampilan fisik huruf demi huruf atau kata demi kata.

Dalam penerjemahan bahasa Arab ke dalam tulisan, tidak perlu satu kata diterjemahkan menjadi satu kata, dua kata diterjemahkan menjadi dua kata, dan seterusnya. Juga, tidak harus awal kata diterjemahkan di awal, tengah kata di tengah, dan akhir kata di akhir. Pendekatan seperti ini lebih cocok untuk terjemahan lisan, yang sering dilakukan sambil belajar bahasa Arab. Sebab, jika diterapkan dalam tulisan, justru dapat membuat maknanya membingungkan. Ada ‘teknik tersendiri’ yang diperlukan agar terjemahan kita ‘tepat sasaran’.

SIAPA PUN Anda, PROFESI APA PUN yang Anda geluti, STUDI APA PUN yang Anda tekuni, PRAKTISI APA PUN yang Anda jalani, selama bersentuhan dengan BAHASA ARAB, berarti Anda harus memiliki RUJUKAN YANG BISA DIANDALKAN. Kami mengerti KESULITAN yang Anda alami. Kami sediakan KAMUS AL-AZHAR sebagai SOLUSI.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Kamus Arab Indonesia Al-Azhar" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini


Terjemah Ahkam Sulthaniyah Imam al-Mawardi

Terjemah Ahkam Sulthaniyah Imam al-Mawardi

Terjemahan
Ahkam Sulthaniyah

Terjemah Kitab Tentang Tata Negara


Al-Ahkam as-Sulthaniyyah merupakan karya monumental yang ditulis oleh al-Mawardi atas permintaan Khalifah al-Qa’im bi Amrillah (422–467 H). Buku ini memuat hukum-hukum yang sangat dibutuhkan oleh para pemimpin, terutama khalifah dan jajarannya. Selain menjadi panduan bagi aparatur pemerintah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, buku ini juga berguna bagi masyarakat untuk mengetahui hak dan kewajiban para pemimpin terhadap mereka. Dengan demikian, masyarakat memiliki pedoman untuk melakukan pengawasan dan keseimbangan. Buku ini terdiri dari dua puluh bab yang membahas berbagai topik, seperti: akad Imamah, pengangkatan Wizarat (pembantu khalifah), bukan wizarat dengan konotasi kementerian seperti dalam sistem demokrasi, pengangkatan Imarah ‘ala al-Bilad (kepala daerah), pengangkatan Imarah ‘ala al-Jihad (panglima perang), dan sebagainya. Termasuk bab tentang penetapan Jizyah dan Kharaj, hukum Ihya’ al-Mawat (menghidupkan tanah mati), eksplorasi air (termasuk tambang), Hima dan Irfaq (proteksi lahan dan kepemilikan umum), hingga Diwan (administrasi), Ahkam al-Jara’im (hukum tindak kriminal), dan Hisbah.

Menariknya, dalam buku ini al-Mawardi sama sekali tidak terpengaruh oleh teori-teori Socrates, Plato, Aristoteles atau filsuf Yunani lainnya. Padahal, pada masa itu pemikiran mereka sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dalam penulisannya, beliau berpijak pada al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’ dan qiyas sebagaimana dalil yang lazim digunakan di kalangan mazhab Syafi’i. Selain itu, beliau juga menjelaskan berbagai pandangan mazhab yang berkaitan dengan sistem pemerintahan Islam ini.

Istimewanya lagi, buku Al-Ahkam as-Sulthaniyyah ini menjadi rujukan penting karena penulisnya adalah seorang mujtahid dan juga pelaku sejarah. Buku ini merupakan tulisan paling awal yang membahas tentang sistem Negara Khilafah sekaligus menjadi dokumen autentik penerapan sistem pemerintahan Islam di dalam Negara Khilafah, pada era Khilafah Abbasiyyah.

Isi Kajian Kitab Ahkam Sulthaniyah


Bagaimana konsep kenegaraan menurut Islam, agama yang ditegaskan oleh Allah Ta’ala sebagai rahmat untuk seluruh alam semesta, agama yang diturunkan sebagai pamungkas dari agama-agama samawi, dan akidah aplikatif yang menghasilkan nidzam (sistem) yang universal dan integral?

Bagaimana ketangguhannya dalam menghadapi perubahan zaman dan pengaruhnya dalam pemerintahan serta rakyat yang menjadi obyek penerapannya?

Apa rahasia ketangguhannya hingga saat ini tetap kokoh dan tidak tergerus, meskipun musuh-musuh Islam telah berusaha merobohkan bangunannya (Daulah Utsmaniyah di Turki) melalui berbagai upaya pada tahun 1924?

Apa kuncinya sehingga orang-orang non-Muslim dahulu merasa nyaman hidup di bawah naungannya? Bagaimana cara penerapannya sehingga negara menjadi stabil, rakyat patuh kepadanya, dan keadilan merata dirasakan oleh semua pihak?

Jika Anda mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Rasulullah SAW, dan hukum-hukum fiqh atau permasalahan yang disepakati oleh para Khalifah Rasyidin serta generasi sesudahnya, maka Anda akan menemukan bahwa Syariat Islam ini sangat kaya dengan prinsip-prinsip sistem politik, sistem moneter, sistem pemerintahan, sistem peradilan, dan aspek-aspek lain yang dibutuhkan oleh sebuah negara.

Untuk mengetahui secara detail sistem politik, sistem moneter, sistem pemerintahan, dan sistem peradilan versi Islam, buku Al-Ahkam as-Sulthaniyyah adalah jawabannya. Buku ini merupakan karya politik pertama dalam Islam yang ditulis oleh seorang pakar tata negara Islam, hakim pada masa Negara Bani Abbasiyyah, imam bagi para pengikut madzhab Imam Syafi’i pada zamannya, ahli fiqh, ahli ushul fiqh, pakar bahasa Arab, dan pakar tafsir, yaitu Imam Al Mawardi Rahimahullah. Seperti diakui oleh Imam Al Mawardi Rahimahullah dalam kata pengantar buku ini, bahwa beliau menulisnya atas instruksi langsung dari khalifah pada saat itu, karena pada masa tersebut belum ada pembukuan konsep kenegaraan Islam yang tersebar di banyak buku-buku fiqh. Oleh karena itu, beliau merangkum konsep-konsep kenegaraan yang ada dalam buku-buku fiqh hingga tersusunlah buku ini untuk menjadi panduan bagi penyelenggaraan negara oleh kepala negara dan seluruh aparatnya.

Untuk pembaca kaum Muslimin, inilah mutiara berharga yang kami hadirkan dengan harapan semoga kehadiran buku ini bisa menjadi titik terang, kesadaran, dan kebangkitan Daulah Islamiyyah. Amiin.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Ahkam Sulthaniyah Imam al-Mawardi" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Syawahid Ibnu Aqil (Syarah Alfiyah Ibnu Malik) Plus Makna Pesantren

Terjemah Syawahid Ibnu Aqil (Syarah Alfiyah Ibnu Malik) Plus Makna Pesantren

Terjemahan Ibnu Aqil
Syawahid Ibnu Aqil

Kitab Syawahid Ibnu Aqil Ala Alfiyah Ibnu Malik


Kitab Alfiyah Ibnu Malik merupakan kitab Ilmu Nahwu yang paling populer di dunia Islam. Karya Ibnu Malik ini mungkin merupakan kitab yang paling banyak dihafal dan diajarkan. Hampir seluruh pesantren mengajarkan kitab ini. Sepertinya, belum lengkap bagi seorang santri jika belum mempelajari kitab Alfiyah.

Dalam penjelasan kitab syarah, seringkali terdapat syair-syair yang berfungsi sebagai penjelas dan penguat (taukid) dari nadzom Alfiyah. Namun, terkadang terdapat syair-syair yang justru berbeda dengan penjelasan mayoritas ulama bahasa. Syair-syair tersebut oleh para santri atau pelajar Islam yang mempelajari kitab Alfiyah dinamakan syawahid Alfiyah.

Syawahid berarti bukti-bukti atau beberapa penjelasan dari nadzom Alfiyah. Dahulu, banyak syawahid yang dihafalkan oleh penulis, meskipun pada masa itu pesantren belum menganjurkan untuk menghafalkan beberapa bukti penjelasan tersebut (syawahid).

Sawahid Ibnu Aqil merupakan kumpulan contoh yang terdapat dalam kitab Ibnu Aqil, salah satu penjabaran dari kitab Alfiyah Ibnu Malik yang sangat dikenal oleh mereka yang mendalami tata bahasa Arab.

Sawahid Ibnu Aqil juga menyajikan contoh-contoh yang tidak sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan, selain contoh-contoh yang sudah sesuai dengan kaidah yang ada.

Kitab ini dilengkapi dengan arti miring (makna gandul dalam bahasa Jawa) dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Alfiyah Ibnu Malik merupakan salah satu kitab Nahwu yang memandu tata bahasa Arab. Contoh-contoh yang disajikan dalam kitab ini, selain berupa prosa, juga banyak yang disajikan dalam bentuk puisi yang unik dan cukup menantang tingkat kesulitannya.

Berdasarkan hal tersebut, dengan izin-Nya kami berupaya membantu memberikan solusi dengan mengumpulkan, memberi makna, dan menerjemahkannya, dengan tetap merujuk pada kitab-kitab Nahwu lainnya sebagai referensi.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Syawahid Ibnu Aqil (Syarah Alfiyah Ibnu Malik) Plus Makna Pesantren" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Assullamul Munauroq | Ilmu Mantiq

Terjemah Assullamul Munauroq | Ilmu Mantiq

Sullam Munauroq
Terjemah Sullam Ilmu Mantiq

Sullam Munauroq Bahasa Arab Indonesia


Kitab-kitab yang sering digunakan sebagai pegangan adalah kitab Nadhom Assullamul Munauroq karya Syaikh Abdur Rohman al-Akhdhory yang hidup sekitar tahun 941 Hijriah. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa pada tahun 1370 H atau 1950 M oleh Khadrotil Walid K.H. Bisyri Mustofa, dan sejak tahun 1373 H atau 1953 M terjemahan tersebut telah tersebar luas, tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa, seperti Lampung dan sebagainya. Tiga tahun setelah terjemahan dalam aksara Pegon Jawa tersebut diterbitkan, kitab ini telah tersebar luas ke seluruh pelosok Indonesia, tidak hanya di pulau Jawa saja. Selanjutnya, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ilmu Mantiq adalah ilmu yang penting dipelajari oleh murid-murid tingkat menengah. Ilmu Mantiq adalah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga dari kesalahan dalam berpikir. Secara lebih jelas, Mantiq adalah sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan terhindar dari cara berpikir yang keliru.

Sebagai makhluk yang berpikir, manusia tidak akan lepas dari kegiatan berpikir. Namun, dalam proses berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subjektivitas, dan faktor lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir dengan jernih, logis, dan objektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, tidak keliru dalam memahami bacaan, perkataan orang, isyarat, fenomena alam, dan sebagainya.

Oleh karena itu, Imam al-Ghazali pernah berkata, "Orang yang tidak mengerti ilmu Mantiq, patut dipertanyakan kualitas keilmuannya."

Akhir-akhir ini banyak sekali anjuran dan permintaan kepada Walidiy agar beliau berkenan menyalin kitab terjemahan tersebut ke bahasa Indonesia. Pada prinsipnya, Walidiy menilai anjuran-anjuran tersebut sebagai anjuran yang sangat baik, tetapi beliau tidak memiliki kesempatan sehingga meminta saya untuk menggarap dan melayani anjuran baik dan mulia itu dengan kesanggupan bahwa beliau akan membantu dan memberikan petunjuk-petunjuk. Dengan bertawakal dan mengharap taufik Ilahi serta kepercayaan akan adanya petunjuk-petunjuk dan bantuan dari Walidiy, maka saya memberanikan diri untuk menyalin terjemahan Sulam Munaroq itu ke dalam bahasa Indonesia.

Semoga kiranya apa yang dapat saya kerjakan dan sajikan ini bermanfaat bagi kita semua.



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Assullamul Munauroq | Ilmu Mantiq" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Terjemah Bustanul Arifin | Imam An Nawawi

Terjemah Bustanul Arifin | Imam An Nawawi


Terjemahan Kitab Terjemah Bustanul Arifin


Kitab Bustanul Arifin ini adalah di antara kitab karangan al-Imam al-Alim al-Allamah Syaikhul Islam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi Rahimahullahu taala atau yang lebih masyhur dengan sebutan al-Imam an-Nawawi. Beliau dilahirkan pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 676 H di Nawa, Hauran, Syria.

Kitab Bustanul Arifin membahas tentang tahsawwuf atau etika, dimana Imam Nawawi menjelaskan tentang hal-hal yang bersifat spiritual. Yang menarik dari buku ini adalah memuat dalil-dalil hadis Nabi Muhammad SAW.

Isi Kitab Bustanul Arifin Imam An Nawawi


Al-Imam an-Nawawi rahimahullah telah memulai kitabnya dengan satu muqaddimah yang menjelaskan hakikat kehidupan dunia yang bersifat sementara dan menekankan pentingnya seseorang untuk mempersiapkan bekal bagi kehidupan abadi di akhirat nanti. Beliau kemudian membahas tentang niat, kepentingannya, dan cara menghadirkannya dalam hati pada setiap bentuk ibadah yang dilakukan. Selanjutnya, beliau menyebutkan beberapa hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang penting sebagai asas-asas agama Islam, dan secara khusus membicarakan tentang ikhlas dan shidq (kejujuran) yang berperan dalam menentukan kadar balasan amalan yang akan diterima oleh seorang hamba di hari akhirat nanti.

Setelah itu, beliau menyampaikan lebih dari 50 ungkapan para ulama yang merupakan kata-kata mutiara yang sangat berharga, yang lahir dari pengalaman mereka dalam mujahadah (perjuangan) dan usaha berkelanjutan untuk menjadi seorang insan yang benar-benar hidup di dunia ini sebagai hamba Allah taala.

Selanjutnya, beliau membahas dengan panjang lebar mengenai karamah (keistimewaan) para wali dan mawahib-mawahib (anugerah) mereka serta berbagai permasalahan terkait karamah. Beliau juga menyebutkan beberapa contoh karamat yang telah terjadi.

Kitab ini tampaknya belum sempat diselesaikan oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullah karena pada manuskrip aslinya, beliau hanya menulis sampai pada Bab Hikayat Karamah Wali-Wali dan hanya sempat menulis beberapa hikayat saja. Beliau berhenti pada bab tersebut di tengah-tengah Hikayat Syeikh Abul Khair at-Tinani rahimahullah. Maka, beliau tidak sempat menyelesaikan kitab ini karena telah dipanggil ke rahmatullah. Oleh karena itu, terjemahan yang kita selenggarakan ini hanya sampai pada bagian yang telah ditulis oleh Imam an-Nawawi rahimahullah, meskipun ada usaha dari beberapa murid beliau untuk menyelesaikan kitab ini dengan merujuk pada tulisan-tulisan Imam an-Nawawi rahimahullah yang ditemukan di berbagai tempat dan dikumpulkan menjadi bagian terakhir dari kitab ini.

Walaupun demikian, kitab ini telah mendapat perhatian dari kalangan ulama karena isinya yang sesuai dengan namanya, yaitu 'Bustanul 'Arifin' yang berarti 'Taman Orang-Orang yang Mengenal Allah Taala'. Kitab ini sangat kaya dengan nasihat dan petunjuk yang tak ternilai harganya, terutama bagi mereka yang berjalan menuju ma'rifatullah yang sejati.

Harapannya, semoga terjemahan ini dapat memudahkan sahabat-sahabat kita dalam mengambil manfaat dari kandungan kitab yang sangat berharga ini. Semoga kitab ini dapat menerangi mereka dalam menelusuri jalan menuju ma'rifatullah yang sangat memerlukan ilmu pengetahuan, mujahadah, dan kesabaran. Semoga Allah taala memberikan pahala kepada penerjemahnya.


Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Terjemah Bustanul Arifin | Imam An Nawawi" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

Mengkaji Ulang Hadis Ihya KH Ma'ruf Khozin

Mengkaji Ulang Hadis Ihya KH Ma'ruf Khozin

Mengkaji Ulang Hadits Ihya
Mengkaji Hadits Hadits Ihya Ulumuddin


Mengkaji Ulang Tuduhan Hadits-Hadits Palsu Kitab Ihya


Tulisan ini adalah sebuah ikhtisar atau paling tidak, sebuah pengantar singkat dari buku yang ditulis Ustadz Ma’ruf Khozin berjudul Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis-hadis Palsu Kitab Ihya’. Sebuah buku yang memuat hal ihwal counter ulang terhadap hadis-hadis yang dituduh sebagai hadis palsu dalam kitab Ihya’ dan dirangkum dari kitab-kitab ulama Huffadz di bidang hadis.

Apa yang terjadi di Indonesia, kebencian terhadap kitab Ihya' Ulumuddin dan penulisnya al-Ghazali digaungkan oleh kelompok Salafi Wahabi yang menuduh secara serampangan bahwa kitab tersebut tidak layak diajarkan dan akan menyebabkan kesesatan umat. Perkataan-perkataan keji dilontarkan oleh para ustadz Salafi Wahabi di berbagai forum, mimbar dan media. Seperti disampaikan Abdul Hakim bin Amir Abdat, di mana ia menuduh bahwa sebagian besar hadits ihya' adalah dhaif dan palsu dan tidak paptut dibaca oleh kaum Muslimin karena akan terjadi penyimpangan akidah. Begitupun Abdullah bin Taslim menulis bahwa kitab Ihya berisi banyak penyimpangan dan kesesatan besar, sehingga orang yang membacanya apalagi mendalaminya tidak akan aman dari kemungkinan terpengaruh dengan kesesatan tersebut, terlebih lagi kesesatan-kesesatan tersebut dibungkus dengan label agama.

Tuduhan-tuduhan keji dari kelompok Salafi Wahabi di Indonesia patut diberikan jawaban lantang! Kehadiran buku karya Kiai Ma'ruf Khozin ini adalah salah satu ikhtiar yang bagus untuk meluruskan tuduhan-tuduhan keji tersebut. Buku ini akan membuka wawasan para pengkaji Ihya maupun pengkritik serta pembenci-nya bahwa sebetulnya hadits di dalam kitab Ihya yang dituduh para ulama Salafi Wahabi sebagai hadits palsu dan tidak memiliki asal-usul yang jelas, ternyata menurut penilaian ulama hadits lainya dinyatakan kejelasan sanad dan riwayatnya. Kiai Ma'ruf Khozin memaparkan secara lugas dengan menghadirkan hadits-hadits Ihya yang dituduh palsu lalu menjawabnya dengan kutipan serta sanggahan dari para ulama ahli Hadits yang menemukan jalur sanad haditsnya.

Membaca tulisan ini setidaknya memberikan pengantar awal bahwa

"التعقيب على الاحاديث التي يحكم بوضعها في كتاب الإمام الغزالي "احياء علوم الدين

Kajian ulang hadis-hadis yang 'dihukumi palsu' dalam kitab Ihya' Ulumiddin.

احياء علوم الدين مدحه كثير من العلماء لكن طعن فيه اخرون لما فيه من ذكر الاحاديث الموضوعة والاحاديث التي لا أصل لها أي بغير سند عدها الإمام السبكي قريبا من نحو ألف حديث

Kitab Ihya' Ulumiddin, dipuji oleh banyak ulama namun ada lainnya yang menghujat karena ada beberapa 'hadis palsu' dan hadis yang tidak ada sanadnya, menurut Imam As-Subki hampir 1000 hadis.

ثم يأتي بعده في تخريج احاديث الإحياء الحافظ العراقي لكنه ربما اورد تخريج الحافظ ابن الجوزي في كتابه الموضوعات ثلاثين حديثا وهو مشهور بتساهله في حكم الوضع . وقد اورد ابن الجوزي عدة احاديث المسند للامام أحمد والسنن الاربعة في الموضوعات حتى تعقبه امير المؤمنين في الحديث الحافظ ابن حجر في كتابه القول المسدد في الذب عن المسند . وكذلك تعقبه الحافظ جلال الدين السيوطي في كتابه القول الحسن في الذب عن السنن

Kemudian datang Al-Hafidz Al-Iraqi dalam men-takhrij kitab Ihya', cuma kadang beliau menyampaikan kutipan Takhrij Ibnu Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhuat, sekitar 30 hadis. Dan Ibnu Jauzi mencantumkan hadis-hadis Musnad Ahmad dan 4 Sunan ke dalam hadis palsu, sehingga dikaji ulang oleh Amirul Mukminin di bidang hadis Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Qaul Musaddad. Dilanjutkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dalam kitabnya Qaul Hasan.

ثم أكمله في كتابه اللألي المصنوعة . وأكد بعده بعض الحفاظ كالحافظ الكناني في تنزيه الشريعة والفتني في تذكرة الموضوعات . من هذه الكتب أخذت ونقلت في تعقيب الاحاديث التي رماه ابن الجوزي بالوضع ، وكذا من كتاب كشف الخفاء للعجلوني والمقاصد الحسنة للحافظ السخاوي ومجمع الزوائد للحافظ الهيثمي

Kemudian, ia sempurnakan dalam La'ali Al-Masnu'ah. Juga diperkuat oleh para Al-Hafidz sesudahnya, seperti Al Kinani dalam Tanzih Asy-Syari'ah dan Al Fatanni dalam Tadzkirah Al-Maudhuat. Dari kitab-kitab inilah saya mengutip dalam mengkaji ulang tuduhan palsu oleh Ibnu Jauzi. Juga dari kitab Kasyf Al-Khafa', Al-Maqashid Al-Hasanah dan Majma' Az-Zawaid.

وقد يوجد في الإحياء احاديث قليلة تعد بالاصابع التي اتفق بعض الحفاظ على وضعه مثل حديث صلاة ليلة الرغائب وحكم بوضعه أيضا مرجح المذهب الشافعي الإمام النووي في المجموع وهو من العلماء الذين مدحوا كتاب الإحياء وقال الإمام النووي كاد الإحياء أن يكون قرآنا أي لكثرة قراءة الناس لهذا الكتاب (كما في تعريف الأحياء بفضائل الإحياء)

Dan kadang ditemukan beberapa hadis palsu yang dapat dihitung dengan jari dan disepakati oleh sebagian ahli hadis sebagai hadis palsu, seperti salat di malam Jumat pertama bulan Rajab. Ulama pentarjih Mazhab Syafi'i, Imam An-Nawawi, yang mengatakan palsu dalam kitab Al-Majmu'. Padahal Imam An-Nawawi tergolong ulama yang memuji Kitab Ihya': "Kitab Ihya' ini hampir saja menjadi Al-Qur'an", yakni karena banyaknya ulama yang membaca Kitab Ihya'.

لكنه لا يجوز لنا الطعن في الإحياء كما قال الشيخ ابو بكر الطرطوشي "لا اعلم كتابا على بسيط الأرض أكثر كذبا من الإحياء" ، فان حكم الوضع في الحديث اجتهادي ربما صححه بعضهم وضعفه ووضعه بعض. وقد وجدت الاحاديث الموضوعة في كتب المتون حتى في كتاب الشيخ ابن تيمية الكلم الطيب .

Namun kita tidak boleh menghujat kitab Ihya' seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Thurthusyi. Kata beliau: "Tidak saya temukan sebuah kitab yang paling banyak dustanya di banding kitab Ihya'". Sebab penilaian palsu bersifat ijtihad. Terkadang satu ulama menilai sahih tapi ulama lain menilai dhaif atau palsu. Hadis-hadis Palsu juga bisa ditemukan di kitab-kitab hadis (Musnad Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah, Thabrani, Baihaqi dan lain-lain). Bahkan kitabnya Ibnu Taimiyah, Al-Kalim Ath-Thayyib juga ada hadis palsunya.

ومن أجل نصرة كتاب الإحياء قال بعض أهل الكشف كما حكي عن سيدي الحبيب عبد الله الحداد ان الإمام الغزالي عرض احاديث الإحياء على النبي صلى الله عليه وسلم وقد وقع مثل هذا في صحيح مسلم عن ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﻣﺴﻬﺮ، ﻗﺎﻝ: «ﺳﻤﻌﺖ ﺃﻧﺎ ﻭﺣﻤﺰﺓ اﻟﺰﻳﺎﺕ ﻣﻦ ﺃﺑﺎﻥ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﻴﺎﺵ ﻧﺤﻮا ﻣﻦ ﺃﻟﻒ ﺣﺪﻳﺚ»، ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻲ: ﻓﻠﻘﻴﺖ ﺣﻤﺰﺓ، ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ «ﺃﻧﻪ ﺭﺃﻯ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ اﻟﻤﻨﺎﻡ، ﻓﻌﺮﺽ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﺳﻤﻊ ﻣﻦ ﺃﺑﺎﻥ، ﻓﻤﺎ ﻋﺮﻑ ﻣﻨﻬﺎ ﺇﻻ ﺷﻴﺌﺎ ﻳﺴﻴﺮا ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻭ ﺳﺘﺔ» .

Untuk membela kitab Ihya' sebagian ulama ahli kasyaf, seperti Sayid Abdullah Al-Haddad, diceritakan bahwa Imam Al-Ghazali sudah mengajukan hadis-hadis tersebut kepada Nabi Muhammad SAW.

Kejadian melaporkan hadis kepada Nabi lewat mimpi ada di dalam Sahih Muslim. Ali bin Mushir mengatakan bahwa dia bersama Hamzah Zayyat menerima 1000 hadis dari Aban bin Abi Ayyasy. Hamzah berkata: "Saya melihat Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam mimpi kemudian mengklarifikasi hadis tersebut. Ternyata Nabi tidak mengenali kecuali sedikit, 5 atau 6 hadis".

وحجة الاسلام الغزالي يقول بامكان رؤية النبي صلى الله عليه وسلم في اليقظة وبعض أدلته اوردته في الفصل قبيل باب تخريج احاديث الإحياء.

Dan Imam Al-Ghazali termasuk ulama yang berpendapat bahwa dimungkinkan berjumpa dengan Nabi dalam keadaan sadar terjaga. Sebagian dalilnya saya uraikan di bab sebelum Bab Takhrij Hadis Kitab Ihya'.

جمعه الفقير الى ربه المهيمن

محمد معروف بن خازن

خويدم مركز اهل السنة والجماعة بجمعية نهضة العلماء جاوى الشرقية ولجنة الافتاء بمجلس العلماء وخريج معهد الفلاح فلاصا كديري الاندونيسي

Penulis: Ustadz Ma’ruf Khozin
Editor: Muhammad Mihrob



Itulah tulisan kami tentang ulasan dan review "Mengkaji Ulang Tuduhan Hadits-Hadits Palsu Kitab Ihya" semoga bermanfaat bagi para pembaca dan jika tulisan ini bermanfaat bagi orang lain silahkan untuk berbagi dengan men SHARE kepada orang lain dan jika ada lebih rezeki silahkan untuk berdonasi untuk perkembangan blog ini

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik